10. Mawar Biru

21 8 0
                                    

Pagi ini, setelah sarapan, Nara dan Yuko sudah siap untuk melanjutkan agenda liburan mereka di Shima Onsen. Mereka berencana menjelajahi beberapa tempat di sana, yaitu Kuil Hiyorimi Yakushido, Air Terjun Koizumi, dan Danau Okushima. Mereka berangkat dengan mobil, membawa serta semua barang pribadi karena mereka akan langsung ke stasiun setelah puas berwisata.

"Kau tidak akan mengurus pekerjaan, 'kan?" tanya Nara saat melihat Yuko mengutak-atik ponsel dengan ekspresi serius.

"Tidak, aku sudah minta bantuan temanku kemarin."

Nara mengelus dagu. "Meminta bantuan, ya?"

"Ya, cuma sedikit. Kemarin saat di kereta aku sudah hampir membereskan tugasku," jelas Yuko.

"Kau memberinya imbalan?"

"Tidak. Sudah seharusnya rekan kerja saling membantu." Yuko terdiam sejenak. "Mungkin aku akan mengajaknya makan siang untuk berterima kasih."

"Baguslah."

Mobil mereka melaju santai di jalanan yang sepi. Keduanya bercengkerama sembari menikmati pemandangan. Di kiri mereka berjejer pertokoan dengan gaya bangunan yang khas, sedangkan di kanan membentang hutan dan sungai berlatar perbukitan yang hijau. Langit biru cerah berhiaskan awan tipis menemani perjalanan mereka.

Tak lama kemudian, mereka tiba di Kuil Hiyorimi Yakushido, kuil bersejarah yang berumur lebih dari 400 tahun. Bangunan kuil itu sederhana, nuansanya sangat berbeda dibandingkan kuil-kuil megah di Kyoto. Sebagian besar bagian Kuil Hiyorimi Yakushido terbuat dari kayu, tampak serasi dengan asrinya pepohonan di sekitar kuil.

"Ayo berkeliling," ajak Yuko, tersenyum riang.

Mereka menjelajahi area sekitar kuil, sesekali berfoto bersama. Yuko mengambil banyak sekali foto dengan bermacam gaya, sedangkan gaya Nara hanya senyum-senyum saja. Yuko terkekeh melihat hasil foto itu.

"Sekian banyak foto, dan gayamu hanya itu-itu saja," ejek Yuko.

Nara menggaruk kepala. "Aku kehabisan gaya."

"Keluarkan kegilaanmu."

Yuko memegang ponsel, berswafoto dengan Nara. Kali ini, Nara tak ragu membuat ekspresi lucu walaupun masih kurang luwes. Yuko sampai harus menahan tawa melihat raut wajah Nara.

Tak butuh waktu banyak untuk menelusuri kuil itu karena areanya tidak luas. Mereka lantas menuju Air Terjun Koizumi, tak jauh dari sana.

Sayangnya, mereka hanya bisa menikmati indahnya air terjun dari kejauhan. Hujan kemarin membuat trek menjadi licin dan susah dilalui. Meski begitu, air terjun itu tampak jelas. Airnya mengucur deras dan area sekitarnya dihiasi hijaunya pepohonan yang rimbun. Sebelum melanjutkan perjalanan, Yuko mengambil beberapa foto dengan ponsel.

Tujuan terakhir mereka adalah Danau Okushima. Ditemani kopi dingin dan makanan ringan, mereka menikmati pemandangan danau dari kafe yang terletak tak jauh dari sana. Danau itu tampak indah dengan air yang berwarna kebiruan, serasi dengan langit yang cerah. Bukit-bukit hijau mengelilingi danau itu.

"Nara-san, menurutmu bagaimana liburan kita?" tanya Yuko.

Nara tersenyum simpul. "Aku sangat senang, terutama saat berendam di onsen. Itu sangat berkesan."

"Kali pertama memang selalu berkesan. Kau tahu, kau bisa menyewa onsen privat semacam itu di Kyoto. Kabarnya air panas alami itu baik untuk saraf, mungkin bisa membantu terapi penyakitmu," ujar Yuko, lalu meminum kopi.

"Akan kucoba, tapi aku tidak yakin penyakitku bisa sembuh. Aku hanya berharap bisa lancar bermain gitar dengan tangan kiri secepat mungkin."

"Pelan-pelan saja. Jangan memaksakan diri."

Spring DreamsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang