9. Shima Onsen

22 9 0
                                    

Di apartemennya, Yuko sibuk bertelepon dengan manajer Harukaze. Mereka membahas konser perdana Harukaze yang digelar seminggu lalu. Rekaman konser itu akan didistribusikan dalam bentuk CD serta album digital.

"Takumi-san sedang mengerjakan sound production, sedikit lagi selesai. Selanjutnya, album itu siap dijual," kata si manajer.

"Ya, ya, urus saja semuanya, aku tidak mengerti hal itu," balas Yuko, ingin segera mengakhiri pembicaraan. "Laporkan lagi perkembangannya besok."

"Baik."

Yuko mengakhiri panggilan. Wanita itu mendesah gusar, menggaruk kepala dengan dua tangan. "Menyebalkan, kenapa aku yang harus mengurus semua ini? Ke mana Nara? Bisa-bisanya dia menghilang seperti itu," gerutunya.

Sejak konser itu, Nara seolah lenyap ditelan bumi. Dia sama sekali tak bisa dihubungi, apalagi dijumpai. Alhasil, Yuko harus menangani berbagai urusan pasca konser.

"Ikura, aku pikir aku harus mencari Nara ke apartemennya," ucap Yuko.

"Kau mau ke sana lagi?" tanya Ikura. "Kau sudah ke sana kemarin."

"Ini keterlaluan, aku tidak bisa mengurus ini semua sendiri." Yuko memanyunkan bibir. "Mungkin saja dia mengunci diri di kamar. Kemarin aku tidak membuka kamarnya."

"Baiklah. Akan kupesan taksi untukmu."

Via taksi tanpa pengemudi, Yuko pergi ke apartemen Nara. Rasa kesalnya tak bisa dibendung lagi. Namun, di hati kecilnya, dia mencemaskan Nara. Menghilang selama seminggu bukanlah hal yang normal untuk dilakukan.

Sepanjang perjalanan, pikiran Yuko berkecamuk. Hal-hal buruk melintas di otaknya. Berbagai kemungkinan buruk–termasuk kematian Nara–coba ditepisnya jauh-jauh.

Setibanya di sana, apartemen Nara terkunci. Yuko memencet bel, bahkan menggedor pintu berkali-kali. Namun, tidak ada jawaban. Putus asa, Yuko memutuskan untuk membuka pintu itu dengan bantuan Nishida, pengelola apartemen ini.

"Jadi, belakangan ini Anda tidak melihat Nara-san juga?" tanya Yuko.

Nishida mengernyitkan dahi. "Dia sempat membeli makanan beberapa hari lalu, tapi setelah itu aku tak melihatnya lagi."

Saat pintu dibuka, udara pengap mengalir keluar. Yuko dan Nishida terbelalak melihat kondisi apartemen yang berantakan. Dan alangkah terkejutnya mereka melihat Nara terbaring tak berdaya di sofa.

"Nara-san!" Yuko terpaku di tempat, sedangkan Nishida melangkah cepat ke arah Nara.

Nishida mencoba mengecek tanda-tanda kehidupan. "Cepat telepon ambulans!" seru wanita itu.

Yuko segera menghubungi rumah sakit terdekat. Kemudian, dia menghampiri Nishida dan Nara. "Apa dia masih hidup?"

"Ya, tapi kondisinya sangat lemah."

Dari dekat, Yuko bisa melihat tubuh Nara lebih kurus dibandingkan saat terakhir mereka bertemu. Kelopak mata Nara sedikit terbuka, tapi dia tak bergerak atau bicara. Dia tampak buruk, dan aroma tubuhnya tak kalah buruk. Yuko sampai harus menahan napas. Nara pasti tak pernah mengurus diri, pikirnya.

Tak lama kemudian, ambulans tiba. Tiga orang petugas kesehatan membawa Nara ke ambulans, lalu melajukan mobil itu menuju rumah sakit. Yuko dan Nishida ikut ke sana.

Dokter dan beberapa perawat segera melakukan pemeriksaan dan perawatan intensif. Yuko dan Nishida menunggu dengan perasaan waswas. Setelah kondisi Nara dirasa stabil, pria itu dibawa ke ruang perawatan.

Yuko memutuskan untuk menemani Nara di rumah sakit. Tak lupa dia meminta Ikura untuk membawakan laptopnya ke sana. Bagaimanapun, Yuko tak boleh melalaikan pekerjaan.

Spring DreamsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang