27. Pelukan kakak

924 79 0
                                        

Saat ini Naya, bersama kedua orangtuanya serta Maya adiknya tengah menikmati sarapan bersama. Seenak apapun makanan diluar sana tetap masakan ibunya-lah yang menjadi juara di lidah Naya.

"Kalian hari ini mau ngapain?" Tanya bapak di selah-selah sarapan mereka.

"Gak tau deh Pak, kayaknya di rumah aja," Jawab Naya.

"Maya juga, tumben Bapak nanya kegiatan kami?"

"Kalian gak ngunjungin keponakan kalian?" Keponakan yang dimaksud oleh Bapak tentunya saja anak dari Jaya dan istrinya.

"Gak tau deh Pak, liat bentar deh," Ucap Naya.

"Kalian ini ke sana aja hari ini,  temenin keponakan kalian main," Ucap Ibu Naya.

Setelah Jaya menikah, Naya mulai mengurangi interaksi dengan kakak satu-satunya itu, saat melihat wajah kakaknya luapan rasa kecewanya kembali menyeruak, Kakak yang dulu sangat ia hormati, tempatnya menangis, tempatnya bermanja-manja tiba-tiba menghamili seorang perempuan yang bukan istrinya.

Interaksi Naya dan kakaknya terbilang sangat minim setelah kejadian itu, ia tak mengobrol lagi dengan kakaknya, apalagi tak lama setelah menikah kakaknya memutuskan mandiri dengan mengontrak sebuah rumah, tak lama setelah itu Naya keluar kota untuk kuliah dan terbilang jarang pulang kampung.

Jujur Naya sangat rindu dengan interaksi dengan Jaya dulu. Ia akan selalu menjadi penengah jika Naya dan Maya meributkan sesuatu yang tidak penting.

Naya bahkan tidak pernah menyangka kalo kakaknya yang bijak itu menjelma menjadi seorang bajingan, apa ia tak memikirkan kedua adiknya yang perempuan atau bahkan ibu yang telah melahirkannya?

"Pergi ketemu sama kakak kalian juga, bapak perhatikan hubungan kalian sama Jaya agak renggang. Biarpun Jaya telah menikah ia tetap kakak kalian bahkan Rena--Istri Jaya--juga kakak kalian tapi kalian kayak cuek sama mereka."

"Gak gitu pak, kan tidak lama setelah Jaya menikah mereka pindah, terus Naya kuliah keluar kota, jadi jarang ketemu pak! Belum sempat mengakrabkan diri."

"Makanya Mumpung libur gini kalian kesana, apalagi Maya sudah dua mingguan di sini belum sempat ke sana." Kali ini Ibunya turut bersuara

***

Perjalanan sekitar satu jam dari rumahnya ke rumah Jaya sang kakak ternyata membuatnya kehausan karena matahari yang sedang cerah-cerahnya.

Di depan rumah kakang berdiri sebuah kios tempat print, fotokopi dan menjual ATK sebagai bentuk usaha sang kakak memenuhi kebutuhan hidup anak dan istrinya.

Mereka disambut oleh Rena dan Daffa keponakannya di teras rumah. Sementara kakaknya tampak sibuk melayani beberapa anak sekolahan di kiosnya.

Daffa tampak takut-takut dan bersembunyi di belakang ibunya.

"Ih Daffa itu tante Naya sama Tante Maya, gak boleh gitu," Tegur Rena.

"Halo Daffa tante bawa apa nih buat Daffa!" Naya berusaha mendekati bocah tersebut sambil menyodorkan bungkus cemilan rasa coklat dan benar saja, bocah itu dengan malu-malu maraih bungkusan yang disodorkan Naya.

Setelah Daffa puas bermain-main dengan kedua adik ayahnya Rena mengambil alih putranya yang sepertinya telah mengantuk. Selang beberapa saat Jaya masuk ke ruang tamu menghampiri kedua adik perempuannya.

"Kalian apa kabar?" Tanya Jaya hati-hati.

Canggung. Satu itu yang dipilih Naya untuk mendeskripsikan suasana ruang tamu rumah kakaknya saat ini.

"Baik kak!"jawab Naya dan Maya serempak.

"Kalian baik-baik yah kuliahnya. Cukup gue yang bikin malu keluarga. Kalian berdua harus jadi kebanggaan keluarga. Dan sekali lagi kakak kalian ini minta maaf karena gagal menjaga kehormatan wanita padahal punya dua adik yang sangat-sangat kakak jaga. Tapi malah melakukan tindakan yang sama sekali gak mencerminkan ketakutan kakak kalau seandainya kalian kenapa-kenapa."

Naya dan Maya terdiam bingung mau merespon bagaimana.

"Kakak takut suatu saat kalian bertemu dengan laki-laki brengsek seperti kakak, takut banget. Tapi kakak yakin kalian bisa jaga diri baik-baik. Maaf sudah mengecewakan kalian, rasanya kakak udah gak punya muka lagi ketemu kalian, gak pantes jadi kakak yang punya dua adik perempuan seperti kalian."

Naya dan Maya masih belum menanggapi perkataan kakaknya, mereka malah menunduk menyeka air mata yang entah sejak kapan membasahi pipi keduanya.

"Kak, kami bukannya benci sama kakak. Kami hanya kecewa kak. Kakak yang kami bangga-banggakan ternyata gak semembanggakan itu," Ucapan Naya barusan membuat kakaknya terdiam sesaat.

"Bahkan kalo kalian benci sekalipun gue pantes dapetin itu. Maaf bikin kalian kecewa."

"Kak, Naya rindu kakak yang sering julitin kami kalo mandi pagi-pagi pas hari libur, kami rindu kakak yang rela mepet ke setir motor kalo kakak boncengin kami berdua sekaligus saat pulang sekolah. Kami rindu kakak rame, ribut dan sering jitakin kepala kami. Maya sama Naya kesini karena rindu kak Jaya. Kakak hampir gak pernah nelpon kami kan? Padahal dulu rajin banget neror kami kalo lagi diluar. Sekarang? Kami tinggal jauh dari bapak ibu tapi kakak gak pernah nelpon sekedar nanyain kabar kami. Kakak sadar gak sih kalo sekarang kakak kayak orang asing bagi kami? Ketemu hanya sesekali itu pun jarang ngobrol. Padahal dulu kakak yang paling rajin cerewetin kami sekarang..." Cukup. Naya sudah tidak sanggup melanjutkan kalimatnya yang kini tenggelam oleh isakan.

"

Nay, kakak malu, setiap kalian melihat kakak sorot kecewa mata kalian membuat kakak mundur dan merasa gak pantas bahkan untuk sekedar menyapa kalian."

"Kak kami memang kecewa tapi perlahan-lahan mungkin kami bisa menerima. Kami rindu kakak!" Tangis yang sedari tadi mati-matian ditahan Jaya akhirnya luruh juga mendengar penuturan singkat Maya.

Jaya mendongak ke langit-langit ruang tamu rumahnya menatap cicak yang tengah berkejaran di atas sana sembari berusaha membendung air matanya.

"Kakak boleh meluk kalian?" Lirih jaya.

Tanpa butuh waktu lama Naya dan Maya menghambur ke pelukan kakaknya. Jaya mengusap pelan kedua punggung adiknya.

"Maafin kakak, dan terima kasih mau berusaha menerima kakak lagi," Bisik jaya.

Ketiganya berpelukan erat menumpahkan segala macam emosi yang bertahun-tahun hanya tinggal menyesakkan dada. Pelukan itu perlahan membuat sesuatu menyesakkan diantara ketiganya perlahan mulai luruh seiring dengan airmata yang masih belum berhenti mengalir.

"Kalian harus bahagia, bertemu laki-laki yang menghargai kalian. Kakak yakin kalian pasti bisa membedakan mana yang baik dan buruk tidak seperti kakak yang brengsek..."

"Kak bisa gak sih kak berhenti nyalain diri sendiri? Sekarang kita lupain yang lalu kak. Kalo terus diungkit gimana bisa rasa kecewa kami hilang" gerutu Naya yang memulai mengelap air matanya dengan ujung jilbab.

"Jorok banget deh Nay. Masak ngelap ingus pake jilbab?" Maya bergidik geli melihat kebiasaan kakaknya ketika menangis.

"Lo dapet tisu dimana May?"

"Tuh di meja ada!" Tunjuk Maya.

Jaya mengamati interaksi kedua adiknya. Interaksi yang sangat ia rindukan ia akan betah berlama-lama mengamati perdebatan kedua adiknya dan akan menjadi wasit ketika perdebatan itu menjadi pertengkaran.

Lowkey Something [Tamat & Lengkap]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang