MustikaningAsmara_9
Mahaprana Daksha Wardana, seorang mas-mas jawa berumur dua puluh empat tahun yang menjadi primadona para gadis di desa Jatimulyo, bahkan kabarnya para gadis desa sebelah juga amat mendambakan sosoknya. Tidak heran, karena selain memang begitu tampan dan berkharismatik, hartanya juga melimpah hasil sifat kerja kerasnya.
Meski demikian, nyatanya belum ada satupun gadis yang bisa mendapatkan perhatiannya, apalagi hatinya. Hidupnya memang hanya digunakan untuk kerja, kerja, dan kerja, tidak ada waktu untuk menggubris sesuatu yang menurutnya tidak terlalu penting. Namun, pada suatu malam di bawah rintikan hujan yang masih disinari keindahan purnama, seorang Daksha untuk pertama kalinya begitu terpanah akan pesona seorang gadis berkebaya putih gading yang sedang berjalan dengan anggun di depan rumahnya. Keanggunan itu tersirat ketegasan, bahkan kedua mata gadis itu sama sekali tidak menggubris adanya seorang Daksha yang sedang menguntainya.
Butuh waktu sedikit lama untuk mengetahui nama gadis itu. Setelah diketahui bahwa gadis yang dipujanya memiliki nama Nareswari dari adiknya, saat itu pula Daksha menjadikan kambing hitam sang adik untuk mengulik lebih dalam tentang sosok Nareswari. Setelah dirasa cukup, Daksha sendirilah yang berusaha untuk sekadar mendapatkan perhatian Nareswari. Setengah tahun ia mencoba mendekati Nareswari dengan cara perlahan namun pasti, tetapi hasilnya diluar praduga Daksha. Ia merenung bahwa, kecantikan, kecerdasan, emosional yang dimiliki Nareswari memang berjalan seiringan dengan begitu tenang hingga menjauhi semua yang bukan prisnsipnya, sampai-sampai Daksha merasa tidak bisa menjangkaunya dari berbagai sisi.
Jikalau begitu, apakah sosok Daksha yang sebenarnya tidak boleh diabaikan akan menyerah begitu saja?
{Cerita ini minim konflik dan berlatar pedesaan}