Disc. Tokoh beserta semua yang ada di dalam cerita ini adalah kepunyaan JK Rowling. Semua kecuali cerita ini, karena cerita ini murni kepunyaan saya. Sekian, terima cinta Regulus Black :)
Cast : all of main Harry Potter. If u guys found some characters that u don't know, it's out characters—singkatnya, buatan saya.
Genre : drama/family
Warning (s) : typo(s), FemHarry! MaleGinny! for gender-switch, alur sesat, OOC, AU, drama-sinetron, humor-garing, modified-canon (entahlah, aku asal modif aja hehe), and if u don't like, just click the exit button and don't read anything—ofc, setelah kalian membaca peringatan ini, hwhw.
.
.
"Cerita ini terinspirasi dari lagu Empty Space-nya James Arthur, dan beberapa fanfiksi Harry Potter yang lainnya. Ia juga merupakan salah satu sequel dari karya saya yang sebelumnya, Rewrite the Stars.
Sangat dianjurkan bagi para pembaca untuk membacanya terlebih dahulu."
.
.
Chapter 13— SEORANG WANITA Enjoy!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
St. Mungo, London, Inggris Britani Raya. Akhir Musim Panas, 25 Agustus 2019
Draco tidak pernah merasa sekaku dan sekosong ini dalam hidupnya.
Iris kelabu kebiruannya menatap tidak percaya ke arah healer di depannya. Ia menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan rasa sesak di dadanya. Tangannya yang semula baik-baik saja kini mulai bergetar hebat seiring mendengarkan penjelasan demi penjelasan dari healer di depannya.
"Kau bercanda, 'kan?" Draco berbisik pada healer di depannya.
"Mr Malfoy..."
"Ini tidak mungkin terjadi!" bentak Draco dengan wajahnya yang merah padam. "Dia pasti akan baik-baik saja! Bagaimana bisa rumah sakit ini mempekerjakan penyembuh tidak becus sepertimu!"
Healer ber-nametag Maggie Stone itu menunduk dengan ekspresi ketakutannya. Ia menggumamkan sesuatu seperti 'maaf' lalu segera membungkuk pada Draco. Healer itu pun segera berjalan cepat meninggalkan Draco dan teman-teman, diikuti oleh semua perawat yang berada di belakangnya.
Draco terduduk di kursi tunggu. Bahunya merosot dan wajahnya ia tenggelamkan di kedua tangannya. Pria itu berusaha tidak menangis kalau dilihat dari bahunya yang bergetar.
Pansy Zabini menggigiti bibir bawahnya, jelas ia juga tengah menahan tangisnya. Astoria adalah salah satu gadis baik yang pernah ia kenal seumur hidupnya. Lalu kenapa...
Pansy mengalihkan hazel-nya menatap pintu cokelat di depannya dengan tatapan yang sulit ia artikan. Wanita itu menggeleng pelan dan membiarkan matanya yang sudah basah kembali menatap sahabatnya yang tengah ditenangkan oleh Blaise―suaminya.
"Kenapa...?" suara pilu Draco memenuhi koridor rumah sakit yang kini hanya terisi oleh mereka.
Blaise menggeleng dan menarik sahabatnya ke pelukannya. "Menangislah jika kau ingin, Drake."
Bahunya semakin bergetar hebat dan matanya mulai memerah―masih mencoba menahan air matanya sedikit lagi. "Apa...yang harus ku-k-katakan pada Scorpius, Blaise? I-ibunya..."
Blaise memeluk Draco semakin erat. Seorang Malfoy yang ia tahu tidak pernah terbata seperti ini, dan kenyataan bahwa sahabatnya yang kini tengah berjuang menahan tangisnya benar-benar membuat hatinya berdenyut sakit
Ia melirik istrinya, Pansy, yang tengah menggelengkan kepala dan mencoba mengusap bekas air matanya. Wanita itu menatap Blaise, mencoba bertanya 'bagaimana-ini-dan-apa-yang-harus-kita-lakukan' lewat tatapannya.
'Call-Daphne' Blaise me-mouthing.
Pansy hanya mengangguk dan segera berlari keluar dari rumah sakit, ber-apparate ke Bletchley Manor.
"You have no idea, Blaise..." Blaise kembali memusatkan perhatiannya pada Draco, yang dengan awkward segera melepaskan pelukannya, dan kembali duduk membungkuk.
Membungkuk, ringis Blaise lagi.
Bertahun-tahun ia mengenal Draco, Draco Malfoy yang ia kenal tidak pernah membungkuk. Bahkan ketika Orangtuanya disiksa oleh Pangeran Kegelapan di depan kedua matanya sendiri, ia masih tetap bisa berdiri tegap, menyaksikan semuanya dengan kedua matanya yang memerah.
Dan ini adalah kedua kalinya ia menyaksikan sahabatnya duduk membungkuk dengan bahu bergetar dan matanya memerah, karena seorang wanita.
Ini bukan saatnya memikirkan masa lalu, Zabini, erangnya dalam hati.
Blaise pun segera menggelengkan kepalanya, mengusir semua ingatan akan masa lalu sahabatnya yang semakin jelas terputar di kepalanya.
Blaise menemukan dirinya sedikit berjengit kala melihat satu tetes air turun membasahi lantai rumah sakit. Ia tidak bertanya ataupun menoleh pada Draco yang berada di sampingnya.
Ia mengikuti jejak sahabatnya yang menunduk. Diam, mendengarkan isak tangis sahabatnya dengan seksama. Dan terus berharap agar istrinya segera kembali ke rumah sakit dengan membawa Daphne dan Miles.
.
.
I wanna tell all my friends But I don't think they would understand
.
.
to be continued
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
[K/N ― 26 Juni 2020]. . . dear yang baca Empty Space, mind to gimme your vote and comments? hehehehe. thanks, pal!
seriusan deh, chapter ini sama yg 12 itu kupublishnya samaan tp tanggal berapaaaa T_T
anyway oemji, 4 hari lagi selese bulan juni! dAN fiCT iNi bELuM sELEsEEEEeeeEEEEeEe T______T