Eyo, long time no see.
Enjoy!
"Kita tak akan berhasil"
"Bisa. Aku yakin. Percaya padaku, kita akan baik-baik saja"
Layaknya menonton pertunjukkan seni dijalanan, aku tenggelam pada adegan dimana terlihat dua orang manusia yang saling menggenggam erat. Saling tersenyum satu sama lain.
Latar berganti menjadi gelap. Langit diselimuti gulita, petir yang menyambar bukanlah suatu kabar yang baik untuk diterima semua orang.
Api membumbung tinggi. Bisa kulihat beberapa makhluk aneh menyeret manusia dalam jumlah yang tak bisa sekedar terhitung oleh jari.
Menakutkan.
"一 tubuhnya akan menjadi tumbal yang bagus untuk Tuan kita"
"Seret. Bakar dia hingga jiwa dan raga nya menjadi energi untuk kaum kita"
Bisikan itu memenuhi rungu, tak bertuan dan tak tahu darimana berasal.
"LEPAS!!" teriakan familiar. Terasa menusuk sanubari walau aku yakin ini hanyalah bagian dari mimpi buruk.
"LEPASKAN AKU SIALAN!"
Api itu berkobar menggila, menggiring teriakan pilu menggema hingga menusuk rungu. Menenggelamkan seluruh raga yang tadi terseret hangus jadi abu yang sia-sia.
"AAAAAAAAARRRRGGHHH!!!"
Zagan mengerjapkan kedua matanya pelan, menatap kosong pada langit-langit tenda yang sesekali meliuk tersapu angin sepoi.
Pagi hari yang dingin menyapa, tanpa matahari yang masih tertidur dan enggan untuk beranjak ke posisinya. Zagan meringkuk dalam selimut tipis tersebut. Surai hitamnya berantakan, ia bahkan bisa melihat beberapa helainya mencuat melawan gravitasi.
Mimpi itu, lagi.
Enth sudah keberapa kalinya mimpi yang sama datang, menakutinya hingga tak sanggup untuk menutup mata. Kadang berharap untuk diperkenankan menjemput mimpi indah sekali saja. Tapi tidak. Tampaknya dewa tidak menginzinkan itu terjadi.
"Zagan, kau bangun?" suara itu menginterupsi, sementara yang ditanya hanya melirik sekilas dengan tatapan tidak berminat.
Keigo berkacak pinggang, menatap sahabat sekaligus tuan muda nya itu jengah. "Bangun, pemalas. Kita masih harus menempuh perjalanan menuju wilayah Vercas"
"Diam. Aku tahu itu" ketus Zagan, ia menyingkap selimutnya lalu mrenggangkan badan untuk sejenak.
Melihat keluar celah tenda yang nampak masih agak gelap. Lampu remang menyala di sudut tenda, Keigo menyalakannya dengan sengaja.
"Kita akan latihan terlebih dahulu dan berdiskusi dengan Pangeran Jayden setelahnya" Keigo berujar seraya melangkahkan kakinya keluar dari tenda.
Sementara Zagan, pria 20 tahun itu masih sibuk dengan pemikirannya tentang mimpi yang tadi ia lihat. Selalu seperti itu. Api, teriakan putus asa, tangis dan sesuatu tentang pengorbanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ETERNAL [DISCONTINUED]
Fantasi[Romance-Fantasy] [Slow-plot] [BXB] Dewa senang sekali bermain-main dengan takdir keduanya. Memutar-mutar skenario dan membuat salah satunya putus asa. Penuh liku dan luka. "Aku akan melakukan apapun, kumohon. Kembalikan dia dalam pelukku" ©2021
![ETERNAL [DISCONTINUED]](https://img.wattpad.com/cover/260470142-64-k720662.jpg)