Layar iPhone 16 Pro milik Jevian menyala tanpa henti. Nama kakaknya, Valerie, gonta-ganti muncul antara voice call dan WhatsApp spam. Jevian, yang sedang asyik memoles lip balm di depan cermin toilet, akhirnya mendengus malas dan menggeser tombol hijau.
"Apa sih, Kak Val? Berisik banget, my God," sembur Jevian langsung, nada suaranya slay tapi judes.
"Jev! Pliis, lo lagi di sekolah kan? Cariin Aksa! Dari semalam WhatsApp gue cuma di-read doang. Dia bolos lagi ya? Cek di kelasnya, buruan!" suara Valerie terdengar panik dari seberang telepon. Kakaknya itu sudah kuliah, tapi posesifnya terhadap Aksa—pacarnya yang masih kelas 3 SMA, setahun di atas Jevian—nggak hilang-hilang.
"Cari aja sendiri, kenapa sih harus gue," gerutu Jevian.
"Jevian, please! Kalau lo nemuin dia, gue beliin sunscreen Somethinc yang lo mau kemarin. Dua botol!"
Mata Jevian langsung berbinar. "Deal! Jangan bohong lo ya."
Jevian menutup telepon, merapikan rambutnya yang di-styling sempurna, lalu melangkah keluar toilet layaknya sedang berjalan di runway. Misinya dimulai. Mencari pentolan sekolah paling bermasalah demi dua botol sunscreen.
Ia memulai pencarian dari kelas XII IPS 3. Nihil. Kelas itu seperti kapal pecah, dan bangku Aksa di pojok belakang kosong melompong. Jevian kemudian melenggang ke kantin, tempat biasa Aksa nongkrong sambil merokok diam-diam. Tidak ada. Hanya ada sisa-sisa anak kelas 3 lain yang sedang main kartu.
"Hih, ke mana sih itu manusia purba," umpat Jevian pelan, mulai kesal karena kakinya mahalnya mulai terasa pegal.
Pilihan terakhir adalah area gudang belakang sekolah. Tempat keramat para anak berandal.
Lorong itu sunyi senyap. Jevian berniat berbalik arah dan melapor pada kakaknya kalau Aksa tidak ada di sekolah. Namun, saat ia memutar badannya, telinganya yang tajam menangkap suara sayup-sayup dari dalam gudang.
Suaranya berat, serak, seperti ringisan tertahan.
"Nngghhh... ahhh..."
Full Version Link On Bio atau wa: 082394911522