Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Buat pengingat, chapter terakhir kemarin Wildan confess barengan sama suara petir.
...................
Tidak mungkin menyalahkan takdir Untuk keadaan yang terjadi hari ini Takdir sudah ada jauh sebelum kita lahir Tidak ada manusia yang ingin hidup banyak cobaan Inginnya hidup tenang-tenang saja Padahal cobaan datang untuk menempa agar lebih tangguh Bukan untuk menghancurkan yang sudah rapuh.
.................wildan..............
Siang itu saat break kelas menunggu jam mata kuliah berikutnya, Wildan dengan senang hati menawarkan Wafdha.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Koe gelem tak traktir ora?” Wafdha sampai senyum semringah mendengar ajakan Wildan. Tentu saja tidak akan menolak.
“Yo gelem lah. Edan po kalau gak gelem.”
Mereka berdua pun bergegas makan di warung geprekan dekat kampus, naik motornya Wafdha.
“Dalam rangka opo iki koe kok tumben?” Wafdha turun dari motor masih dengan menerka dalam rangka apa Wildan mentraktirnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Aku arep curhat, wis ora usah kebanyakan tanya ndak aku berubah pikiran.” Jawab Wildan dan langsung order dua porsi ayam geprek dengan tambahan geprekan lainnya. Wildan cukup 3 cabai, Wafdha pesan 4 cabai karena mempercayai cabai genap tidak akan terlalu pedas.