"lho ada temennya? sini mbak, suruh makan sekalian," mama sela yang melihat kehadiran wisnu segera menyuruh erin mengambil piring tambahan untuknya.
"emang aku ajakin makan disini sekalian kok ma," kata erin sambil menyerahkan piring ke wisnu.
mama sela mengangguk sambil tersenyum, kemudian meninggalkan anak sulungnya dan wisnu di ruang keluarga.
"serius nih gue gapapa makan disini?" tanya wisnu ragu ragu.
erin mengangguk. "gapapa lah, gausah canggung. lagian sebulan kedepan kita bakal bareng terus."
wisnu membantu erin menuangkan tahu campur ke dalam piring. sedikit sedikit, dia mencuri pandang ke arah erin.
yeah disinilah wisnu berakhir. setelah mengantar erin membeli tahu campur titipan mamanya, dia dipaksa untuk makan juga.
wisnu mengalihkan pandangannya ke foto keluarga erin yang dipajang di atas kabinet berisi koleksi vas bunga mama sela.
wisnu tersenyum kecil. diam diam merindukan keluarganya yang dulu.
"lo punya adik ya?" tanya wisnu.
"hooh. kenapa?"
"kelas berapa?" tanya wisnu lagi sambil menuangkan sambal ke dalam piringnya.
"1, adik kelas lo deh kayanya," jawab erin sambil menyuapkan kikil ke dalam mulutnya.
wisnu mengernyitkan dahinya. kemudian dia melihat ke arah foto keluarga erin lagi.
"oohh, itu yang gue bilang mirip mantan lo tadi," kata wisnu yang membuat erin hampir tersedak tahu.
"HAAAAH WISNU??? FOR REAL????"
"iya rin, serius, sekilas kaya mirip."
kemudian erin ketawa. "bukan lo doang sih sebenernya yang bilang begitu, mama sama ayah gue juga bilang sekilas agak mirip dikit."
setelah itu, keduanya sama sama diam dan sibuk makan.
erin tau kalau wisnu bukan tipe orang yang akan membuka pembicaraan terlebih dahulu.
apalagi, disekolah dia dikenal dingin dan tidak banyak bicara. makanya, tak banyak orang berteman dengan wisnu.
erin tau dari mana? dari joana tentu saja, si ketua jurnalis yang sebenarnya adalah penumpah teh di alsis.
"keluarga lo, keliatan harmonis banget ya?" celetuk wisnu tiba tiba.
erin agak terkejut. kemudian dia teringat kata jae yang di chat kapan hari, perihal pisahnya orang tua wisnu.
"iya, tapi ya tiap keluarga pasti ada kejadian bertengkarnya kan?" sahut erin, agak merasa canggung.
wisnu mengangguk, kemudian mengalihkan topik pembicaraan. "baju buat bazar gimana?"
"oh iya, gue lupa kalo kita belum mikir kostum." erin menepuk jidatnya.
"mau nyoba ke butik kakak gue gak? siapa tau nemu model yang cocok."
erin membelakan matanya. "ihh kakak lo desainer ya? keren banget. boleh deh nu kita kesana, kalaupun gak nemu model yang cocok, kita bisa request kan?" katanya antusias.
"oke, besok pulang sekolah kita kesana."
"eh terus sambutan kita gimana? kita perlu buat gak? apa langsung aja?"
"langsung aja gapapa, gak usah pake teks."
"oh ya, kita juga ikut nyari sponsor bareng anak osis lain?" tanya wisnu sambil mengelap mulut.
erin mengangguk sambil membereskan piring yang tadi mereka gunakan. "sebenernya nggak wajib, tapi gue pengen ikut, soalnya tahun kemaren ikut ayah ke nikahan temennya. kalo lo gak mau, gapapa kok nu, biar gue aja nanti."
"gue mau kok, gue juga pengen nyoba."
erin mengacungkan jempolnya sambil mengeluarkan brownies dari lemari makanan.
"nu, gue penasaran sama ini. lo kok bisa masuk osis pas semester dua gini gimana ceritanya sih?" tanya erin yang sedang mengiris iris brownies yang akan disajikan.
"rekan lo ada yang keluar satu kan? pas itu, kak jojo bingung soalnya kurang orang buat ngurus bazar, berhubung gue pernah direkomendasikan pak siwon pas kelas 1, kak jojo minta gue buat masuk osis," jelasnya panjang lebar.
"ah berarti lo masuk osis buat ngurus bazar doang ya? nih dimakan nu."
"iya, makasih." wisnu mengambil sepotong brownies yang disajikan erin. "ya gue maunya emang sampe bazar selesai. tapi kalo mau nerusin sampe kelas 3 gapapa sih kata kak jojo."
erin agak sedih sih dengernya. masa menjabat cuman satu setengah bulan doang. kan sama aja bohong.
"kenapa gak sampe kelas 3 aja? banyak pengalaman lho kalo jadi osis."
"takutnya ganggu olimpia—"
"DIKULUM DISEMBUR, ASSALAMUALAIKUM YA AHLI KUBUR!"
ya bisa dipastikan itu adalah adik erin.
"ya allah jef, mulut lo tuh ya, untung ga ada ayah. bisa bisa di lindes pake ban mobil tuh mulut," omel erin.
jef nyengir kemudian melepas sepatunya. "loh ada temennya."
"darimana lo?" tanya erin menanggapi.
"dari rumah jeka, tau gak mbak? adeknya acikiwir cakep banget," katanya sambil mencomot brownies.
"JOROK BANGET ANJING JEF CUCI TANGAN!"
"dikulum disembur, mohon maaf cucu mbah subur," jef kabur ke kamarnya.
"sorry ya nu, adek gue yang itu emang ga bisa diem."
"santai aja, gue malah pengen rumah gue rame."
"lo tinggal sama siapa sih nu?"
"sama kakak gue, berdua doang."
erin kayanya bisa ngebayangin sih, sepi yang dimaksud wisnu kaya apa.
tiba tiba hp wisnu yang ada di meja geter geter. erin sempat melirik nama kontak si penelepon.
Kak Brian.
"gue angkat telpon dulu ya, rin," wisnu pamit keluar rumah erin.
"halo, kenapa kak?"
"dimana? pulang cepet! kakak lo kacau banget keadaannya!" suruh seseorang yang menelepon wisnu.
mata wisnu langsung membelak. "oke, tolong jagain kak celine dulu, kak!"
buru buru wisnu memasukan hpnya ke dalam kantong dan masuk kembali ke dalam rumah erin.
"rin sorry gue harus cabut sekarang," wisnu memakai jaket dan tasnya.
"kenapa nu? kok buru buru banget?"
wisnu menggeleng. "gue gatau, katanya kakak gue lagi kenapa napa, gue pamit ya, makasih rin, assalamualaikum."
erin mengikuti wisnu sampai ke depan gerbang. "iya nu, hati hati ya, jangan ngebut. wa'alaikumsalam."
dan motor wisnu melesat membelah jalanan sore.
***
"hah? ngomong apasih kak?"
celine diam.
"itu bohong kan?"
celine menggeleng lemah. "nggak nu, itu beneran, papa sendiri ngaku ke kakak, anak papa yang itu kakak kelas kamu."
wisnu menatap celine dengan tatapan kaget dan bingung.
kakak kelasnya? siapa?
***
yeah ini up terakhir sebelum uas. aku mau hiat dulu sampe tanggal 14 soalnya mau ulangan
anyways kalian ga penasaran alsis tuh kepanjangannya apa? udah 9 chapter terbit tapi blum aku spill
alurnya makin aneh aja perasaan. tapi yaudahlah
KAMU SEDANG MEMBACA
duta bazar - wonwoo yerin
Fanfiction"hah kok jadi gue sih no?" protes erin ke eno, adik kelasnya. "aluna ga bisa kak. jadi kak erin aja yang gantiin," cengir eno. erin menggaruk rambutnya, bingung. kenapa tahun ini harus dia yang menjadi duta bazar?
