(n) e / fe / me / ral
keadaan yang berlangsung sebentar saja atau tidak kekal
---
Semua yang terjadi di muka bumi ini tidak akan berlangsung selamanya, aku selalu mempercayai itu. All the shits happen for a brighter future adalah prinsip Acha sejauh ini dalam menjalani hidup. Meskipun lebih sering menangis kecewa daripada berdiri tegak menantang badai setiap masalah datang. Dasar Libra! Hahahaha.
Dunia kerjaku berangsur-angsur membaik. Dewa Petir nampaknya mulai mempertimbangkan kinerjaku. Sudah tentu dibantu oleh beberapa faktor. Pertama, Bu Sita sudah mulai lelah bermain drama sebagai korban karena (nampaknya) sama sekali tidak menggangguku (padahal mah tiap pulang kerja nangis diem-diem ke Airin), Kak Yara yang tidak pernah lelah menyemangatiku, dan datangnya Ko Anton yang tiba-tiba mendaulatku untuk masuk ke dalam timnya bersama Dika salah satu orang pusat juga. Perlahan Ko Anton dan Dika yang memiliki pengaruh besar dalam semua keputusan Dewa Petir menaikkan pamorku tanpa aku minta.
Tidak butuh waktu lama dan sudah tentu tidak perlu menjilat, Dewa Petir mulai memujaku, tidak lagi memuja kerang ajaib bermerek Bu Sita. Apapun urusan kantor yang bahkan tidak ada hubungannya dengan marketing diserahkan padaku. Aku? Masih sama, tidak bergeming, tetap pada posisi dengan border tak kasat mata bertuliskan "SORRY NIH BOS, GUE TETEP NGGA MAU AKRAB SAMA LO!" hahahahahahaha.
"Pagi Acha, udah di kantor?" Ko Anton menyapa diujung telepon.
"Ya Pak, ada yang bisa dibantu?" tanyaku. Kala itu aku masih memanggilnya dengan sebutan Bapak. Takut. Ko Anton terkenal dengan manusia berdarah kutub alias dingin. Pelit bicara. Tidak ramah. Salah ngomong dikit pasti kena marah.
"Cha, bisa ngga panggil nama aja? Kita kan cuma beda setahun ini. Aku ada perlu data sales report 2017, boleh dibantu ngga?"
"Oh iya Pak, nanti saya coba tarikkan ya. Ditunggu ya Pak" jawabaku sopan, setengah takut, setengah lagi segan.
"Cha gue belum bapak-bapak kali. Panggil Anton aja, oke?" diprotes lagi.
"Iya Bos, siap" aku masih sungkan untuk memanggil sekedar nama. Meskipun sudah lama hidup di Jakarta, tapi darah Jawa Ibu masih mengalir deras di rumah. Kata Ibu, harus sopan sama orang, jangan kurang ajar.
"Buset Cha... please lah Cha" aku kira akan berakhir setelah aku menjawab, tapi rupanya Ko Anton masih saja bargaining soal caraku memanggil.
"Iya Ko, udah Koko aja ya? Aku ngga enak kalau panggil nama" kataku sambil tersenyum meskipun Ko Anton pasti tidak melihatku tersenyum. Dasar bego!
"Hahahahaha iya Cha, oke deh. Thank you ya Cha!" akhirnya selesai juga permasalahan sebutan ini.
---
Aku, Ko Anton dan Dika semakin hari semakin akrab. Hmm revisi, sebenarnya aku dan Dika akrab terlebih dahulu. Di hari kunjungan Ko Anton dan Dika ke cabang, aku banyak bergurau dengan Dika. Dika si tukang bully ini adalah gemini ramah yang sangat cocok dengan libra ramah sepertiku. Sampai akhirnya Ko Anton melihat ke-absurb-an kelakuanku dan Dika yang mendadak toyor menoyor di kubikelku, yang mendadak tertawa cekikikan sampai balap lari ke toilet karena terlalu banyak tertawa. Sejak hari itu, Ko Anton bukan lagi manusia bengis di mataku.
Si baik, begitu aku menyebutnya. Kami bertiga terlibat dalam satu grup chat yang kami namai "Kamerad Panglima Sparta". Grup yang tidak sekedar membahas pekerjaan tapi juga percintaan, jelas percintaanku dan Dika. Mana berani kami menyenggol Ko Anton yang sebenarnya saat itu juga sedang jomblo.
