BAB 1🐍. First meet you.

85 7 1
                                    


Warning ⚠️ cerita ini murni khayalan penulis.

🐍 Happy reading 🐍

Ketika cahaya bulan purnama datang, jelemaan ular harus melakukan pemujaan. Wujud ularnya akan berusaha menampakkan dirinya, meski diri manusianya tidak mau menampakkan.

Perlahan kulit mereka yang halus berganti menjadi sisik ular, mata mereka akan berubah, dan lidah mereka menjadi bercabang panjang.

Ini bukan keinginannya menjadi jelemaan ular. Tetapi adalah takdir dan ia tidak ingin menyesalinya karena takdirnya menjadi jelemaan ular, yang ia ingin menyesalinya adalah orang tua-nya di bunuh oleh manusia yang serakah, manusia yang tamak akan kekayaan.

Dan bodohnya aku tak bisa apa-apa saat kejadian itu terjadi.

Itu kejadian dua puluh tahun yang lalu, dan aku ingin membalaskan dendam ku padanya.

Ini adalah dendam jelemaan ular.

••••••••••••

Di malam yang sepi, di tengah jalan yang gelap, angin berhembus kencang menerbangkan daun-daun kering yang berserakan di jalan.

Pemuda itu, terus saja mengikuti seorang gadis yang sedang setengah berlari di tengah jalan yang sepi.

Mobil mewahnya ia tinggalkan, fokusnya hanya pada seorang gadis yang mampu menarik perhatiannya.

Ia terus saja mengikutinya, angin semakin kencang dan tak lupa penerangan di jalan pun hanya remang-remang, hanya bermodalkan cahaya ponsel yang berasal dari sang pemuda itu saja. Tetapi..

Di pertengahan jalan, gadis itu menghilang dari pandangannya, " lalu kemana gadis itu?" Tanya nya heran dengan alis yang berkerut.

Tiba-tiba kilat petir menggelegar, tapi setelah itu sebuah rambut panjang yang menjuntai indah kepada kepala pemuda itu, pemuda itu terkejut, lantas ia berteriak, " aaaaa......"

"aaaaa....." Dalam sekejap, semua hanyalah mimpi. Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan matanya dan memegangi dadanya yang berdegup kencang,  ia bergerak dengan gelisah.

"Mimpi itu lagi?" Tanya Laura, berusaha menenangkan calon suaminya.

"Iya, aku bermimpi seorang gadis lagi Lau, tapi anehnya aku tidak mengenalinya!" Ucap Brian, memukul-mukul kepalanya berusaha mengingat.

"Sadarlah itu cuma mimpi Brian, itu mimpi cuma bunga tidur!" Ucap Laura menangkup wajah Brian, menatap matanya sakali lagi berusaha menenangkan.

" Tapi... itu terjadi berulang kali Lau, aku merasa aneh, aku gak kenal dia tapi dia selalu saja muncul di mimpiku." Ucap Brian putus asa, memalingkan wajahnya ke arah lain.

Laura yang melihat itu lantas cemberut tak terima" Hey, liat aku Brian," Brian langsung memandang wajah Laura. " tidak apa, jangan terlalu dipikirkan masih untung kamu tidak kenal dia, coba kalau kenal sudah aku habisi dia. Beraninya dia mengusik calon suamiku yang tampan ini." Ucapnya setengah meledek, agar Brian sedikit terhibur olehnya.

Brian sedikit terkekeh, "kau tetap jadi sahabatku Laura, meskipun kita akan menikah kamu tetap menjadi sahabatku." Ucap Brian

"Oh ayolahh Brian, meskipun pernikahan ini tidak kita inginkan, tetapi aku ingin kau menghormatiku sebagai seorang istri, bukan seorang saha..." Ucap Laura terpotong karena pintu kamar terbuka, karena ulah kakaknya Brian.

" Kak Hesty, kenapa tidak ketuk dulu sih sebelum masuk?" Ucap Brian memandang wajah sang kakak sebal.

Hesty hanya tersenyum geli," astaga kakak lupa Bri, tadi kakak sedang fokus pada ponsel kakak, oh iya kakak tadi sedang searching di google tentang makhluk jelemaan seperti ular, kakak penasaran, mau kakak bacakan artikelnya?" Tawar Hesty pada Brian, sementara Laura tersenyum kaku.

Brian melirik Laura di sampingnya, lalu Laura menganggukkan kepalanya tanda setuju, melihat itu Hesty langsung membacakan atikelnya.

" Menurut halaman Wikipedia jelemaan ular..." Baru saja Hesty memulai membaca, mendadak ibunya memotong ucapnya.

"Hentikan Hesty, kau selalu saja lupa apa yang ibu suruh tadi, untung saja ibu langsung menyusulmu, kalau tidak acara ini akan terlambat. Oh astaga Brian kau belum bersiap?" Tanya ibu Brian meringis.

Brian salah tingkah, Laura melihat ekspresi itu, rasanya ingin tertawa tapi takut dosa, tertawa di depan calon mertuanya.

"Iya Bu aku akan bersiap, kalian tunggu saja di bawah." Ucap Brian langsung pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk acara penentuan tanggal pernikahannya dengan Laura.

Mendengar itu, lantas ibunya, Laura, dan Hesty langsung pergi meninggalkan kamar Brian.

Tepat di lantai bawah, semua keluarga berkumpul dan tak lupa petuah di rumah ini. Memang, hanya di keluarga ini yang tetap menjalankan tradisi acara penentuan tanggal pernikahan.

"Tanggal pernikahan akan segera dilaksanakan tiga hari lagi, itu adalah hari yang cocok untuk keduanya." Ucap petuah.

"Aa.. apa? Tiga hari lagi?" Ucapnya memastikan.

" Apa kau tidak terima hem?" Ucap Laura menatap Brian sambil melipat tangan di dada.

" Bukan begitu, sudahlah. Menyingkirlah." Semua orang tertawa, melihat interaksi pasangan yang akan segera melangsungkan pernikahan itu.

"Sudah-sudah, kalian ini seperti anak kecil saja," Ucap ibu Brian tertawa. "Lagipula, itu tanggal yang pas sebelum kamu genap berusia dua puluh lima tahun Brian, dan ibu juga sudah merencanakan tempat resepsinya dari jauh-jauh hari."

"Aishhh ibu, kenapa tidak di rumah ini saja?" Tanya Brian.

" Benar, ibumu sudah merencanakan ini jauh-jauh hari, nak." Ucap ayah Brian menimpali.

Mau tak mau Brian, menyetujuinya.

•••••••

Hari dimana kedua keluarga menyiapkan acara sakral untuk pernikahan Brian Carios Alexander dengan Laura Ratu Quensha dilangsungkan.

" Woww ini seperti kerajaan Bu, ini... Terlalu luas." Ucap Brian pada ibunya, disampingnya tak lupa selalu ada Laura.

" Ini khusus untukmu putraku, ibu melakukan ini hanya untuk dirimu." Ucapnya penuh ramah.

Brian tersenyum lantas memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang, ia bahagia.
Laura hanya bisa tersenyum penuh haru melihat ibu dan anak sedang berpelukan seperti Teletubbies.

" hey Letta, tolong kau layani tamu yang sedang menyewa rumah besar ini!"ucap seseorang pria paruh baya, yang tak lain adalah  pemilik rumah besar ini.

Letta hanya menganggukkan kepalanya patuh. Lantas ia langsung mengambil nampan dan mengisi gelas-gelas untuk diisi dengan minuman.

Setelah gelas-gelas itu penuh, ia langsung menyajikannya kepada para tamu yang sementara akan menempati rumah besar ini.

Pemilik rumah ini pun turut berbaur dengan para tamu, hanya untuk menanyakan pendapat rumah besar ini.

Tiba Dimna Letta meletakkan gelas yang terakhir, Dimna seorang pemuda itu terus saja melihat kearahnya. Ia merasa gugup dan risih?  tetapi ia berusaha untuk bersikap profesional.

Kakinya melangkahkan, tanpa melihat ke belakang ia tak sengaja menubruk seseorang yang sedang meminum air panas.

Pranghhhh....

Bunyi pecahan gelas terdengar, Letta terkejut, tetapi tangannya langsung di cekal oleh pria paruh baya itu, ia menariknya kuat hingga keluar dari ruangan itu.

"Kerjamu tidak becus sama sekali, akan aku pecat kau jadi pembantu disini." Ucap pria paruh baya itu langsung menghempaskan tangannya. Letta kesakitan, tapi ia tahan.

" Maafkan aku tuan, tolong jangan pecat aku, aku ingin bekerja disini." Ucap Letta dengan penuh rasa harap agar tidak jadi di pecat.

"Sama pergi dari sini, memalukan!" Ucapnya menyakitkan.

" BERHENTI, TOLONG JANGAN KASAR PADA WANITA!"






TBC

The Legend Of The Golden Snake(On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang