Semenjak menyukai Latifa, Raga jadi mudah untuk berpikir. Bukan berpikir sesuatu yang penting tentang bagaimana hidupnya ke depan, tapi tentang bagaimana jika masa kelam di masa lalunya terungkap.
Akankah Latifa masih tetap berada di tempatnya atau dia akan berjalan lebih jauh lagi hingga sulit untuk bisa Raga raih? Raga selalu berpikir apakah lelaki brengsek seperti dirinya ini pantas memperjuangkan kebahagiannya yang di mana dia saja sudah merusak kebahagiaan seseorang.
Raga jadi lebih sering memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi di masa depan. Padahal belum tentu juga Latifa akan luluh padanya, tapi Raga yakin, sekuat-kuatnya pertahanan diri yang Latifa bangun, Raga pasti bisa mengikisnya pelan-pelan.
Hari ini masa pengenalan siswa sudah selesai, namun beberapa stand masih dipasang guna untuk mendaftarkan diri untuk kelas 10 pada kegiatan ekstrakurikuler.
Ekstrakurikuler di sekolah ini wajib dimiliki walau hanya 1. Dulu saat Raga baru masuk SMA Airlangga juga dia kebingungan harus masuk ekskul apa, lalu dia diajak kakak kelasnya untuk masuk band, karena kebetulan Raga juga sangat menyukai ketenaran jadilah dia mengikuti kakak kelasnya itu.
Karena, konon katanya, siapa pun yang mengikuti ekstrakulikuler band dia akan mendapatkan penggemar yang banyak dan hal itu juga membantu mereka untuk menemukan cinta sejatinya.
Karena katanya anak band itu keren dan populer. Namun sekarang Raga seolah tidak memiliki minat lagi, dia lebih sering bersama anak anak futsal setiap sore.
"Kak Januar, kalau ikut ekskul band harus bisa main musik?" Raga yang semula acuh dengan pendaftaran ini pun seketika menoleh, memang bukan dia ditanya, namun dia sedikit teralihkan dengan sosok perempuan yang sepertinya menyukai Januar.
"Ya, menurut lo, masa ekskul band bisanya mecahin bata, ikut taekwondo aja sana." Raga tertawa setelah mengatakan hal itu, sementara yang di ajak bicara tidak berekspresi, lempeng saja.
Wajah perempuan itu memerah menahan malu, dan memilih untuk melipir diikutin dengan tiga teman perempuan yang lain.
"Demen itu dia sama lo, Jan. Ambil geh degem nih cantik pula," ujar Rigel memprovokasi Januar agar laki-laki itu setidaknya memberikam ekspresi.
Bukannya mendapat ekspresi dari Januar, Rigel justru mendapat pukulan dari Raga. "Degem-degem, cewek lo noh ngeliatin," kata Raga sambil menunjuk seseorang di lantai dua yang sedang menatap mereka dengan tatapan sengit.
"Bjir ada ibu tiri! Aa... lari ada ibu tiri...! Gue harus segera menghampirinya kalau tidak mau dikutuk jadi Malin Kutang."
"Malin Kundang, tolol!" Raga sedikit berteriak karena Rigel sudah lari ngibrit menghampiri Jihan di lantai 2 membuat Raga tertawa terbahak-bahak.
"Ga, nitip sebentar, bokapnya Raya telepon," ujar Januar yang memberikan instruksi kepada Raga untuk tetap di stand mengurus pendaftaran ekskul band yang masih panjang antreannya.
"Ye, monyet! Gue ditinggal sendirian ini? Yang bener aja gue nggak ngerti, Woy!" Raga berteriak karena Januar sudah berjalan menjauh lebih dulu dari stand.
"Tulis aja nama sama kelasnya."
Mendengar hal itu membuat Raga berpikir. "Buset lagian lu pada ngapain sih daftar band, susah anjir harus bisa berjalan di atas air, mengelilingi samudra dan bicara sama hewan, sanggup lu." Ucapan Raga membuat seorang laki-laki yang dari tadi tengah menatapnya kebingungan.
Merasa dirinya agak aneh, akhirnya Raga mulai serius, bertanya sesuai yang ada di buku pendaftaran. Hingga satu jam akhirnya selesai juga drama daftar mendaftar ini, membuat Raga akhirnya bisa selonjoran.
Laki-laki itu menikmati semilir angin siang yang lumayan sejuk. Hari ini cuaca lumayan mendung yang membuat Raga jadi betah berlama-lama di sini.
Namun saat kedamaian tengah dia rasakan, tiba tiba dia dikejutkan dengan seseorang yang datang dan menendang meja di sebelahnya. Mau tidak mau meja itu terdorong ke arah Raga dan membuat tangannya terhantam ujung meja.
"Ah, sakit monyet," rintih Raga lantas merasa tidak terima dia langsung bangkit.
"Ngapain sih lu tolol, nggak usah cari gara-gara dah." Raga merasa tidak ingin menanggapi seseorang di depannya ini karena Raga sudah malas berurusan dengannya.
Bara―Albara Hendric, laki-laki yang biasa dipanggil Bara itu masih menatap Raga dengan tatapan sengit. Seolah ingin memukul Raga sampai babak belur.
"Mau ngapain lu di sisni? Ah, elah... ganggu jam istirahat gue aja lu! Pergi pergi!" Raga mengibaskan kertas di udara seolah memberi sinyal kepada teman lamanya itu untuk pergi dari hadapannya saat ini juga.
"Di mana Abi? Ana mau ketemu."
Hubungan Bara dan Raga tidak cukup dekat dan akrab. Setidaknya untuk sekarang walaupun dulu keduanya sempat menjadi sahabat, tapi semua hancur setelah satu kehadiran bocah kecil yang tak memiliki dosa di hadapan mereka bertiga.
Dunia seolah membiarkan Raga menderita, tak cukup memberikan Raga rasa sakit yang dia tanggung dia juga harus mengalami ditinggalkan oleh sahabatnya saat dengan rapuh dan tak berdaya. Raga tak ingin mengusik rasa sakitnya yang sempat dia rasakan dulu, itu sebabnya dia tak ingin sedikit pun berurusan dengan seseorang di depannya ini.
"Lo denger nggak sih gue ngomong! Di mana Abi?" Bara geram karena Raga menunjukkan sikap acuh saat dia bertanya baik-baik. Akhirnya dia menendang kursi yang Raga tempati membuat Raga mau tak mau harus mengusir orang ini dengan cepat.
"Ah, pertama gue nggak minat sama sekali ngomong sama lo. Kedua, setelah setahun dan lo berdua baru nanya keberadaan tuh anak? Ke mana lo waktu tuh anak sekarat? Nggak akan gue biarin lo berdua ketemu Abi! Dasar sampah!" Tanpa menghiraukan apa pun reaksi Bara, Raga langsung pergi meninggalkan lelaki itu dengan sekumpulan asap di kepalanya. Amarahnya sudah siap meledak sampai akhirnya dia menabrak bahu seseorang.
"Anna juga bantuin lo 'kan pas di panti asuhan dulu? Jadi apa salahnya lo kasih kesempatan ke dia?" tanya Bara, namun tidak digubris oleh Raga. Laki-laki itu justru tetap berjalan dengan penuh amarah.
"Ah, elah... kalau jalan liat-" Ada jeda pada amarah Raga setelah mengetahui Latifa yang tak sengaja menabrak bahunya. Perempuan itu terlihat terkejut terbukti dengan raut wajahnya yang menegang.
"Lihat ada bidadari di sini, sayapnya mana cantik kok nggak keliatan atau lagi kesasar, ya... dari kayangan." Latifa semakin dibuat bingung dengan perubahan mood Raga yang signifikan, Latifa yakin betul bahwa tadi laki-laki itu sedang menahan marah.
Latifa tidak mendengar banyak dia hanya mendengar saat Raga menjerit menatap Bara, sementara di benak Raga ada kegelisahan yang menjalar. Dia takut Latifa mendengar semua pembicaraannya dengan Bara tadi.
Suasana seketika menjadi canggung, membuat Raga dengan cepat memutus kontak dengan Latifa.
"Ah, gue duluan, ya... mau nyari Rigel sama Januar. Dadah, see you..." Raga berkata sedikit gugup namun dia tetap tidak ingin mengambil kesempatan.
Dia bahkan sampai memberikan kecupan udara untuk Latifa membuat perempuan itu lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepalanya.
****
T
o be continued
Follow sosmed
Instagram : dentaraaa_
X/Twitter : dentaraaaia
Tiktok : dentaraaa_
KAMU SEDANG MEMBACA
BCS : RAGALATIFA [PREVIEW] TAHAP REPUBLISH
Teen FictionCERITA SUDAH DITERBITKAN!!! VERSI DISINI HANYA SEBAGAI PREVIEW DARI NOVEL YANG MAU PESAN NOVELNYA MASIH BISA DI TBO ZAHRABOOKS DAN ANDROBOOKS KE-2 JANGAN SAMPAI KEHABISAN 💓 #Boysclubseries **** -Bukan dia yang mengecewakan, tapi ekspektasi kamu...
![BCS : RAGALATIFA [PREVIEW] TAHAP REPUBLISH](https://img.wattpad.com/cover/262103168-64-k146164.jpg)