Happy reading❤
_________________________________________
“ASSALAMUALAIKUM, SHINE UDAH PUULAANGGG.” Shine berteriak dengan suara toa-nya.
“Eh Shine, kenapa baru pulang nak? Bunda khawatir banget loh, tadi Ardan bilang kalo kamu pulang sendiri.”
“Iya bun, abis dari taman, makan es krim, tadi panas banget, trus jalan-jalan sebentar.”
Shine tak ingin menceritakan kejadian sebenarnya dan membuat khawatir bundanya, toh buktinya dia sekarang baik-baik saja, selamat sentosa sampai di rumah.
“Yaudah, kamu ganti baju dulu, baru makan siang.”
“Yaudah, Shine naik dulu bun.”
Sesampainya dikamar, Shine menyimpan tas, dan bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan pikirannya, gemericik air membuat kepalanya tenang.
Sesudah mandi dan berpakaian, Shine bergegas turun untuk mengisi perutnya yang sedari tadi berdemo meminta makan.
***
“ASTAGA NAGA, YA AAAAMMPUUUNN, GUE BELOM NGERJAIN PR FISIKA DARI BU TUTI. ISHHH KOK BISA LUPA SIH?.”
Ya begitulah Shine jika melupakan sesuatu dan kemudian mengingatnya, maka kepanikannya luar biasa.
Segera Shine berkutat dengan pekerjaannya, meskipun dengan segala sifatnya, Shine termasuk anak yang pandai, meski tak sepandai adik dan kakaknya, Arletta dan Ardan.
Lama-kelamaan Shine tak bisa fokus karena memikirkan kejadian tadi siang, dia sangat penasaran siapa pemuda tersebut, dan jangan lupakan wajah bak dewa yunani-nya.
***
“Aahhh, kenyangnya.”
“Dasar.” Dengus Ardan.
“Sirik aja kak, masakan Bunda emang top markotop.”
“Semua makanan kamu juga bilang enak kalau gratis.”
“Biarin, aku sebel sama kakak, gara-gara kakak aku terlambat pulang.”
“Iya, Bunda udah bilang kalo kamu telat pulang, emang dari mana aja?”
Shine kembali teringat kejadian tadi siang
“Hayooo, ngelamunin apa?”
“Eh, ng... ngg... nggak kok”
“Aneh.” Celetuk Letta.
“Ini lagi satu, sekali ngomong, nyelekit banget.”
“Hmm.”
“Isshh Letta, gemesin banget, jadi pengen nabok.”
“Udah-udah ini kenapa kok jadi ribut sih.” Lerai Shila.
“Biasa, kak shil, masalah remaja.”
“Masalah remaja apaan?”
“Heh Letta, kok lo jadi ceriwis gini sih, biasanya juga alim.”
“Emang gue gini kak.”
“Up to you.” Ujar Shine sambil memutar bola mata.
Lalu Bunda dan Ayah Datang.
“Sebenarnya Ayah mau bicara sama Shine. Shine kan sudah kelas sebelas, dua tahun lagi mau masuk kuliah, dan umur Shine sudah 17 tahun.”
Semuanya menyimak, termasuk Shine yang bertanya-tanya dalam hati karena dialah topik utama kali ini.
“Jadi Ayah putuskan akan menjodohkan Shine dengan anak teman Ayah.”
“APAAAA???? INI GAK MUNGKIN, AYAH PASTI BERCANDA KAN? SHINE MASIH SMA YAH, DAN SHINE BERHAK MENENTUKAN PILIHAN SHINE SENDIRI, SHINE JUGA BELUM PERNAH KETEMU LANGSUNG ORANGNYA YAH.”
Teriak Shine marah kepada Ayahnya. Dia sangat shock, bayangkan saja Shine harus dijodohkan oleh orang yang tak dicintainya, dan juga tak saling mengenal.
“Shine, dengar dulu nak.” Bunda menenangkan.
“Mau jelasin apalagi Bunda? Shine kecewa sama Ayah dan Bunda.”
Lama-kelamaan atmosfer diruang keluarga menjadi menegangkan. Bahkan Ardan, Shila, dan Letta hanya diam. Tak ada satupun dari mereka yang berbicara.
“POKOKNYA SHINE GAK MAU NERIMA PERJODOHAN INI, TERSERAH AYAH SAMA BUNDA MAU NGAPAIN, SHINE BAKAL TETEP GAK MAU.”
Shine berlari ke arah tangga, dan memasuki kamarnya dengan membanting pintu sangat keras.
***
Shine berjalan gontai menaiki ranjang, dia menelentangkan tubuhnya diatas kasur dan menangis sejadi-jadinya dengan menutupi wajahnya dengan bantal.
Ia tak menyangka, orang tuanya mengambil keputusan seperti itu
'APA-APAAN ITU?!'
Akibat lelah menangis,Shine pun tertidur.
***
Pagi harinya, mata Shine membengkak karena terlalu banyak menangis.
Shine sarapan dengan cepat, dan tak memedulikan semua orang dimeja makan.
“Shine? Ayah sama Bunda....”
Shine membanting gelas susunya dengan cukup keras ke meja.
“Kak Ardan, cepetan makannya, nanti Shine bisa telat, Shine tunggu di mobil.”
Ucap Shine berusaha menghindari berbicara dengan Bunda.
Ayah sama Bunda hanya bisa menghela napas. Bahkan Shine tidak pamit ke mereka. Mungkin semuanya terlalu mendadak bagi Shine.
***
“Ngapa lo? pagi-pagi tuh muka dah kusut, namanya aja Shine, tapi muka kagak bersinar.” Ucap Disha.
Shine menghela napas, mempertimbangkan dalam hati apakah akan memberitahukan tentang perjodohannya kepada Disha, dan memutuskan untuk menceritakannya.
Tapi sebelum satu patah katapun terucap, Guru sejarah sudah memasuki kelas.
'Ah bangke, sejarah lagi, mumet gue njir', rutuk Shine dalam hati
'Ntar aja deh pas istirahat gue kasih tau Disha.' Batin Shine.
***
“SERIUSAN LO? DEMI APAAN NJIR, KAGAK NYANGKA GUE.”
“Aduh Dish, bisa nggak sih lo gak usah teriak-teriak?”
“Eh sorry-sorry.”ujar Disha sambil melihat sekeliling kantin dan malu mendapati dirinya jadi pusat perhatian.
“Nyesel gue cerita ama lo”
“Eh tapi lo gak bohong kan?”
“Iya sumpah, demi lo yang gagal move-on ama Gavin.”
“Gak usah bawa-bawa dia deh, kan kesel gue jadinya, ini tuh kita lagi ngomong serius tentang perjodohan lo.”
“Iya-iya sorry. Trus gue harus gimana?”
“Ya saran gue sih, lo coba tolak baik-baik aja, kan masa depan lo taruhannya. Kalo nanti lo gak bahagia, lo bakalan nyesel.”
“Kemarin gue juga udah nolak. Tapi kayaknya Bunda ama ayah ngotot banget gue dijodohin ama anak temennya.”
“Kalo gitu gue bisa apa? Ini mah udah urusan pribadi.”
“Iya gue tau, ucap Shine tak bersemangat.”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
KAMU SEDANG MEMBACA
MY POSSESSIVE HUSBAND
RomansaSHINE ARADILLA Labil ✔️ Manja ✔️ Friendly ✔️ Moody-an ✔️ RAYYEN PRANATA Cool ✔️ Cuek ✔️ Dingin ✔️ Tegas ✔️ Irit bicara ✔️ To the point ✔️ Dua kepribadian yang saling bertolak belakang. Apa jadinya jika mereka di ikat dalam sebuah hubungan bernama...
