*Cuplikan scene chapter lanjutan untuk chapter baru cerita Maybe tomorrow
{besok bakal update ya. Malam ini diundur dlu krna aku lagi gk enak badan kondisinya. scene penutupnya belum bisa kuselesaikan}
~~
"Oke... gue akan pergi deh, tapi tolong lepasin Zia dan jangan peluk Zia sekuat ini, dia bisa kehabisan napas sebelum penghulu dateng!"
"Gak perlu ajarin gue harus perlakuin Zia seperti apa, dulu lo itu lebih brengsek dari gue terhadap dia!"
"Ya udah, terserahlah... gue pamit sekarang!"
"El!" dengan sisa tenaganya yang sudah sangat minim karena sedari tadi harus melawan Garuda untuk berontak dan berusaha berteriak meski mulutnya sempat dibekap erat juga oleh lelaki di sisinya ini, Zia sengaja mencekal pergelangan kiri Elang hingga lelaki itu tak jadi berdiri dari posisi setengah bersimpuhnya.
"Ya, Zee... ada apa? Kamu mau menyampaikan sesuatu terakhir juga kah sama aku?"
"Tolong..."
"Sayang, kamu sepertinya beneran harus dimake - up lagi deh, ngobrolnya lebih baik gak usah, ya!" kembali takut Zia memberi tahukan Elang tentang perlakuannya yang tidak diketahui oleh Adeknya itu, Garuda tiba - tiba bicara juga. Memotong lagi dengan paksa ucapan Zia.
Setelah itu hendak membekap mulut Zia lagi dengan berpura - pura mencium pipinya. Namun, langsung ditepis oleh Zia cepat.
"Iish... berhenti bersikap sok baik denganku!"
"Loh... aku ini kan memang selalu baik sama kamu... sayang, kenapa kamu ngomongnya begitu sih?"
Zia menggeleng kecil sekilas, lalu menoleh ke arah Elang lagi saat menyadari ternyata Garuda benar - benar semenakutkan itu. Saat mereka berdua beberapa menit lalu ia terlihat bagaikan iblis yang mempunyai rasa kasihan padanya, sementara sekarang dia bak malaikat penuh kasih sayang di depan banyak orang. Benar - benar bermuka dua. "El, to-tolong bawa aku pergi denganmu saja, oke? Aku hampir diperkosa tadi di sini sama Abangmu ini, aku gak mau nikah sama dia! Aku berubah pikiran mulai detik ini!"