NaraGirlz

Danyon menatapnya beberapa detik, seolah memastikan anak buahnya benar-benar memahami instruksi tersebut. Barulah kemudian ia mengangguk pelan.
          	
          	"Kalau begitu kembali ke kompi."
          	
          	"Siap, Komandan."
          	
          	Jino memberi hormat sekali lagi. Setelah hormatnya dibalas, ia melangkah melewati sang komandan dengan tenang. Suara langkah sepatunya perlahan menjauh menyusuri koridor hingga akhirnya menghilang di balik pintu keluar klinik. Sementara itu, Danyon masih berdiri di tempat. Pandangannya mengikuti punggung Jino beberapa saat sebelum akhirnya beralih ke arah ruang pemeriksaan tempat Kiara masih berada. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah masuk ke dalam ruangan. 
          	
          	Pintu ruang pemeriksaan kembali menutup perlahan, menyisakan keheningan di balik dinding-dinding klinik. Tak ada yang menyadari bahwa siang itu, di benak seorang ayah, mulai tumbuh sebuah harapan yang melibatkan Arjino Dirgantara Widi. Harapan yang kelak akan menjadi awal dari serangkaian peristiwa yang tak pernah direncanakan oleh siapa pun. 
          	
          	https://www.wattpad.com/story/412512526?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=NaraGirlz

NaraGirlz

Danyon menatapnya beberapa detik, seolah memastikan anak buahnya benar-benar memahami instruksi tersebut. Barulah kemudian ia mengangguk pelan.
          
          "Kalau begitu kembali ke kompi."
          
          "Siap, Komandan."
          
          Jino memberi hormat sekali lagi. Setelah hormatnya dibalas, ia melangkah melewati sang komandan dengan tenang. Suara langkah sepatunya perlahan menjauh menyusuri koridor hingga akhirnya menghilang di balik pintu keluar klinik. Sementara itu, Danyon masih berdiri di tempat. Pandangannya mengikuti punggung Jino beberapa saat sebelum akhirnya beralih ke arah ruang pemeriksaan tempat Kiara masih berada. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah masuk ke dalam ruangan. 
          
          Pintu ruang pemeriksaan kembali menutup perlahan, menyisakan keheningan di balik dinding-dinding klinik. Tak ada yang menyadari bahwa siang itu, di benak seorang ayah, mulai tumbuh sebuah harapan yang melibatkan Arjino Dirgantara Widi. Harapan yang kelak akan menjadi awal dari serangkaian peristiwa yang tak pernah direncanakan oleh siapa pun. 
          
          https://www.wattpad.com/story/412512526?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=NaraGirlz

NaraGirlz

Hubungan jarak jauh itu sebenarnya kuncinya cuma dua: percaya sama komunikasi yang tuntas." Joni menarik napas pelan sebelum melanjutkan. "Nanti kamu ketemu lingkungan baru, murid baru, teman kerja baru. Jino juga bakal sibuk luar biasa sebagai DanKi baru. Sama-sama capek, sama-sama punya tanggung jawab. Nah... biasanya ego mulai muncul di situ." Ia tersenyum kecil. 
          
          "Apalagi kalian arahnya sudah mau membangun rumah tangga. Kehidupan setelah menikah itu bukan lagi soal siapa yang paling romantis. Tapi siapa yang mau sama-sama belajar mengalah."
          
          Joni mengembuskan napas pelan. Pandangannya tetap lurus ke depan, sementara kedua tangannya mantap menggenggam kemudi. Cahaya lampu jalan sesekali menyapu wajahnya yang tenang.
          
          "Wendy. Jino itu tentara. Di batalyon dia terbiasa menghadapi tekanan, mengambil keputusan, bahkan memimpin ratusan orang. Tapi begitu dia pulang ke kamu meskipun cuma lewat telepon dia cuma butuh satu tempat. Tempat yang bikin dia bisa jadi dirinya sendiri. Bukan tempat untuk dihakimi." 
          
          
          https://www.wattpad.com/story/412512526?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=NaraGirlz

NaraGirlz

BLIND DATE BLUNDER PART 41 UPDATE
          
          Kenapa selalu Mas yang harus mengalah?
          Kenapa selalu Mas yang harus menyesuaikan langkah?
          
          Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya tanpa jawaban. Tenggorokannya terasa tercekat, seperti ada sesuatu yang mengganjal dan tidak bisa ditelan. Napasnya menjadi pendek. Tangis yang ia tahan sejak tadi menekan dadanya dari dalam, membuat ulu hatinya perih. Rasanya sakit, bukan sakit yang bisa ditunjukkan, tapi sakit yang diam-diam menggerogoti. Lalu pikiran itu datang. Pikiran yang pasrah dan lelah. 
          
          “Mas…” suara Wendy bergetar saat akhirnya keluar, lirih tapi jujur. “Kalau misalnya kamu keberatan aku nggak apa-apa.”
          
          https://www.wattpad.com/story/404303857?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=NaraGirlz

NaraGirlz

Blind Date Blunder part 3 sudah publish ya 
          
          ******
          
          Kenapa ya,  kok gw ngerasa aneh. Kayak bakal ada masalah gede," gumam Jino. Dia mencoba mengabaikan dan mulai nyendok nasi lagi. Tapi tiap kali mau makan, bibirnya refleks menghindar, takut kegigit lagi. “Fix. Ada yang gibahin gue. Serius," katanya frustasi. Walaupun begitu akhirnya Jino melanjutkan makan dengan hati was-was, sambil ngeluh sendiri. Dia sudah kelaparan. Kalau pun kegigit lagi gas aja. “Lagian, siapa sih yang nggak punya kerjaan gibahin gue malem-malem gini," omelnya. 
          
          Arjino benar-benar nggak tahu. Sedangkan di belahan dunia yang lain. Di saat yang sama, di tempat yang berbeda. Wendy lagi setengah panik curhat ke Hoba soal pacar online adeknya yang nggak lain adalah bos-nya Hoba. Belum lagi tentang segala printilannya. Lebih tua. Jutek. Diisukan belok. Dan kemungkinan besar pedofil.
          
          Sementara Hoba heboh sampe keringetan sendiri membalas chat Wendy. Keduanya menyebut nama Arjino berkali-kali. Gosipnya makin liar. Dan Arjino? Dia cuma duduk di dapurnya sambil ngunyah rendang, merasa hidupnya terancam tanpa tahu apa-apa. 
          
          ******
          
          https://www.wattpad.com/story/404303857?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=NaraGirlz