Esoknya, Timmy dan Sean sama-sama kembali bersekolah. Semenjak Timmy dirawat di rumah sakit, Sean juga ikut-ikutan membolos demi memastikan sepupunya bisa kembali sembuh. Dan hari ini, Timmy terpaksa kembali duduk di samping Dinda karena pagi ini ada jam pelajaran Matematika yang notabennya wali kelasnya sendiri. Setelah jam Matematika habis, Timmy akan kembali duduk di belakang bersama Sean.
Saat mengambil buku di dalam ransel, Timmy tak sengaja menoleh ke belakang. Di kursi paling ujung masih terlihat kosong. Itu artinya, hari ini Diga tidak hadir. Timmy mengembuskan napas panjang.
"Timmy Zazasya."
Timmy sontak menoleh ke depan karena dipanggil oleh wali kelasnya, Bu Sukma.
"Dari buku catatan nilai yang Ibu punya, kamu belum mengumpulkan 3 latihan sekaligus pr yang Ibu berikan. Kenapa bisa begitu?"
Timmy meneguk salivanya susah payah. Seingatnya dia selalu mengumpulkan tugas yang diberikan oleh guru-gurunya selama semester dua ini. "Hmm ... Beberapa hari yang lalu, saya izin gak masuk sekolah, Bu. Mungkin saya tertinggal di sana."
Bu Sukma meneliti bukunya lamat-lamat. "Tapi ini tugas yang Ibu berikan beberapa minggu lalu. Kalau ditambah dengan ketidakhadiranmu kemarin, jumlahnya jadi 4."
Lagi-lagi Timmy tersentak. "Saya udah ngumpulin kok, Bu." Timmy ingat betul, 3 soal itu diberikan di hari yang berbeda, dan baru dikumpul serentak seminggu lalu, tepat sehari sebelum dia masuk rumah sakit dan meliburkan diri.
"Ibu sudah memeriksa meja guru tadi pagi, dan buku tugasmu benar-benar tidak ada di sana."
Aneh. Kemarin, kertas ulangan Matematikanya hilang. Dan sekarang tugas-tugasnya pun juga menghilang. Ini benar-benar aneh!
"Nanti saya kumpulin ulang, Bu," pasrahnya.
***
Di jam istirahat, Timmy sudah kembali duduk di belakang kelas bersama Sean. Di hadapannya terdapat sebuah kotak bekal berbentuk panda, juga termos berukuran mini berisi minuman hangat untuknya. Vano dan Rea menyiapkan segala keperluan gadis itu, sebab mereka ingin, putrinya bisa bertahan lebih lama.
Timmy menyuap makanannya, lantas menoleh ke samping. Sean tampak sibuk dengan ponselnya. "Satu gak makan?"
Sean menggeleng. "Gue puasa."
Mendengar itu, Timmy sontak menutup kotak bekalnya. Sean memang terkadang suka berpuasa di Senin-Kamis, dan itu yang pula yang menambah nilai plus untuknya.
"Kenapa ditutup? Santai aja kali," ucapnya.
"Maaf ya, Satu. Tiga gak tau kalau Satu lagi puasa hari ini."
Sean tersenyum, lantas mengacak rambut gadis itu pelan. Senyumnya memudar kala mengingat perkataan Vano di rumah sakit waktu itu. Timmy benar-benar gadis yang kuat. Pasti banyak rasa sakit yang dialaminya selama ini. Namun, tak sekalipun ia mendengar gadis itu mengeluh.
"Oh iya! Tiga lupa sesuatu!" ucap gadis itu lantas beralih untuk mengobrak-abrik ranselnya. "Kita belum pecahin teka-teki ini," lanjutnya sembari menunjukkan empat buah gulungan kertas berpita merah.
Sean mengernyit. "Lo masih nyimpen ini?" Gadis itu mengangguk. Sean kembali teringat dengan perkataan Vano. Timmy tak boleh diajak berpikir keras. Sean lantas mengambil alih kertas-kertas itu. "Lupain semua ini. Lo bisa ngelakuin hal bermanfaat lainnya."
Tanpa peduli, Timmy merebut kertas-kertas itu dari sepupunya. Ia menatap Sean tak suka. Dia sudah terikat janji dengan Elga. Jika bukan karena itu, sudah lama juga ia ingin memusnahkan segala teka-teki aneh ini.
Ponsel milik Sean bergetar. Sebuah notifikasi pesan dari grup ekskulnya menyita perhatiannya. "Gue harus ke ruang English Club sekarang. Jangan lupa minum obat ya," ucapnya sembari mengacak rambut gadis itu pelan, lantas beranjak ke luar kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tiga [SEGERA TERBIT]
Romance[SEBAGIAN PART DI-UNPUBLISH UNTUK KEPENTINGAN PENERBITAN] SEQUEL of FIREFLIES Satu ... Dua ... Tiga ... Empat. Tiga adalah tokoh utama di dalam cerita ini. Eits! Tiga di sini bukan angka loh ya. Dia Tiga, si gadis aneh, konyol dan menyebalkan. Tiga...
![Tiga [SEGERA TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/226892377-64-k854760.jpg)