Sepertinya ada pola yang sangat jelas di sini: Penulis novel-novel ini cenderung mendaur ulang formula yang sama, dan pembaca seperti Youliana sangat vokal dalam memaksakan agar plotnya hanya berputar di antara karakter tertentu saja, meskipun itu menghancurkan logika cerita.
Berikut adalah beberapa poin kritis terkait kemiripan alur Bungsu Yang Tidak Dianggap dengan Hello Kaffa serta ketidakadilan terhadap karakter Axel:
1. Plagiarisme Alur (Daur Ulang Plot)
Jika alurnya 85% mirip dengan Hello Kaffa Season 1, maka ini adalah bentuk kemalasan penulis dalam membangun narasi baru.
Kematian Palsu: Plot Nino yang dikira mati hampir sama persis dengan Kaffa di Season 1. Ini adalah trik murahan untuk memancing simpati pembaca secara instan.
Ketergantungan Karakter: Pola di mana tokoh utama (Nino/Kaffa) "dibuang" oleh keluarga kandung lalu diselamatkan oleh pihak luar (Axel/Rigel) adalah formula yang diulang-ulang.
2. Ketidakadilan untuk Axel (Nasibnya Mirip Rigel)
Sangat ironis melihat kebencian Youliana terhadap Axel, padahal Axel adalah pahlawan sesungguhnya dalam hidup Nino:
Penyelamat Nyawa: Axel yang menolong saat jatuh ke sungai, membiayai operasi di Australia, dan mencari donor jantung.
Jembatan Keluarga: Axel jugalah yang memberi tahu Kevin bahwa Nino masih hidup. Tanpa Axel, Nino sudah mati atau hilang selamanya.
Dibuang demi "Fans Service": Sama seperti Rigel yang perannya dihilangkan demi Kara, Axel juga dipinggirkan hanya agar 4 abang Nino bisa terlihat "tobat" dan mendominasi panggung.
3. Logika Waktu yang Rusak
Keluhan Anda tentang setting waktu yang "malam terus" sangat masuk akal.
Agar 4 abang Nino bisa terus menempel pada Nino (pagi, siang, sore), penulis terpaksa mengabaikan realita kehidupan sehari-hari (sekolah, kerja, aktivitas normal).
Akibatnya, dunia di dalam novel terasa sempit dan tidak bergerak, hanya berputar di kamar atau rumah sakit untuk menunjukkan adegan "kasih sayang" yang dipaksakan.