IndoFanfiction

GUYS KARNA WATTPAD ERROR KAGAK BISA UPLOAD LAGI, LANGSUNG KE LINK AJA YA https://lnk.bio/Indofanfictio

IndoFanfiction

este mensaje puede ser ofensivo
- RAHASIA 2 POLISI chapter 2 -
          Cello berdeham pelan, memiringkan kepalanya dengan senyum manis. "Pemanasan dulu ya, Abang-abang sekalian," ucap Cello dengan nada soft yang kelewat sopan, tapi jatuhnya justru terdengar luar biasa menghina. "Semalem kan kalian udah pamer jago ngisep dan main beringas di lantai. Sekarang, gue mau liat Abang-abang ciuman bibir. Di depan kita berdua."
          
          Mata Devan seketika melotot lebar. Urat lehernya langsung menonjol seukuran kabel, darahnya mendidih naik ke ubun-ubun. Kepanikan dan rasa jijik kembali menyergapnya.
          
          "Gila lu babi! Nggak usah macem-macem ya anjing, kemaren tuh kita mabok!" bentak Devan, menunjuk wajah Cello dengan jari besarnya yang bergetar. "Gue Normal, bangsat! Jangan ngelunjak lu berdua!"
          
          Gigi mereka saling beradu kasar menimbulkan bunyi klak yang ngilu. Ciuman itu murni berawal dari rasa marah, paksaan, dan ego maskulin yang terluka parah. Kafka melumat bibir Devan dengan gerakan berantakan dan agresif, penuh dengan pelampiasan frustrasi. Devan awalnya meronta kaget, tangan besarnya mencengkeram pinggang Kafka seakan mau mendorongnya menjauh.
          
          Kafka terpaksa melepas tautan mereka sejenak. Napas pria tegap itu terengah-engah, dadanya naik-turun memburu oksigen di udara pengap. Matanya memerah menatap lurus ke dalam manik mata rekannya. "Fuck... cepetan, Van," desis Kafka parau, suaranya bergetar menahan malu yang membakar jiwa. "Lakuin aja biar beres, bangsat."
          
          Tanpa menunggu persetujuan, Kafka kembali meraup bibir Devan. Dan kali ini, sisa memori kotor dan sentuhan fisik ekstrem malam sebelumnya mengkhianati logika mereka. Begitu lidah Kafka menembus masuk, menyapu rongga mulut rekannya secara paksa, napas mereka berdua mendadak berubah berat.
          
          Devan mengerang pelan dari dasar tenggorokannya, "Mhhpp... bangsat... hhh..."
          
          Full Version https://lnk.bio/Indofanfictio atau wa; 082394911522

IndoFanfiction

Suara dengungan AC yang disetel di angka 16 derajat beradu dengan deru napas berat yang saling bersahutan di kamar utama itu. Udara seharusnya dingin menusuk tulang, Aroma parfum vanilla manis yang soft bercampur pekat dengan bau keringat maskulin dan hormon pria.
          
          Di tengah ruangan, Kafka berlutut pasrah di atas karpet bulu abu-abu. Pria berumur 24 tahun itu telanjang dada, memamerkan kulit tan eksotis yang basah mengkilap oleh peluh. Tidak ada satu pun tato di tubuhnya; murni bongkahan otot dada yang tebal dan perut six-pack yang kaku menahan tegang. Setiap kali dada bidangnya naik-turun meraup oksigen dengan rakus, urat-urat tebal di leher dan lengan bawahnya menonjol liar seakan mau meledak.
          
          Di ujung kasur king-size, pemandangannya Tidak kalah gila. Devan-rekan satu unit Kafka yang badannya sama-sama raksasa dan kekar-sedang menungging pasrah. Wajah garangnya yang biasanya dipakai buat tebar pesona ke cewek-cewek, kini tenggelam di bantal.
          
          Jovian berdiri santai tepat di depan wajah Kafka. Piyama sutra hitam cowok 19 tahun itu sengaja dibiarkan terbuka tak dikancing, memperlihatkan dadanya yang rata dan kerempeng. Tatapan Jovian luar biasa merendahkan
           Sementara itu, Cello berdiri di lantai, merapat di belakang pinggul Devan, bersiap mengeksekusi Pria itu.
          
          Terdengar geraman tertahan dari arah kasur. Napasnya sudah berantakan.
          
          Mendengar rengekan putus asa itu, Cello tertawa kecil. Cowok bertubuh mungil itu maju selangkah, menempelkan dada tipisnya ke punggung lebar Devan yang berurat.
          
          Di balik perawakannya yang mungil dan slay, Cello nyatanya memiliki k*nt*l yang ukurannya benar-benar di luar nalar. Ujung yang panas dan berurat itu bergesekan sengaja di celah an*s Devan, membuat polisi itu refleks menahan napas.
          
          Tanpa basa-basi.  ia mulai memasukkan k*nt*lnya.
          
          Jleb.
          
          "Nghhh... shhh..."
          
