"kau_kau ini CEO aditya group kan?" tebak pria paru baya itu.
"hahhh!! iya iya, ada apa gerangan tuan revan datang kesini?" tanya pria itu sok sopan, revan memutar kan kedua bola matanya.
"apa ini anak anda?" tanya nya tegas.
"bukan tuan! dia bukan anak saya, melainkan dia anak pembantu, heii anak pembantu melakukan kesalahan apa kau, sehingga tuan revan membawa mu kesini!" revan jijik sekali dengan keluarga penjilat seperti ini.
"ayah? anka ini anak ayah!!"
haduh anak ini pasti berbuat salah besar dengan tuan revan sehingga ia membwa anak ini pulang, demi perusahaan ku aku tak mau menganggap nya anak ku pikir pria itu.
"kau lupa?" tanya revan tiba-tiba.
"aku bisa membaca bahkan mendengar pikiran seseorang" seketika wjah sok polos pria itu memucat.
"maaf nak revan, sebelumnya kenalkan dulu saya ini Maira istri nya geovani dan tante ini kerabat mamah kamu lho, tante satu arisan dengan jeng Sandra" ini lagi sok kenal benget sih. pikir revan
"oh iya, aku alka teman nya Reyna adik nya kak revan"
"jadi lo abang nya regan?gua temen nya regan satu geng hehe"
satu keluarga sama saja semua penjilat, aku harus menjauhkan anka dari keluarga seperti ini batin revan
"ayo anka!" tegas revan menarik anka ke dalam mobil mewah nya, karena sudah terlalu lemas ia mendadak pingsan di tempat, untung saja dengan cepat revan menarik anka, lalu menggendong nya ke dalam mobil lalu berjalan lagi ke arah keluarga penjilat itu.
"tuan mengapa tuan membawa anak pembantu itu?"
"gadis yang kau bilang anak pembantu itu! adalah calon istri ku!"
deg!
"HAH?" mereka berempat tercengang mendengar penuturan dari revan
"kenapa? kau ingin bilang kalau anka itu anak mu?"
"i_iyah anka anak saya tuan"
"cih.saya tidak sudi memiliki mertua penjilat macam kau!" setelah itu ia pergi masuk ke dalam mobil dan mengendarai nya dengan kecepatan tinggi.
....
"bagaimana keadaan ny"
"nona anka tidak apa-apa dia hanya syok berat, dan saya sudah memberikan dia vitamin, paling besok pagi ia sadar" kata dokter perempuan itu. revan memang tadi langsung memanggil dokter perempuan krna ia tak mau anka di periksa oleh dokter laki-laki.
"baiklah, kau bisa pergi sekarang!" titah revan dengan wajah datar nya.
setelah itu revan masuk ke kamar dimana anka sekarang ada.
hati nya hangat saat menatap wajah imut anka, kedua sudut bibirnya mengembang saat melihat mata anka yang tertutup.
"eh gua kenapa sih! kan gua tadinya mau bunuh nih cewek!"
besok nya~~
"kenapa dia belum juga sadar?"
"dokter sialan dia menipu ku?" ia bertekad jika satu menit lagi gadis di depan nya ini belum sadar ia akan membunuh dokter itu, dan membakar rumah sakit tempat dokter tadi kerja.
"engh"
ANKA POV
aku tersadar aku mengerjapkan mata ku untuk menetralkan cahaya di ruangan itu.
orang yang pertama ku lihat adalah om om pembunuh itu, oh asataga aku baru ingat, kemarin aku pingsan, apa sekarang ayah dan ibu sedang mengkhawatirkan ku?
"hei kau sudah sadar?" tanya om om itu.
"sudah" balas ku.
"om anka lapar"kata ku, memang sekarang aku sangat lapar.
"jangan memanggil ku dengan embel-embel om atau uncle" titah nya
"lalu anka harus panggil om apa?"
"panggil saja nama ku" kata om-eh revan
"baik revan" memang agak canggung sih, aku dan dia itu terpaut 4 tahun pasti aku seharusnya memanggil nya (om)
"mandi! ganti baju! lalu tunggu sini sebentar lagi akan ada yang mengantarkan makanan ke pada mu!" setelah mengucapkan itu ia pergi entah kemana.
aku terus berpikir bagaimana caranya aku pulang? aku seharusnya sekarang sekolah aku ingin menemui evelyn dan dara. sahabatku.
ahh aku melihat ada pintu balkon tak tertutup, aku berjalan ke arah balkon and then aku benar!! pintu nya tidak di kunci. tapi sebelum aku kabur aku mengunci pintu kamar nya dulu agar revan tidak datang tiba-tiba.
"oh astaga! ini tinggi banget" pekik anka.
ia tiba-tiba memliki ide cemerlang, ia segera mengambil gorden panjang yang ada di lemari, lalu mengikatnya ke tiang balkon, setelah ku rasa semua aman aku pelan-pelan turun dan
HAP
aku berhasil sekarang tinggal cari cara biar bisa keluar dari pekarangan mansion revan ini. nah kan ia melihat pohon sangat besar berdekatan dengan tembok yang tinggi akhirnya ia menaiki pohon itu, tapi saat ingin turun dari tembok itu ia mendengar suara dia ajudan sedang keliling pekarangan mansion itu.
HAP
"awhhhh!!!" ia segera menutup mulut nya agar tak melanjutkan teriakan nya.
kaki nya berdarah, dia tadi tak melihat ada banyak beling, di bawah ia tau ini pasti kerjaan revan dan kawan-kawan. ia tetap berjalan dengan menyeret kaki kanan nya. sehingga menimbulkan jejak darah sepanjang jalan nya.
TOK.. TOK... TOK...TOK.
"nona!! ini saya ingin mengantarkan makanan nona!"
"kok gak ada jawaban ya?"
"TUAN!! TUAN!!"
"ada apa?" tanya revan dengan wajah datar nya.
"nona tuan hos hos"
"ada apa dengan dia?" kini raut wajah nya sedikit berubah menjadi penasaran.
"gak ada di kamar nya!!" tanpa menunggu lama ia langsung ke tembok tinggi di belakang mansion nya, dan benar saja ada bercak darah di sepanjang jalan.
"arahkan semua anak buah kau untuk mencari anka" titah revan kepada Rendi shabat plus tangan kanan nya revan.
"oke"
"ternyata kau ingin bermain ya sayang!" gumam revan sambil tersenyum seringai.
...
"aduhhh, udah gak kuat liat darah nya!!" pekik anka
"hos hos"
BRAKK
gelap! penglihatan anka gelap ia tak melihat apa apa lagi.
di tempat lain
"bagaimana?"
"di gang mawar tuan kata orang-orang ada wanita pingsan dengan kaki yang berdarah"
"kita kesana! "
benar saja saat sampai sana revan langsung dikejutkan dengan keadaan anka yang mengenaskan, dia ingin rasanya membunuh semua warga yang ada di sini!
"KENAPA KALIAN HANYA MENONTONI INI BUKAN TONTONAN ORANG-ORANG BODOH!!" bentak nya pada seluruh warga yang ada di situ
"Rendi bawa anka ke mansion!"
"kenapa gak kerumah sakit rev?"
"lu ngebantah gua!" dia menaikan nada bicara nya.
"iya iya" akhirnya Rendi pasrah dan membawa anka ke mansion meninggalkan revan dengan ajudannya untuk menginstrogasi para warga.
TBC
SPOILER:
"geovani group" ia menunjukkan senyum seringai ny.
"APA-APAAN INI! DIA HANYA MENGAKU MEMILIK DUA ANAK SAJA!!"
"aku akan membalas semua nya geovani" gumam nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SWEET BUT PSYCHO
Teen Fiction"anka, janji... uncle gak akan anka bilangin uncle polisi" "harus anda tau! saya tidak pernah takut dengan yang namanya polisi, bahkan polisi yang takut dengan saya!" tukas laki-laki berdarah dingin itu. "ta_tapi anka hiks ta_kut" "bawa dia ke ruan...
