01. Pertemuan

19.9K 1.9K 112
                                        

Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah dengan tingkat yang berbeda, menyambut para peserta didik baru yang akan menempati ruang kelas 10. Suasana pagi ini sudah terprediksi oleh Latifa, SMA Airlangga penuh sesak dan sangat ramai. Banyaknya siswa baru yang masih dengan seragam SMP ditemani kedua orang tua mereka sebelum akhirnya upacara penyambutan akan dimulai satu setengah jam lagi.

Hari ini juga merupakan hari pertama Latifa menjabat sebagai ketua OSIS. Sebenarnya sudah dari sebelum liburan dia dilantik namun dia baru resmi memegang kendali acara saat MPLS ini dimulai.

Sudah banyak persiapan yang dia lakukan bersama anak-anak OSIS, bahkan dua minggu sebelum masuk sekolah mereka juga sudah mulai mencicil beberapa keperluan serta menyiapkan semua hal yang tersusun. Latifa berkali-kali mengecek semua peralatan yang akan digunakan saat upacara mendatang, memeriksa ruangan yang akan digunakan selama seminggu ke depan untuk program MPLS.

Seperti yang diketahui, MPLS adalah masa pengenalan lingkungan sekolah, dengan program ini diharapkan seluruh peserta didik baru bisa menyesuaikan diri dengan tempat baru dan mengikuti pelajaran dan aturan dengan baik.

Supaya mereka bisa menciptakan lingkungan yang aman untuk pembelajaran.
Namun di tengah pengecekan, Latifa melihat Cahyo-sang wakil yang tengah kebingungan dan seperti sedang mencari seseorang. "Cahyo," ujar Latifa menginterupsi.


Mendengar namanya disebut pun Cahyo menoleh, dan sepertinya Latifa-lah yang Cahyo cari karena laki-laki itu langsung tersenyum lebar dan menghampiri Latifa.

"Gue cariin disini tahunya," katanya sambil memegang rundown acara yang sudah dia gulung gulung.

"Kenapa? Kayak bingung gitu muka lo gue lihat-lihat."

"Ini materi, aturan sama buku panduan siswa yang dibawa sama Ningsih jatuh ke got, dia keserempet motor katanya. Gimana, ya, ini?" kata Cahyo yang kepanikan. Pasalnya materi itu akan digunakan hari ini jam delapan pagi, sementara sekarang sudah pukul 06.30.

Membuat ulang? Sepertinya bukan ide yang bagus. "Ya, ampun... terus Ningsihnya gimana? Luka-luka atau gimana? Kasihan... ada yang bantu dia deh ke sana." Latifa terlihat panik, walau dia juga mengkhawatirkan yang dikhawatirkan Cahyo, tapi dia lebih takut Ningsih luka parah.

"Dia udah di klinik, udah diobatin nggak parah banget sih katanya, gue udh nyuruh Sabrina sama Lail ke sana buat lihat keadaannya."

Latifa bernapas lega, yang penting tidak luka parah. "Ya, udah... nggak papa. Namanya musibah nggak ada yang tahu, minta kirimin filenya aja sama Ningsih biar gue print ulang.

"Gue pinjem motor lo sini." Latifa menyerahkan tumpukan kertas yang berisi peralatan yang tersedia.
"Lo bantuin gue ngecek peralatan ini takutnya ada yang nggak nyala, di-cek semua sound-nya, sama papan nama itu di sana pasang di lapangan buat nandain nama regu mereka.

Nama regunya udah ada didaftar sini juga nanti lo tinggal bagiin name tag-nya ke mereka pas mau baris." Cahyo mengambil alih tugas Latifa dan memberikan kunci motornya untuk perempuan itu.

"Eh, Fa...," ucap Cahyo seraya menahan lengan Latifa sebentar, "keburu nggak ya tapi?"

"Keburu, nanti jadinya nggak bentuk buku biar cepet, paling di-streples aja."

"Sayang banget jadinya," kata Cahyo yang sudah mulai pasrah, namun Latifa menenangkan laki-laki itu bahwa setiap acara tidak mungkin 100 persen mulus, pasti akan ada kendalanya.

BCS : RAGALATIFA [PREVIEW] TAHAP REPUBLISH Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang