Seorang gadis berambut panjang yang rambutnya dibiarkan terurai baru saja turun dari kendaraan berwarna hitam beroda empat itu dengan semangat. Rambutnya dibiarkan diterpa angin pagi yang sekaligus menyapa dirinya seolah mengucapkan selamat pagi. Ia menatap langit pagi berwarna biru muda selama beberapa saat serta, menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-parunya.
Pagi itu suasana sekolah masih sepi dan pintu gerbang hanya terbuka sedikit. Maklum saja, ini masih belum jam enam pagi dimana jarang sekali murid yang datang sepagi ini ke sekolah. Ia perlahan mendorong gerbang sekolah menjadi lebih lebih lebar agar bisa dilewati orang untuk berlalu lalang. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya kembali melewati lorong utama yang di kanan kirinya terdapat etalase yang berisi piala dan piagam yang berjejer dengan rapi di dalam sana, dimana ia juga pernah menyumbang pernghargaan yang berada disana.
Ia melangkah tanpa tergesa. Ia melihat keadaan sekolah yang sangat ia rindukan tanpa seorang pun disana, hanya dirinya sendiri yang berada disana. Langkah demi langkah membuatnya pergi satu tempat ke tempat lainnya di sekolah itu. Sekarang sepatunya berada di atas lapangan upacara dan bergerak maju bergantian untuk melangkah.
Hingga langkah kaki itu membawanya menuju papan pengumuman yang tertempel banyak kertas. Matanya
sibuk membaca tulisan yang tercetak di jajaran kertas itu. "Sebelas Tiga...," gumamnya pelan hampir tak terdengar.Lalu, bergeser membaca kertas lain guna mencari nama salah satu temannya yang belum juga ia ketahui mendapat kelas mana. Tanpa sadar ada seorang siswa bebadan tinggi sedang berada tepat di belakangnya sedang menunjuk kertas yang berada di depannya. Gadis itu menengok ke belakang dan reflek menatap siswa itu. Kedua kaki Gladis mundur, tapi apalah daya jika tembok di belakangnya sudah menyentuh bagian belakang sepatunya. Hampir tak ada jarak diantara mereka.Mata mereka bertemu. Detak jantung mereka berdegup kencang tapi tak ada gerak di antara mereka. Posisi mereka sangat dekat sehingga hembusan napas siswa itu sedikit memggerakkan rambut Gladis pelan.
Bau parfum siswa itu memenuhi indra penciuman Gladis. Bau yang menenangkan dan tidak menyengat membuatnya nyaman untuk terus berada di dekat siswa itu. Suara jam tangan yang terus berbunyi tanpa henti karena kini menunjukan pukul enam pagi yang sumbernya dari pergelangan tangan cowok itu seolah menjadi musik latar kejadian tersebut.
Serta tangan kanan cowok itu berada pada papan pengumuman dan tangan kirinya berada di saku celana itu pun berhasil membuat kejadian tersebut seperti adegan yang ada dalam film romantis dan Gladis merasa seolah ia masuk ke perangkap yang malah membuatnya merasa nyaman, meskipun itu hanya sebentar. Keduanya merasa waktu berhenti sejenak hanya untuk menikmati momen yang saat ini mereka alami. Mata mereka saling menatap dengan intens dan tatapan itu seolah merasuk ke dalam jiwa mereka berdua.
Hingga akhirnya mereka saling mengakhiri adegan dramatis itu dengan memutus kontak mata yang terjadi diantara mereka berdua dan melanjutkan aktivitas mereka. Siswa itu melangkah ke samping ketika dia selesai membaca kertas yang berada di depan Gladis.
Tak lama kemudian..
"Anjer! Nama lu mana sih!" ujar Gladis kesal. Dan siswa itu menoleh. Stupid Gladis! Ada orang disana,ngapain lu kaya gitu! ,batin Gladis merutuki dirinya sendiri.
Sepasang mata yang berada tak jauh dari sumber suara itu langsung reflek menoleh. Mereka beradu tatap untuk kedua kalinya. Paan si tuh cewek freak banget, batinnya dalam hati. Dan langsung kembali membaca kertas yang ada di depannya.
What the hell Gladis! OMG what did you do! Lu malah bego Di saat yang tidak tepat. Batin Gladis sambil memejamkan kedua matanya dan mengepalkan tanggannya menahan rasa malu.
Gladis mencoba membuka matanya perlahan. Ketika membuka matanya, ia mencari sosok cowok yang seharusnya berada beberapa langkah darinya itu. Dan ternyata cowok itu melenggang santai menuju lapangan basket yang berada di samping taman sekolah.

KAMU SEDANG MEMBACA
VIRDIS
Teen Fiction"Go, udah cukup gue pura-pura baik-baik aja dengan keadaan kita sekarang. Hati gue beneran sakit sesakit-sakitnya dengan ngeliat kita yang selalu pura-pura fine setelah semua yang terjadi," kata Gladis dengan mata merah berkaca-kaca menahan tangisny...