(12) a slice of cakes

435 86 10
                                        

Buat Eunha

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Buat Eunha.

As your wish, hari ini gak ada bekal.
Tapi gue beliin kue dari toko kue favorit gue. Dijamin ini enak.

Tenang, ini yang terakhir kok.

Jangan sampe sakit, tetep semangat.

-jjk

























"Jungkook?"

Panggilan pelan itu membuat si empu nama tersentak. Kepalanya menoleh, berusaha setenang mungkin menatap Eunha si pemilik loker. Walaupun dalam hati, udah teriak-teriak malu terciduk seperti ini.

Eunha mendekat, melirik tangan Jungkook yang masih di dalam lokernya menaruh note di atas kotak kue untuknya.

Gadis itu ganti menatap sosok pemuda tegap di depannya ini. Ia tersenyum tipis.

. . .

Keduanya duduk di bangku yang ada di taman sekolah. Di meja, ada kotak kue dari Jungkook. Dan dua kotak susu dari Eunha yang sebenarnya untuk Mina.

Canggung.

Masalah ini emang lumrah. Mengingat Jung Eunha dan Jeon Jungkook memang bukan dua jenis manusia yang bisa saling mengakrabkan diri.

Keduanya cuma saling tahu nama.

Mereka pernah berada di kelas yang sama di tahun pertama kemarin. Sebelum akhirnya kenaikan kelas, Eunha pindah ke jurusan Sastra. Sementara Jungkook masih melanjutkan di jurusan Liberal Seni.

"Dimakan, Na. Keburu meleleh krimnya." Ucap Jungkook mengambil alih atensi Eunha, mulai membongkar kotak kue itu. Memberikan garpu kepada si gadis yang masih bengong.

"Jadi ... bener lo yang selama ini ngirim bekal ke loker gue?" tanya Eunha setelah selang hening beberapa saat.

Jungkook mengangguk, menggaruk tengkuknya--gestur blak-blakan yang memberitahu kalau ia sedang gugup.

"Semuanya? Dari sandwich itu?"

"Iya, Eunha."

"Lo yang masak sendiri?"

"Beneran, Na. Mana ada gue bohong? Lo liat tangan gue deh."

Kini Jungkook menunjuk jari-jari tangannya. Ada beberapa bekas luka, dan tempelan plester luka.

"Itu gue dapetin pas main pisau."

Sampai detik ini Eunha masih nggak bisa percaya kalau si stranger yang selalu menaruh kotak bekal di lokernya itu adalah Jeon Jungkook.

Alasannya ya... please deh? Jungkook itu salah satu cowok populer. Yang katanya ganteng, ramah, baik ke semua orang, dan pintar. Baru-baru ini dia juga baru saja dijadikan kapten klub basket di sekolah.

Jeon Jungkook--atau lebih akrab dipanggil Jeka--itu memang definisi manusia nyaris sempurna.

"Jek, gue nggak ngerti kenapa lo baik banget deh. I mean, you know that I don't like you?"

Dari awal, Eunha udah sering lempar tatapan sinis ke Jungkook nggak tahu kenapa. Mungkin karena sikapnya yang menurut Eunha terlalu caper. Dan stereotip orang yang bilang kalau Jungkook... yeah, fuck boy.

"Gue juga nggak tau, Na. Ini terjadi begitu aja." jawab Jungkook pelan, merasa bingung juga.

Dia juga sama sekali nggak mengerti dengan dirinya. Yang dia ingat, ini semua dimulai saat pertama kali Jungkook nggak sengaja melihat Eunha mengantre di kedai roti kukus dekat sekolahnya. Lalu makan tiga bungkus sendirian.

Lucu.

Dan itu membekas di hati Jungkook. Secara nggak sadar ingin memberi masakannya sendiri kepada Eunha, melihat ekspresi gembira dan lihat gadis itu makan dengan lahap.

"Gue suka lihat lo makan. Liat mulut lo penuh gitu, ngunyah-ngunyah lucu. Dan pipi lo yang gembil itu, gue suka liatnya."

Eunha menatap Jungkook yang keliatan lugas. Seperti serius dengan kalimatnya tadi.









"Lo suka gue, Jek?"









Pertanyaan itu telak.









"Ya. Gue suka."









Dan jawabannya lebih yakin.



















"Na, jadi pacar gue mau?"

lunch box. ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang