3.0

761 101 17
                                    

Mungkin terlihat sangat mudah bagi Jaehyun, bersahabat dengan seorang pangeran. Memang tiada yang berani mendekati ataupun mengatainya selama Minhyung menempel di sisinya sepanjang sekolah. Namun ketika waktu dimana Minhyung tidak berada di dekatnya, itulah saat yang tepat untuk para penggemar Minhyung menghampirinya.

"Kau tidak tahu malu ya?"

Jaehyun yang sedang membaca sebuah buku fiksi di salah satu meja di perpustakaan sekolah menghela nafas. Meletakkan pembatas buku di halaman yang belum selesai ia baca, buku tersebut ditutup dengan sedikit tidak rela. Ia sudah tahu, kalau waktu seperti ini mereka akan datang padanya.

'Aku tetap menyukai dan mendukung Minhyung apapun yang ia lakukan, katanya.' Cibir Jaehyun di dalam hati, mendongak menatap tiga orang gadis, yang satu tingkat di bawahnya, berdiri berjajar sembari menatapnya dengan pandangan tidak suka.

"Maaf?"

Tanya Jaehyun pura pura tidak mengerti, ia sampai hafal apa saja yang akan dilontarkan para penggemar Minhyung padanya. Daripada melawan dan di cap laki laki kasar, lebih baik dia bersikap seperti orang bodoh saja.

"Kau sadar tidak sih, Minhyung dan dirimu tidak pantas. Dia seorang pangeran, seharusnya bergaul dengan anak orang kaya seperti kami bukan dengan anak cupu dan tidak mampu sepertimu."

Jaehyun mengulas senyuman, sedikit jengkel karena adik tingkat tersebut sama sekali tidak memanggilnya 'sunbaenim' dan tidak menunjukkan sopan santun sama sekali.

"Memangnya kenapa?" Suara Minhyung yang berdengung memenuhi setiap sudut perpustakaan membuat ketiga gadis itu berdiri kaku. Penjaga perpustakaan hanya bisa diam sembari berpura pura menata buku di sebuah rak tanpa melerai. Jaehyun menunduk, memijat pangkal hidungnya. Aduh, bisa kacau.

"O-oppa..."

"Jangan kau panggil aku dengan sangat lancang seperti itu." Langkah Minhyung besar besar ke arah mereka, tatapannya tajam dan tangannya mengepal. Rambutnya basah dan masih memakai seragam tim basketnya, tas ransel tergantung sekenanya di bahu kanannya. "Panggil aku Yang Mulia, rakyat jelata." Desisnya begitu berada dekat pada gadis gadis dengan rok yang terlampau tidak sopan untuk anak SMA, iris gelapnya meniti satu persatu gadis gadis tersebut dengan dingin.

"Minhyungie, sudah, sudah. Ayo kita pulang." 

Mengemasi barang barangnya, Jaehyun segera mengamit lengan Minhyung yang segera melemas. Tatapannya masih bengis dan penuh emosi sebelum ia mengalah dan membiarkan Jaehyun menyeretnya pergi.

Selalu seperti ini, Minhyung sungguh tidak menyukainya. Adanya kesenjangan sosial dan sistem kasta hanya karena dirinya adalah keturunan Raja, bukan berarti ia harus bergaul dengan kalangan atas. Dari dulu ia selalu lebih menyukai kehidupan biasa, bebas tanpa harus menjaga sikap dan disanjung tinggi.

"Kau tidak perlu menegakkan tubuhmu seperti itu, ingat ya aku lebih tinggi darimu. Jadi aku bisa menjaga diriku sendiri."

Minhyung menatap Jaehyun yang bersedekap di depannya dengan bibir bawah dimajukan. Memang, tinggi mereka bahkan berbeda. Jaehyun terbilang lebih tinggi darinya. Tubuhnya lebih gempal namun wajah bayinya tidak sama sekali menakutkan.

"Ya ya." Mengibaskan tangannya dengan menahan kedutan senyum geli di sudut bibirnya, Minhyung mengusak pelan surai halus Jaehyun. Sedikit berjinjit karena pria manis itu terlampau tinggi. "Kau bahkan bisa menakuti singa dengan wajah seperti itu."

"Yah! Kau meledekku ya!"

Wajahnya yang sedang kesal bahkan lebih menggemaskan, Minhyung pura pura ketakutan sambil melebarkan matanya dan memeluk tubuhnya yang menggigil main main.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 15, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Diorama Rasa [ ON HOLD ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang