mimiiiii31

Mungkin setelah UAS nanti aku punya waktu jeda sekitar kurang lebih 3 bulan. Aku punya niat buat cicil wahana emosi yang sebelumnya tertunda. (FOR DANU  dan AU HOUSE NO. 24 Au vers). 
          	Aku sadar keterbatasan aku yang belum menguasai sepenuhnya tentang au. Jadi aku berniat buat rombak Au House No.24 S2 jadi wp. Gak masalah kan temen-temen? 

Myeonie_

@ mimiiiii31  iyaaa
Reply

mimiiiii31

Mungkin setelah UAS nanti aku punya waktu jeda sekitar kurang lebih 3 bulan. Aku punya niat buat cicil wahana emosi yang sebelumnya tertunda. (FOR DANU  dan AU HOUSE NO. 24 Au vers). 
          Aku sadar keterbatasan aku yang belum menguasai sepenuhnya tentang au. Jadi aku berniat buat rombak Au House No.24 S2 jadi wp. Gak masalah kan temen-temen? 

Myeonie_

@ mimiiiii31  iyaaa
Reply

mimiiiii31

*Paradox Society* 6
          
          Anak itu tampak merengut sedih. Namun tak lama, rautnya kembali berubah saat melihat satu penumpang yang seperti ibunya. 
          
          "Tante, diperut Tante ada adik bayi ya? Sama seperti ibuku," katanya. 
          
          Wanita yang disapa itu tersenyum lalu menggeleng.
          
          "Huh? Lalu?" 
          
          "Bom," 
          
          Tepat setelah itu, laju kereta mulai acak. Gesekan nyaring dari roda besi dan rel sangat menyakiti telinga. Suasana mulai ricuh, para penumpang gelisah bahkan tak sedikit yang berteriak dan berdoa untuk keselamatan diri mereka sendiri.
          
          "Kereta ini telah kami bajak. Jadi, kalian semua diam!" 

mimiiiii31

*Paradox Society* 5
          
          "Terimakasih, tuan... huh ... huh..." ucap gadis itu pada pria asing yang membantunya. Tak ada suara yang terdengar sebagai balasan. Hanya anggukan kepala lalu pria itu mempersilahkan si gadis duduk. 
          
          Suasana kereta tampak aman, dan tenang. Para penumpang sibuk dengan dunianya sendiri. Ada pula yang memperhatikan sekitar seperti si anak kecil dengan balutan seragam sekolah dasar. Anak itu mengangguk dan tersenyum saat melihat pakaian yang dipakai setiap penumpang beragam, juga barang yang mereka bawa. Terlebih saat melihat sosok bercadar yang berdiri. Sepertinya ia tak kebagian tempat duduk. 
          
          "Ibu, aku akan memberikan tempatku pada orang itu..." izin anak itu pada ibunya. 
          
          "Jangan. Tetap di sisi ibu," balas si ibu sambil mengelus perutnya yang agak membuncit. 

mimiiiii31

*Paradox Society* 4
          
          Bisingnya pusat kota bukan lagi hal asing. Kendaraan berlalu larang, klakson dibunyikan, suara decitan rem mengganggu telinga. Seperti itulah sibuknya pusat kota. Di lain sisi, seorang gadis berlarian mengejar jadwal berangkat kereta. Macetnya pusat kota kali ini bukan kebetulan, melainkan rencana yang telah di susun rapi oleh sang ahli.
          
          "Ya ampun pintunya!" gadis itu memekik saat pintu kereta akan ditutup, sementara langkahnya masih terpaut cukup jauh. 
          
          "Papa, lain kali aku akan minta di belikan kereta pribadi." rutuknya selama kaki melangkah. 
          
          Gadis itu hampir menyerah, setika kereta mulai melaju perlahan. Sampai satu lengan terulur, matanya membulat dan senyumnya terbit. Segera ia meraih tangan itu. 

mimiiiii31

*Paradox Society* 3
          
          "Lo yakin, yon?" ucap seorang lelaki pada teman sekaligus pemimpin komunitasnya. 
          
          "Hitung berapa kali rencana gue gagal?" bukan menjawab, Sion malah membalas dengan pertanyaan. 
          
          "Nol," jawab anggota termuda. 
          
          "Lo masih raguin rencana gue?" pertanyaan yang Sion arahkan pada Ryo. 
          
          "Tapi, bang... beberapa pengacara dan inspektur yang lama ... mereka nyerah..." Ryo menggantungkan kalimatnya.
          
          "Baguslah kalo gitu!" sahut yang tertua ketiga, Yushi.
          
          "Ck, dengerin sampe beres kalo orang Intel ngomong!" ketus Riku. 
          
          "Sensi amat, buset. Napa emang cil?" Yushi yak kalah ketus membalas ucapan Riku. 
          
          "Kalo dugaan gue gak meleset. Nanti kasus ini bakalan ditangani sama ... Jaehee," lanjut Ryo. 
          
          "Anak yang satu panti asuhan sama bang Sion?" ucap Sakuya dengan ragu. 
          
          "Ralat. Udah jadi adeknya dah," Sakuya mengoreksi ucapannya sendiri. 
          
          "Semua rencana gue susun. Gue pertumbangin banyak konsekuensi, kalo kali ini gagal. Dia emang adek gue," ucap Sion.

mimiiiii31

*Paradox Society* 2
          Lalu bandingkan dengan seorang pengusaha tersohor. Uang bukan hanya membeli kuasa, tapi juga membeli kepercayaan. Seorang anak yang terlahir dari keturunan kaya raya akan dengan mudah memiliki akses. Kepercayaan telah dia dapatkan dari rekan orangtuanya. Hanya dengan menyematkan nama keluarga, jalannya dipermudah. Satu hal lagi, jika ayah dan ibumu terpandang maka kau akan dianggap layak.
          
          Seorang anak buruh mengajukan beasiswa untuk meringankan beban orangtuanya. Lalu beberapa saat kemudian, seorang anak pembisnis juga mengajukan beasiswa untuk membuktikan kepada orangtuanya jika ia bisa tanpa nama keluarga. 
          
          Keduanya memiliki niat yang mulia. Namun tanpa kalian sadari, mengambil mutiara dapat membuat si kerang stres bahkan mati. Niat baik tak selamanya memberi kesejahteraan.
          

mimiiiii31

*Paradox Society* 1
          
          Sindiran kau punya uang, maka kau punya kuasa memang betul adanya. Kalimat yang menggambarkan keadaan sosial suatu negeri yang sakit dan masa depan pewaris yang sangat menghawatirkan. Penggambaran sederhana, seorang buruh tani bekerja banting tulang untuk menyekolahkan anaknya. Berani berhutang untuk menunjang keperluan dan kelangsungan pendidikan anaknya. Hanya untuk gelar di nama belakang, mampu membuat hatinya merasa berjaya. Tak sampai sana, setelah anaknya mendapat gelar. Satu persatu hutang yang ia timbun harus segera dibayar. Perjuangannya tak hanya sampai sana. Masih berlanjut, rasa puas yang ia rasakan hanya sementara.