"Selisih Jarak AntarRak"
Seluruh bagian ruangan ini terasa menyenangkan. Anehnya, tidak seperti pasar malam yang memiliki komedi putar atau permainan papan meja yang bisa dimainkan oleh segerombolan manusia. Tempat ini hening, sepi, namun menenangkan, rasanya begitu nyaman.
Berlebihan jika aku mengatakan benar-benar mencintai ruangan ini. Aku bukanlah perfeksionis yang menikmati beribu buku dengan tatanan teratur. Bukan pula seseorang dengan keterampilan sosial lemah, apalagi manusia dengan minat intelektual tinggi.
Hanya saja, menyadari keseriusan wajahmu diantara sela buku yang ditarik membuatku terhanyut. Diriku terbiasa mengikuti perubahan air muka setiap kali suara gesekan kertas terdengar. Sayangnya, karena manusia hidup dalam ketakutan dan rasa skeptis. Aku tahu bahwa pecahan bola kristal salju mampu melukai kakiku juga. Aku takut jika suatu saat duniaku berakhir, tetapi selisih jarak antarrak menjadi batas yang paling dekat.