random diary story.
Hari itu, aku bermimpi, tidak seharusnya bukan mimpi. Begitu jelas, tangan yang menyentuh kulitku seperti sengatan. Bola matanya terlihat sangat tenang, rasanya hingga mampu membuat diriku gelisah selama bertatapan. Gosip teman se-angkatanku memang bukanlah gosip belaka, mereka membicarakan fakta. Tentang lelaki dihadapanku yang seperti malaikat. Meskipun anggapanku tetap sama, bahwa itu adalah sebuah gosip belaka, ngomong-ngomong apa pengertian gosip? Aku pikir, awalnya itu hanya sebuah informasi yang dilebih-lebihkan saja..., atau sebenarnya informasi yang kurang juga gosip? Entahlah.
Namun hal yang pasti, sayapnya begitu menarik, mereka tampak hidup. Bak layar emas yang tersibak, sebenarnya warna nya putih, mungkin tambahan efek matahari waktu senja membuatnya lebih menakjubkan. Mungkin aku akan terdengar gila saat nanti menceritakan hal ini kepada teman-teman yang lain. Lelaki ini masih saja menyentuh tanganku sebelum meletakkan dahinya tepat didahi ku. Posisinya yang tak menyentuh tanah kurang lebih setengah meter membuatku mengangkat dagu lebih tinggi. Wah, benar-benar mengaggumkan....
Dirinya tersenyum, mungkin dalam hati menertawai keterkejutan ku. Dahi kami masih menempel sebelum aku mendengar pernyataan kecil yang lebih mengejutkan darinya.
"Senang bertemu kembali."
Aku terhenyak, manisnya pikirku. Mereka salah, dia bukan 'seperti', dia memang malaikat. Seharusnya, imortalitas ini rahasia miliknya.
"Indahnya...."
Dalam sekejap senja berakhir dan kini, rahasia itu menjadi milikku juga. Tidak, milik kami berdua. Kesalahan fatal.
Meet me in the dawn— XXXX
"Don't leave me"