Malang, 18.25 WIB
.
.
.Sesaknya dada terasa membekas, walau sudah hampir seminggu lamanya. Dengan wajah lelah, pemuda itu melemparkan tas dan melepas atribut sekolah yang dia kenakan. Hingga menyisakan boxer hitam dan kaus putih yang dia gunakan.
Bugh...
Dentuman terdengar, kala dia menjatuhkan diri diatas kasur empuk miliknya. Saking lelahnya dia hari ini. Lantas mencoba untuk memejamkan mata merasakan dinginnya kasur.
"...gue minta putus."
Ck, itu lagi. Makinya sambil membuka mata.
Rasa gusar yang kembali melanda, dia memutar balikkan tubuhnya memluk guling. Lantas mencoba menutup matanya kembali. Berharap bayangan nya tentang kejadian seminggu yang lalu berhenti berputar di otaknya.
"Daffa, please lepasin gue."
"Kenapa? Kenapa gue harus lepasin lo?"
"Karena gue udah bosen sama lo."
Ah sialan...
Matanya pun mau tak mau terbuka. Tubuhnya kembali merebah. Dengan rasa pasrah, pemuda itu menatap nelangsa langit langit kamarnya. Mengulang adegan yang tak ingin dia ingat.
Rasanya, ingin dia maki gadis yang sudah mencuri hatinya itu. Tapi dia tak mampu.
"Ayo dong move on." Ucapnya pelan menyemangati diri sendiri.
Lelah dengan posisinya, pemuda itu bengkit dari tidurnya. Dan berjalan menuju jendela kamarnya yang terbuka.
Malam yang menjelma.
Diliriknya jam dinding yang terpasang, lantas mengangguk takzim. Oh udah jam segini, pantes aja.
Maka, hembusan nafasnya berbaur dengan semilir angin. Berusaha untuk menenangkan diri bahwa dia baik baik saja. Dan berharap perasaannya akan cepat pudar seiring berjalannya waktu.
Lo kenapa sih? Bucin banget. Inget lo udah gak dibutuhin lagi.
Lelah.
Dia sudah lelah. Dengan rasa bosan, sakit, dan rasa campur aduk lainnya, dia mengambil gitar yang selalu dia simpan di dekat jendela. Lantas memainkannya sembari duduk di daun jendela kamarnya. Tak peduli dia akan terjatuh dari lantai dua. Tapi itu memang kebiasaannya.
Ting... ting... ting... jreeeng...
Sesekali diputanya tuner gitar sambil memetiknya. Membenarkan nada nada sumbang. Lalu mencoba memainkan melodi nya dengan sempurna.
"Pas." Ucapnya setelah merasa nada gitar nya sudah tak sumbang lagi.
Dia terdiam sejenak. Memikirkan lagu apa yang ingin dia mainkan.
"MAININ LAGU WAKTU KITA MASIH PACARAN DONG!"
Seketika dia refleks melihat kearah rumah tetangganya. Lebih tepatnya, rumah mantannya yang baru saja putus seminggu yang lalu.
Damn! Kenapa harus muncul sih?
Satu fakta yang tidak bisa dia hindari, yakni mantannya merupakan tetangga sekaligus teman sekelasnya. It's so funny right?
"HAH?" balas nya pura pura tak mengerti.
"MAININ LAGU WAKTU KITA PACARAN DONG! KANGEN NIH!"
Dengan wajah stay coolnya, dia tersenyum smirk mengejek mantannya yang ada di sebrang. "GAK BISA MOVE ON YA MBAK?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Indestructible
Teen FictionIndestructible: The Pinnacle of The Coin That Was Thrown Someone once said to me, "humans have 3 faces. and we don't know which one to use." Gue kira, ini cuman omong kosong. Dan seiring berjalannya waktu...