Dika sering berlagak menjadi lulusan S3 Comblangisasi diantara aku dan Ko Anton. Entah atas dasar apa, mungkin lebih ke arah melihat dua onggok daging lengkap dengan tulang yang menopang keduanya dengan sempurna itu masih belum ada yang melirik. Atau bisa jadi karena Dika lelah menjadi satu-satunya yang bisa memamerkan adegan romantis dengan kekasih LDR-nya, lelah menjadi sombong tanpa pesaing.
"Cha, Pak Anton sibuk ngga ya?" Kak Sari menghampiri kubikelku, dia adalah salah satu staff General Affair di kantorku. Entah sudah keberapa kalinya staff di kantor ini menanyakan jadwal atau bahkan mood Ko Anton kepadaku.
"Aduh, kurang tau nih Kak hehe" aku menjawab sekenanya, karena memang kebetulan aku tidak tahu. Lebih tepatnya aku bukan sekretaris pribadi Ko Anton yang mencatat semua jadwal kerjanya.
"Hmm, boleh ditanyain ngga sih Cha? Aku ada email soal perijinan produk yang dia minta tapi ngga ada balesan. Males nih kalau dia balesnya mepet jam balik" typical tabiat manusia di kantorku urutan kedua setelah menjilat.
"Oh oke, aku coba dulu ya Kak" jawabku singkat agar aku si karyawan yang tidak pernah bisa pulang tepat waktu ini bisa membantu karyawan lain mencapai goals-nya untuk pulang tepat waktu setiap hari.
---
Perjalanan pahit karirku belum selesai. Hanya terjeda. Didapuk menjadi salah satu auditor dadakan yang didampingi oleh Bang Didi membuat kami berdua menjadi public enemy. Susah amat sekedar jadi karyawan biasa tanpa masalah. Dewa Petir terlalu memujaku, sampai akhirnya aku menempati posisi ini.
"Aku udah bilang sama si Bos Cha buat ngebebasin kamu dari urusan ini. Kemarin aku telpon dia, aku bilang 'Bos, please itu Acha bisa ngga dibebasin dulu dari masalah audit? Dia overload nanti' tapi dia bilang dia yakin kamu bisa. Aku udah coba berapa kali, dia masih aja kekeuh. Aturan kamu bisa Cha ngomong ke dia kalau kamu capek. Daripada kamu pulang ban mobil pada kempes? Hahahahaha" aku merebahkan punggungku di kasur tepat pukul 9 malam. Lembur tak berbayar yang disambung dengan sambungan telepon dari Ko Anton.
"Hahahaha mana mungkin, Ko? Gue cuma kacung di sini, mana berani protes? Kan gue bukan Ko Anton" jawabku.
"Ish apaan sih? Bisa Cha, kamu kalau ngomong pasti didengerin. Dia itu lagi mencintai kamu kelewat batas, apapun yang kamu bilang pasti disetujuin"
"Diiiiihhhh darimane? Ngga ada!"
"Tuh kan ngga percaya! Kamu mah, padahal aku udah nyerocos ngebelain. Ngurusin aku sama Dika aja kamu udah pasti emosi, belum kerjaan marketing kamu yang lain. Ini ada lagi audit ngga jelas" ini sudah kesekian kalinya Ko Anton menasehatiku tentang tugas dadakan dari Dewa Petir.
"Ya udah sih Ko, ntar kalau gue protes malah gue yang salah. Gue masih bisa handle kok Ko. Okay? Udah ya Ko, gue mau mandi. Baru banget nyampe rumah. Capek banget ini" aku mengakhir pembicaraan.
"Ini juga, kan aku udah bilang, jangan keseringan lembur di kantor. Udah tahu banyak setannya di kantor, ntar digangguin baru tau" Ko Anton masih melanjutkan teleponnya. Aku tersenyum. Ada sedikit manis yang mampir malam ini, setelah seharian berkelut dengan getir deadline dari Dewa Petir.
"Hmm" jawabku, bingung atas respon apa yang harus aku berikan.
"Ya udah mandi deh, istirahat. Besok kita berjuang lagi. Inget ya, apapun yang terjadi di cabang harus kamu ceritain ke aku. Aku yang akan back up kamu dari sini. Bye" sekali lagi aku tersenyum. Setelah manis itu datang hangat yang menjalar ke ruang yang sudah lama aku tutup.
"Iya,makasih ya.." aku mengakhiri panggilan teleponku.
KAMU SEDANG MEMBACA
CARAPHERNELIA
Non-FictionCARAPHERNELIA - ka / ra / fer / ne / lia (n) keadaan dimana seseorang meninggalkan kita, namun jejak langkahnya masih tertinggal dan menyisakan luka dalam kenangan kita. --- Natasha menemukan Ricky di rumitnya dunia. Bukan, bukan berarti Ricky baru...
