Aku-UMI

Melihat itu, aku terkikik geli. Aku kalau jadi dia juga pasti punya reaksi yang sama. “Hai,” sapaku centil sambil nyengir. “Kaget ya lihat calon istrinya dari solehot jadi soleha?”
          	
          	Saki mengatupkan mulut, membuang muka, tapi aku sudah bisa lihat kulit wajahnya yang cerah itu memerah. Lucu banget sedunia. Tatapannya kembali ke mataku. Kemudian dia mengangguk. “Cantik.” Satu kata aja memang, tapi nggak apalah, toh dia memang sedang terkejut.
          	
          	“Mau masuk nggak nih, suami masa depanku?”
          	
          	“Dyuthi ….” lirihnya.
          	
          	https://karyakarsa.com/AkuUMI/bukber-art-2-saki-dyuthi

Aku-UMI

Melihat itu, aku terkikik geli. Aku kalau jadi dia juga pasti punya reaksi yang sama. “Hai,” sapaku centil sambil nyengir. “Kaget ya lihat calon istrinya dari solehot jadi soleha?”
          
          Saki mengatupkan mulut, membuang muka, tapi aku sudah bisa lihat kulit wajahnya yang cerah itu memerah. Lucu banget sedunia. Tatapannya kembali ke mataku. Kemudian dia mengangguk. “Cantik.” Satu kata aja memang, tapi nggak apalah, toh dia memang sedang terkejut.
          
          “Mau masuk nggak nih, suami masa depanku?”
          
          “Dyuthi ….” lirihnya.
          
          https://karyakarsa.com/AkuUMI/bukber-art-2-saki-dyuthi

Aku-UMI

“Pada ke mana?”
          
          Aku mengedikkan bahu. “Semuanya pergi, ninggalin aku, Om.”
          
          Gandhaa terkekeh. Dia membenarkan lengan kemejanya, kemudian kembali menatapku. “Beneran nggak ada orang atau kamu lagi bercanda, Pra?”
          
          “Ya beneran!” Aku melotot tajam. “Ngapain bercanda. Coba aja teriak, kunti kali yang jawab.”
          
          “Hm hm,” gumamnya. Lalu tiba-tiba mukanya berubah jadi tengil dan membuatku waspada. “Kalau beneran, jangan nangis ya didatengin mbak kunti?”
          
          https://karyakarsa.com/AkuUMI/bukber-part-2-gandhaa-pra

Aku-UMI

“Kayaknya ini orangnya beda ya, Ngga?” tanya perempuan itu dengan tawa. “Gue lihat dari WA nyokap dulu, yang dikirim Bu Ajeng bukan ini.”
          
          Hooman …
          
          What the F!
          
          Bahkan Regan yang menyebalkan aja kaget dengan pertanyaan nggak bermutu dari mulut orang dewasa itu. “Sama lah,” kata Regan sambil mengibaskan tangan. “Lo belum lihat langsung aja.”
          
          https://karyakarsa.com/AkuUMI/bukber-part

Aku-UMI

Dia mengurungkan niat membuka pintu dan kembali menutupnya, kemudian berbalik menatapku sambil berlirih,“Bangsat,” Detik berikutnya dia langsung sadar dan menggeleng pelan sambil menelan ludah. “Astaga.”
          
          Aku memutar bola mata. “Pertama-tama, astagfirullah, bukan astaga.” Sekarang aku bersedekap. “Kedua, kenapa sih? Aku kelihatan kayak badut?”
          
          Kepalanya menggeleng. “Hell, no.”
          
          met baca pandan guys, muach! <3
          
          https://karyakarsa.com/AkuUMI/bukber-part-2-lapia-dhana