Bagian 11

32K 4.5K 834
                                        

Vano mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Diga yang duduk di sebelahnya, benar-benar dilanda ketakutan. Pipi kirinya berdenyut. Mengingat pria itu melayangkan bogem mentah padanya beberapa menit yang lalu.

Dia tahu, orang tua Timmy sangat tidak setuju jika gadis itu bermain futsal. Namun, ia tak menyangka jika reaksi Vano akan separah ini.

Vano bungkam. Mengendarai mobilnya dengan emosi. Urat tangannya bahkan tampak menonjol, menandakan bahwa pria itu mati-matian menahan amarahnya. Wajar saja. Timmy itu putrinya. Gadis itu adalah perempuan kedua yang harus ia jaga mati-matian setelah istrinya, Rea.

Mobil itu berhenti tepat di parkiran arena futsal. Diga bergegas keluar dari sana. Manik matanya menatap sekeliling. Kosong. Tidak ada siapapun. Bukankah tadi dia meninggalkan gadis itu di sini?

Vano berdiri di samping Diga, menatapnya seolah bertanya 'Mana Tiga?' tanpa bersuara. Sorot mata pria itu benar-benar tajam.

"S-saya cari ke dalam dulu, Om," ucapnya.

Belum sempat Diga melangkah, Vano mendahuluinya. Diga bergegas menyusul pria itu.

Setibanya di ruangan futsal. Beberapa teman sekelasnya tampak berkumpul di satu tempat. Diga berlari menemui mereka.

"Woi, Dig! Parah lo ngaretnya!" sahut Edo.

"Kalian lihat Tiga?" tanyanya tanpa menghiraukan kicauan teman-temannya.

Teman sekelasnya saling menatap satu sama lain.

"Tadi bukannya di parkiran?" jawab salah satu di antara mereka.

Diga mengacak rambutnya frustasi. Jika sampai terjadi apa-apa dengan gadis itu, matilah dia!

"Emangnya kenapa, Dig?" tanya Rizki. Diga menggeleng, lantas beralih menuju perkumpulan lain yang tak jauh dari sana. Itu gerombolan anak IPS. Rencananya, mereka akan bertanding lagi, seperti beberapa minggu yang lalu. Namun sepertinya kali ini gagal lagi.

"Sorry. Kalian lihat Tiga?" tanyanya. Gerombolan anak IPS itu kini beralih menatapnya, sembari mengernyit.

Diga menepuk jidatnya. "Sorry-sorry. Maksud gue, kalian lihat cewek pakai seragam sekolah gak?"

Mereka menatap satu sama lain, lantas menggeleng. Melihat itu, Diga mengembuskan napas pasrah. Ke mana lagi gadis itu pergi?

Saat Diga hendak melangkah, salah satu dari mereka bersuara. "Kalau gak salah, tadi gue lihat ada cewek yang masuk ke toilet."

Mendengar itu, kepanikan Diga mulai berkurang. "Thanks, bro!"

Ia berlari menyusul Vano yang ternyata juga melangkah menuju toilet. Pria itu mengempaskan pintu toilet dengan kasar. Dan tepat ketika pintu itu terbuka, Diga yang berada di belakang Vano, menatap pemandangan di hadapannya dengan terkejut.

Bagaimana tidak?

Di hadapannya saat ini, Timmy sedang dihadang oleh seorang laki-laki sialan yang menatap gadis itu dengan tatapan penuh nafsu. Pandangan laki-laki itu tertuju pada dada Timmy, terlebih dengan posisi mereka yang terlampau sangat dekat.

Tanpa aba-aba, Vano melangkah dengan cepat, lantas-

BUGH!

Satu bogem mentah berhasil membuat lelaki itu terhuyung, dan menjauh dari Timmy. Melihat itu, Timmy berlari keluar toilet. Ia berhenti tepat di hadapan Diga. Gadis itu tampak gemetar ketakutan.

BUGH!

BUGH!!

Vano menghajar Elga tanpa ampun. Beberapa orang kini mulai berdatangan, dan terkejut saat melihat salah satu teman mereka sedang dihajar oleh pria dewasa.

Tiga [SEGERA TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang