5

5 0 0
                                    

"Suster, pasien atas nama Nathan Alexander Pancasaka dimana ya?"

"Mba lurus aja, lorong kedua, ruang VIP."

"Terima kasih."

Aku berjalan kearah yang ditunjukkan suster itu, kemudian menemukan ruangan VIP yang di maksud. Saat aku membuka pintu ruangan itu, Nathan tersenyum tidak tahu malu.

Baru saja aku bilang tidak perlu mencemaskannya di teater. Belum ada hitungan jam, tiba-tiba aku mendengar dia masuk rumah sakit karena kelelahan. Aku mendekati Nathan, lalu mencubit tangannya.

"Kamu ini!" Ucapku dengan gemas.

"Sakit Sha, ampun." Aku melepaskan jepitan tanganku. Kemudian duduk di kursi, sambil melipat tangan ku di dada.

"Kamu kenapa ceroboh seperti ini, kamu terlalu memaksakan diri."

Nathan bangun dari posisi tidurnya dan duduk sambil menatapku. Aku kesal karena dia tahu aku sangat mengkhawatirkannya, dia tahu aku bisa merasakan rasa sakitnya, tapi dia tidak memikirkannya.

"Maaf... Aku tahu aku salah, aku terlalu menekankan batasku, tapi ada rasa lega yang tidak bisa aku jelaskan, rasa puas yang tidak terkira."

"Tapi rasa puas itu harus dibayar dengan kau terjatuh dari tangga? Lihat kakimu, aku tidak yakin itu akan sembuh dengan cepat."

Aku bertekad, jika Nathan sembuh nanti, aku akan menginjak kakinya. Lihatlah keadaannya, kakinya terbungkus perban dan penyangga.

"Lebih baik kita batalkan saja pesta ulang tahunnya." Ucapku dengan yakin.

"Jangan."

"Kenapa? Tidak ada satupun dari kakak-kakakku yang akan datang. Kak Nu dan Kak Win di luar negeri, Kak My menggantikan temannya jaga malam, Kak Hanum sibuk dan kamu cedera."

"Kalau kamu membatalkannya, artinya kamu tidak menghargai hadiah Ayah, Bunda dan hadiahku."

"Tapi-"

"Aku tetap kakakmu, kamu tidak boleh membantah."

Aku menghembuskan nafas beratku. Oh Ayah, kenapa kamu mendidik kami untuk sangat penurut?

-()-

Aku sedang duduk di ruang rias, di dandani untuk pesta ulang tahunku. Aku bisa mendengar suara tamu yang satu per satu berdatangan. Aku melihat wajahku di cermin.

Gaun putih, mahkota, riasan, perhiasan yang berkilauan, jelas sekali ini semua seperti impianku. Tapi ada perasaan kecewa yang mengganjal di hatiku, tidak ada satupun saudaraku yang bisa hadir.

Selain itu, sudah satu minggu aku tidak bertemu Revano maupun Tiana. Aku tidak mendapatkan satupun pesan dari mereka, akupun tidak ada niat untuk menghubungi mereka lebih dulu. Biarlah semuanya berakhir dengan damai seperti ini.

Jika mereka datang malam ini, aku akan menahan mereka dan memperjelas semuanya. Aku akan merelakan Revano untuk Tiana. Mungkin jalan jodoh mereka adalah melewatiku.

Foto mereka di rumah sakit bersalin itu, yang dikirim nomor tidak dikenal itu masih aku simpan. Aku tidak berniat untuk menunjukkannya pada siapapun, tidak ada yang boleh tahu, aku tidak boleh merusak nama baik keluargaku karena berpacaran dengan calon ayah dari anak wanita lain.

Setelah selesai dirias, El masuk menjemputku. Pakaian jas lengkap membuatnya terlihat sangat berbeda dari yang biasa aku lihat.

Aku berjalan keluar ruangan mendahului El, satu per satu tamu menyapaku dan memberikan selamat. Beberapa memuji pakaianku dan menanyakan keadaan Nathan.

Natasha Alexandra SatsakaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang