02. Kebetulan kedua

33.3K 2.6K 110
                                        


"Nyeblak kuy," kata Luna sambil memutar-mutar gantungan kunci motor pada jemarinya itu, bel pulang sekolah telah berbunyi 5 menit yang lalu, Luna dan Nadzira sengaja menunggu Latifa kembali ke kelas untuk mengambil tas nya karena Luna tahu Latifa tidak bisa pulang tepat waktu karena harus evaluasi.

Namun Luna tidak menyangka jika evaluasinya hanya 5 menit.


"Gak bisaa, gue sama anak osis mau jenguk Ningsih dia Senin kemarin kecelakaan," jawab Latifa menolak ajak Luna dengan berat hati, padahal tadi dia sudah mengiyakan juga saat Luna mengirim pesan kepadanya namun apa boleh buat, rencana menjenguk memang sudah dibicarakan anak osis sejak hari Senin.


"Pergi sama yang lain aja gih, kayanya masih ada Cici di lobi deh,"ujar Latifa menyarankan, mereka juga teman main bareng sebenernya namun akhir akhir ini entah kenapa Luna jadi sedikit menjauh dari Cici.

Latifa semakin yakin dengan reaksi Luna saat dia menyebut nama Cici, reaksi temannya itu sungguh seperti mendengar hal menjijikan.


Latifa tertawa, "Kenapa sih? Berantem terus nanti kalian lama-lama jadi bestie loh."


"Idih males banget nampung orang muka dua kaya gitu, saran gua mah ya Fa gausah terlalu Deket sama Cici, dia tuh bisa dengan mudah ngerebut hal yang bikin Lo bahagia."


Latifa tidak mengerti dengan peringatan yang Luna berikan, namun melhat Nadzira menujukan wajah yang sangat setuju Latifa benar-benar yakin ada masalah besar antara keduanya.


"Gak Mungin lah, kita udah temenan dari kelas 10 masa iya dia begitu." Jujur saja Latifa sangat bahagia sekarang bisa memiliki teman banyak yang tertahan lama, saat SMP Latifa tidak seterbuka itu, jadi bisa di katakan dia tidak memiliki teman dekat seperti sekarang jadi wajar kan kalo Latifa ingin mempertahankan pertemananya ini.


"Yeee semenjak dulu si cici ganjen ke Rean gue udah gabisa ngasih title teman ke dia. Mukanya udah kaya pelakor males gue." Latifa hanya bisa merespon Luna dengan tertawa, ya tidak apa-apa selagi mereka tidak jambak-jambakan terserah mereka saja.

Padahal bagus juga kalo mereka sampai jambak-jambakan karena bisa jadi hari itu juga masalahnya selesai, namun tetap saja Latifa tidak ingin teman-temannya berantem.


"Yaudah, sorry banget ini gue gabisa ikut yaa, nanti sore kalian jadi kerumah gue? Kalo gue belum pulang langsung ke kamar aja gue udah bilang sama bunda."


"Ah atau ga nyeblaknya di rumah lo aja? Kita beli nanti makannya dirumah Lo gimana?" Latifa berpikir seejenak, sebelum akhirnya dia menyetujui.


"Eh tapi gue kelarnya sore, emang masih buka tukang seblaknya? Biasanya jam segini aja udah mau abis kan?"

Benar, seblak langganan mereka sangat enak, itu sebabnya jam buka hanya sampai jam 3 sore bahkan kadang jam 12 siang pun sudah habis jadi mereka harus extra cepat jika ingin membelinya.


"Gampang lah tukang seblak ga Cuma disitu." Sontak Latifa dan Nadzira menatap Luna dengan tatapan sulit diartikan membuat Luna kebingungan.


"Apa?"


"Yakin?? Bukannya Lo yang selalu bilang gamau nyeblak dimanapun kecuali disana?" sindir Nadzira yang sudah sangat tahu tabiat temannya itu.


Luna berdecak malas, "Yaudah si yang penting Latifa ikut makan. Ribet lo." Latifa tertawa sambil memeluk Luna dengan perasaan gemas, temannya itu memang paling gengsi kalo lagi nunjukin kasih sayang, padahal tinggal bilang aja kalo tidak ada Latifa rasanya kurang seru.


"Yaudah gue dluan kalo gitu yaa, kalian hati-hati."

Setelah selesai menyimpulkan rencana mereka akhirnya Latifa pamit untuk segera turun karena anak osis sudah menunggunya sejak tadi, terbukti saat Latifa sampai di lobi mereka sudah siap dengan motor masing-masing dan tinggal menunggu dirinya.

BCS : RAGALATIFA [PREVIEW] TAHAP REPUBLISH Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang