1.0

922 122 33
                                    

Hari ini sangat cerah, langit yang biasanya dihiasi oleh rundung abu abu dari awan yang berkumpul menutupi matahari yang hendak menyinari kota. Bau segar tanah yang menandakan hujan dan juga angin kencang yang dapat meniup sebuah banner restoran, semua itu tidak ada. Hanya langit cerah berwarna biru dengan burung burung berkicau riang di pohon apel yang tumbuh besar di halaman rumah sederhana milik keluarga yang menghiasi pagi.

"Jaehyun-ah!"

Teriakan melengking seseorang mengalihkan iris coklat yang berpendar dengan cantik di bawah sinar mentari dari memandangi sarang burung kenari di dahan yang dekat dengan jendela kamarnya pada sosok remaja jangkung lengkap dengan atribut sekolah dan melambai dari atas motornya, yang terparkir tepat di depan pagar hitam. Senyuman penuh gigi dan gusi tertuju padanya, separuh wajahnya terlapis kaca helm yang ia pakai. Jaehyun melambai dengn penuh semangat sebelum bergegas, menyambar tas yang sudah siap di atas meja belajar sebelum keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan sedikit antusias.

"Whoah whoah, pelan pelan, anak kecil. Kau bisa tergelincir."

Hampir saja ia menabrak sosok tinggi sang kakak begitu melompat pada tangga terakhir dan berbelok tanpa melihat. Memamerkan senyuman manis dengan lesung pipit dan gigi taring yang menyembul, Jaehyun memeluk tubuh kakaknya tersayang sebelum memutarinya.

"Aku berangkat dulu! Katakan pada Ayah dan Ibu kalau nanti sore sehabis les piano aku akan menjaga kasir, hyung!"

Jaehyun berjalan mundur sembari berpose seperti menembak kepada Sehun, kakak yang lebih tua tiga tahun dan juga kakak tersayangnya, sebelum mengerling dan menghilang di balik pintu. Jaehyun menuruni tangga dari pintu ke pekarangan dengan bersenandung, hatinya sedang sangat baik hari ini. Selain karena hari ini cerah, ia akan menonton pertandingan basket sahabatnya karena jam pelajaran akan kosong hingga jam pulang nanti. Membuka pagarnya sedikit, Jaehyun menyembulkan kepalanya di sela sela pagar untuk tersenyum kepada Minhyung, sahabat serta teman sebangkunya yang masih bertengger nyaman di motornya, memeluk satu helm lain dengan tanda tangan Jaehyun di belakangnya.

"Kenapa kau mengintip seperti penguntit begitu?"

"Hehehehe. Habis nanti takut banyak penggemarmu yang mengikutimu. Kau kan pangeran negara."

Salah satu fakta unik adalah Minhyung ini pangeran kerajaan. Anak bungsu raja Younghoon ini seumuran dengan Jaehyun, dan tentu saja kehadirannya di sekolah umum sempat membuat ramai. Apalagi mengetahui mengapa Minhyung sendiri lebih memilih sekolah umum dimana ia akan bergabung dengan orang biasa daripada sekolah khusus dan elit seperti sang kakak, Pangeran Mahkota berada.

Tentu saja, hari hari sekolahnya sangat menjengkelkan karena gadis dari berbagai tingkat dan sekolah lain akan selalu mengerubunginya setiap pagi saat datang dan sore saat mereka selesai dengan semua kelas dan kegiatan sekolah. Minhyung sendiri tak ambil pusing, ia tak pernah menggubris banyaknya surat cinta dan juga hadiah yang diberikan padanya setiap hari. Memenuhi lokernya sehingga, Minhyung mengatakan pada Kepala Sekolah untuk menggabungkan lokernya dan milik Jaehyun.

Persahabatan mereka juga cukup unik. Jaehyun hanyalah seorang siswa biasa, dia tampan, sangat tampan, pintar dan juga ramah. Tidak seperti Minhyung, ia cukup dikenal saja dan tidak digandrungi gadis gadis. Minhyung yang kebetulan memilih menjadi teman sebangkunya awalnya sangat canggung dengan Jaehyun. Namun lama kelamaan akhirnya mereka menjadi dekat, apalagi Minhyung suka dengan Jaehyun yang memperlakukannya layaknya orang biasa.

"Kau bilang jam segini sedang sarapan bersama kan? Kenapa kau sudah rajin sekali menjemputku? Bahkan pertandingan dimulai masih dua jam lamanya. Sekolah kita kan dekat."

Minhyung mengendikkan bahunya dengan acuh, memberikan helm yang sedaritadi direngkuhnya pada Jaehyun. Memperhatikan sahabat manisnya menata rambut coklatnya dengan menyisir perlahan, jemari lentik dan pucat menyisir surai halus sebelum memasang helm yang sedikit besar di kepalanya. Lucu, gemas, dia seperti anak bayi.

Diorama Rasa [ ON HOLD ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang