Jungkook perlahan melepaskan tangan Nayeon dari pinggangnya.
Gerakannya tidak kasar—tetapi tegas.
Ia berbalik menghadap Nayeon. Jarak mereka kini begitu dekat hingga ia bisa melihat dengan jelas mata gadis itu yang masih sedikit basah, penuh keyakinan yang terasa terlalu murni untuk dunia yang sekeras ini.
Dan justru itulah yang menyakitinya.
"Im Nayeon..." Suaranya rendah, berat, hampir bergetar namun ditahan.
Ia menatap gadis itu lama, seolah mencoba memahami bagaimana seseorang bisa sesederhana itu dalam mencintai.
"Kau terlalu lugu," lanjutnya pelan.
Alis Nayeon berkerut. "Apa maksudmu?"
Jungkook tertawa kecil—tawa yang tidak mengandung kegembiraan. Ia mengusap wajahnya, lalu menghela napas panjang.
"Kau mengatakan semua itu seolah dunia hanya tentang perasaan," timpalnya. "Seolah cinta saja cukup."
Ia menoleh sejenak ke sekeliling flat kecilnya—dinding yang catnya mulai pudar, jendela sempit yang nyaris tidak membiarkan cahaya masuk penuh, kasur tipis yang menjadi satu-satunya tempat ia beristirahat setelah bekerja dua kali lipat setiap hari.
"Tempat ini bukan sekadar ruangan kecil," ucapnya lirih. "Ini adalah batasanku."
Nayeon hendak menyela, namun Jungkook mengangkat tangannya pelan, meminta waktu untuk menyelesaikan kalimatnya.
"Aku tidak ingin kau menerimaku hanya karena kau baik," lanjutnya. "Aku tidak ingin kau tetap di sampingku hanya karena kau merasa harus kuat untuk kita berdua."
Ia menatap Nayeon lagi.
Sorot matanya tidak marah. Tidak tajam.
Namun dipenuhi sesuatu yang jauh lebih rapuh.
"Aku tidak ingin dikasihani."
Kalimat itu jatuh pelan, namun tajam.
Nayeon terpaku.
"Aku mengerti kau tulus," lanjut Jungkook, suaranya kini lebih dalam. “Aku tahu kau tidak memandangku rendah. Tapi justru itu yang membuatku semakin... merasa kecil.”
— house of cards from ASFY Part 8 out now, yeorobun! <3