nurulkhudah

Selalu saja seperti ini, bahkan memulai berbicara sedikit saja terasa sulit.
          	
          	Jika saja ada alat untuk mentransfer fikiran langsung kepada seseorang tanpa harus memulai berbincang yang sulit seperti ini, itu pasti lebih baik.
          	
          	Bukannya aku malas untuk berbicara atau yang lainnya, namun aku takut jika nanti ucapanku tidak jelas karena terhalang oleh tangisan.
          	
          	Tangis yang sudah berderai, bahkan sebelum memulai semuanya.

nurulkhudah

Selalu saja seperti ini, bahkan memulai berbicara sedikit saja terasa sulit.
          
          Jika saja ada alat untuk mentransfer fikiran langsung kepada seseorang tanpa harus memulai berbincang yang sulit seperti ini, itu pasti lebih baik.
          
          Bukannya aku malas untuk berbicara atau yang lainnya, namun aku takut jika nanti ucapanku tidak jelas karena terhalang oleh tangisan.
          
          Tangis yang sudah berderai, bahkan sebelum memulai semuanya.

nurulkhudah

Harapanku cukup sederhana, melihat mereka tersenyum adalah segalanya bagiku.
          
          Namun, mengapa semuanya tidak mendukung?! Bahkan kepercayaan yang dulu selalu ku genggam, kini telah tiada.
          
          Ku tau mungkin ini semua terjadi karena salah ku. Dan akhirnya, tinggal aku sendiri.
          
          Dan mungkin akan selalu begitu.
          

nurulkhudah

Ku pikir semuanya berjalan lancar.
          
          Nyatanya, semua berakhir berantakan.
          
          Harapan itu, sebenarnya masih tergenggam. Namun, ada rasa yang tak lagi sama.
          
          Aku pun tau, mungkin ini sudah tak lagi sama. Meski ku tak ingin mempercayai hal itu.
          
          Apa daya, semua seakan di luar kendali ku. Lagi.

nurulkhudah

Hari ini, aku tersenyum lagi. Rasanya sudah lama banget. Bahkan, aku sudah lupa caranya untuk sekedar bahagia.
          
          Perjalanan hidup mengajarkan ku mengerti apa artinya sebuah harapan dan usaha. Mungkin aku kalah dalam usaha, terbukti dengan diri ini yang sudah berteriak lirih. Memohon untuk segera mengakhiri segalanya. Aku bisa apa, jawabannya tak ada. Aku hanya bisa melalui ini semua.
          
          Dan harapan, harapan adalah satu-satunya hal yang ku miliki saat ini. Walau diri ini sudah tak lagi sama, namun harapan itu senantiasa aku genggaman. Aku harap, ia tidak rusak bahkan hilang. Walau, tangan yang menggenggamnya tak lagi sama.
          
          Suatu hari, aku berharap harapan yang ku genggaman kini akan menyelamatkan ku dari gelapnya hidup ini. Saat ini, kutitipkan harapan itu kepada-Nya. Keputusan akhir dari cerita ku ini adalah kuasa dari Allah. Yang senantiasa ku bisikkan kalimat agar harapan itu kelak menjadi kenyataan.
          
          Walau raga dan jiwa tak lagi sama. Aku berharap, harapan itu akhirnya datang menjeput ku pada saat yang sama. Saat harapan itu ku genggam.
           #cerita untuk sore ini...
          

nurulkhudah

Terlalu banyak hal yang terjadi dalam hidup ini. Terlalu banyak hingga aku hanya bisa terpaku menatap semuanya. Aku bagaikan menatap sebuah kabut yang menutupi sesuatu di depan sana.
          Membuatku terus berfikir mengenai hal yang bersembunyi di baliknya. 
          Apakah itu sesuatu yang dapat melukiskan Senyuman. Atau sesuatu yang dapat menggoreskan Luka. 
          
          Jika boleh jujur, Aku saat ini sangat takut.
          Takut untuk melangkah maju kedalam kabut tersebut. Namun di lain sisi, aku juga ingin melihat apa yang sebenarnya tersembunyi di dalam sana. Atau lebih tepatnya apa yang sedang menungguku di sana. 
          
          Di dalam keterpakuan ku ini, hanya satu hal yang ku tau pasti. Cepat atau lambat, Kabut itu akan datang menghampiriku.
          
          Karena, Hidup berjalan dengan segala mesteri yang dimilikinya.
          
          By; Nurul Khudah.