          Full Version https://lnk.bio/Indofanfictio atau wa; 082394911522
          
          

IndoFanfiction

@ IndoFanfiction  Kalo keseringan updated takutnya ceritanya jadi gak bagus heheh
Contestar

juanpolii1

@ IndoFanfiction  udahh jarang update ya kak 
Contestar

IndoFanfiction

- PROYEK SENI (END) -
          
          "Shhh... lo denger kan napas Gani udah berat?" bisik Leo dengan nada bariton yang mengayomi. Hembusan napas Leo menabrak telinga Sean, membuat cowok bongsor itu merinding. "Tangan lo enak, Yan. Tapi bibir tebel lo itu pasti jauh lebih nikmat. Buka mulut lo buat dia."
          
          Gani mengelus pipi Sean dengan ibu jarinya, memberi sinyal lembut agar cowok berotot itu menuruti instruksi Leo.
          
          Sadar akan apa yang diminta darinya, Sean refleks sedikit memundurkan wajahnya. Sisa-sisa gengsi instingtifnya muncul, membuat telinga dan lehernya memerah padam. "N-nggak... aneh, anjir. Masa gue ngis*p punya cowok... temen sendiri? Gak mau gue," tolak Sean, suaranya bergetar ragu, napasnya memburu menatap ukuran Gani yang menjulang di depan wajahnya. "Lagian... ughhh... punya lo gede banget, Gan... aneh rasanya..."
          
          Full Version Link on Bio https://lnk.bio/Indofanfictio atau wa: 082394911522

IndoFanfiction

- PROYEK SENI -
          Ruangan seni rupa siang itu rasanya pengap, padahal AC sudah disetel paling dingin. Sean berdiri di depan meja Pak Heru dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana abu-abunya. Di atas meja, selembar kertas hasil ujian dan rekap absensi miliknya dipajang jelas. Angka merahnya mutlak, kontras dengan tumpukan piala balap motor yang biasanya dia banggakan di luar sekolah.
          
          "Gimana, Sean? Kamu mau balapan terus sampai lulus, atau mau saya bikin tinggal kelas?" Pak Heru mengetuk-ngetuk jarinya ke meja.
          
          Sean menghela napas pendek, berusaha menahan emosinya. "Ya tidak mau tinggal kelas lah, Pak. Ini makanya saya nanya, ada remedial tidak?"
          
          "Tidak ada remedial tulis buat kamu. Absen kamu kosong melompong gara-gara keseringan bolos pagi," kata Pak Heru tegas. Dia lalu mengambil satu berkas lagi dari laci. "Syarat kamu bisa dapet nilai aman cuma satu. Sekolah kita mau bikin instalasi patung buat pameran ulang tahun bulan depan. Proyek ini dipegang sama anak OSIS. Kamu gabung sama Leo dan Gani buat selesaiin itu."
          
          Dahi Sean langsung berkerut. "Hah? Leo sama Gani, Pak? Anak-anak OSIS yang kaku itu? Tidak ada kelompok lain apa? Saya tidak cocok sama mereka."
          
          "Tidak ada tawar-menawar. Mereka berdua yang paling bisa saya percaya buat ngawasin anak bandel kayak kamu. Kalau mereka lapor kamu males-malesan, nilai kamu langsung saya kunci di angka nol. Silakan keluar."
          
          Sean keluar dari ruang seni dengan perasaan dongkol setengah mati. Bayangan harus nongkrong bareng Leo dan Gani—dua cowok yang penampilannya selalu klimis, kemeja selalu dimasukin rapi, dengan postur tubuh slim-fit yang jauh dari kata sangar—bikin kepalanya makin pusing. Mereka berdua punya fisik yang berbanding terbalik dengan Sean yang berotot tebal dan urakan; Leo dan Gani lebih terlihat seperti anak baik-baik bertubuh ramping dengan pembawaan tenang yang cenderung dingin.
          
          Full Version Link on Bio atau wa: 082394911522

IndoFanfiction

- STEP BRO Chapter END -
          Naka menunduk, mengecup pelipis Arhan seraya berbisik dengan nada memuja yang sarat akan kepemilikan mutlak. "Naka suka banget sama badan Abang. Semua otot ini, keringat Abang, suara desahan Abang... semuanya cuma punya Naka. Enak kan, Bang, jadi punya Naka?"
          
          Arhan, yang masih setengah linglung akibat sisa-sisa overstimulasi, hanya bisa memejamkan mata. Egonya sebagai laki-laki garang sudah tak bersisa, sepenuhnya digantikan oleh rasa nyaman dan ketergantungan yang absolut. Pria raksasa itu mengusapkan pipinya ke dada Naka, meloloskan embusan napas panjang yang terdengar layaknya dengkuran pasrah.
          
          "Bacot lu, ..." gumam Arhan parau. Ia menyembunyikan wajahnya yang kembali merona di balik ceruk leher adiknya, sementara tangannya yang besar dan kapalan perlahan bergerak memeluk pinggang ramping Naka dengan protektif. "...tapi, iya... s-shhh... j-jangan berhenti bikin Abang gila kayak gini, Dek. Besok... tusuk Abang lagi."
          
          Full Version Link on Bio atau wa: 082394911522
          

IndoFanfiction

este mensaje puede ser ofensivo
- STEP BRO chapter 2
          
          Pemandangan di atas kasur itu memperlihatkan kontras fisik yang luar biasa tidak masuk akal. Tubuh Naka yang berkulit pucat, ramping, dan lebih pendek itu nyaris tenggelam sepenuhnya di antara kedua kaki Arhan yang mengangk*ng lebar. Bahkan, ukuran satu paha besar Arhan yang dipenuhi otot tebal dan urat menonjol itu terlihat jauh lebih besar dan masif dibandingkan keseluruhan pinggang dan panggul sempit Naka yang kini menancap di bawah sana. Arhan benar-benar seperti raksasa yang sedang dikalahkan oleh lawannya yang berukuran setengah dari tubuhnya.
          
          "Ahh... s-shhh... f-fuck... ketat banget, Bang..." desah Naka tertahan, membenamkan wajahnya tepat di ceruk leher sawo matang Arhan. 
          
          "Nghhh... j-jangan gerak dulu, Na... s-shhh... g-gua mohon, diem bentar... ahh... p-perut gua... hhh..." Arhan merintih memelas, suaranya sangat lirih dan parau, terdengar menyedihkan untuk ukuran seorang jagoan yang biasanya ditakuti.
          
          Kedua tangan besar Arhan yang lemas kini hanya tergeletak pasrah di sisi kepalanya. Dada bidangnya naik-turun dengan cepat. Pinggul besarnya berkedut pelan di atas sprei, mencoba menyelaraskan kapasitas tubuh bagian dalamnya dengan benda asing milik Naka yang kini bersarang maksimal dan menekan perut bawahnya hingga terasa sangat penuh.
          
          Naka mengecup rahang tegas dan dada basah Arhan dengan sayang, tangannya mengusap sisi perut six-pack Arhan yang kaku, membiarkan tubuh raksasa itu beradaptasi dalam diam. Di bawah temaram lampu meja malam itu, segalanya telah berubah. Laki-laki garang berbobot delapan puluh lima kilogram yang tergeletak telentang tak berdaya itu telah sepenuhnya terbuka, ditembus, dan takluk secara absolut di bawah kuasa adiknya yang secara fisik jauh lebih kecil. Arhan telah resmi menjadi seorang bottom.
          
          Full Version Link on Bio atau wa: 082394911522 Lagi ada promo beli 1 paket dapat 2 paket

IndoFanfiction

- STEP BRO chapter 1 -
          
          Slurp... slop... slurp...
          
          Suara isapan basah dan decakan ludah terdengar sangat jelas memecah keheningan. Arhan perlahan membuka kelopak matanya yang masih terasa berat sisa kantuk semalam. 
          
          Napas Arhan langsung tertahan di kerongkongan. Ia menunduk sedikit, menyingkap ujung selimutnya. Pemandangan di bawah sana sama sekali tidak membuatnya kaget, tapi tetap saja berhasil membuat kewarasannya melayang.
          
          Naka—adik tiri bungsunya yang bertubuh kurus—sedang bersembunyi di bawah sana. Kepala Naka bergerak maju-mundur dengan tempo konstan, menelan k*nt*l Arhan dalam-dalam.
          
          "Nghhh... shhh..." Arhan mengerang pelan. Kepalanya kembali bersandar ke bantal. Tangan besarnya yang penuh urat refleks mencengkeram seprai. "Na... udah... mhhh... gua capek banget sumpah..."
          
          "Ah...! Nghhh!" Arhan tersentak kaget. Tubuh raksasanya kelojotan pelan. "J-jangan digituin lagi, Na... mhhh... geli, bangsat... shhh... stop..."
          
          Plak.
          
          Sebuah tepukan lumayan keras mendarat di paha bagian dalam Arhan. Tangan Naka yang kecil dan kurus menekan paha berotot itu, memberikan isyarat bisu yang sangat mutlak.
          
          Ia menyerah. Dengan napas memburu dan dada bidang yang naik-turun berkeringat, Arhan menurut pasrah. Ia membiarkan kakinya didorong ke atas oleh tangan kecil Naka. Arhan mengangk*ng semakin lebar, mengekspos seluruh area pribadinya tanpa sisa rasa malu demi menyambut lidah adik tirinya yang kembali memberikan rimm*ng brutal.
          
          "MHHH...!! A-ahh... Na... i-iya... mhhh... enak... shhh..." Arhan meracau kacau, lengan besarnya kini menutupi kedua matanya sendiri menahan malu dan nikmat yang meledak-ledak.
          
          Gimana ceritanya jagoan sekolah kayak gua... pentolan yang ditakutin semua orang... sekarang malah berakhir ngangkang pasrah dan keenakan di bawah kendali bocah kurus ini?
          
          Full Version Link on Bio atau wa: 082394911522 lagi ada promo beli 1 paket dapat 2 paket