Aira menggenggam tangan Hasya, matanya memancarkan kehangatan yang tulus dan penuh kasih sayang. Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang familiar memecah keheningan di gazebo.
Arga muncul, ekspresi wajahnya seketika berubah drastis ketika melihat ibunya ada disana.
Tatapan dingin dan arogansi yang selalu ia tunjukkan pada Hasya dan juga Luna langsung lenyap, digantikan senyuman tipis yang terkesan seperti—dipaksakan.
Arga berjalan mendekat. Tanpa basa-basi, pria itu duduk di samping Hasya, sebelah tangannya langsung merangkul pundak istrinya.
Hasya tersentak kaget dengan sentuhan mendadak itu. Wajahnya kian menegang. Akan tetapi ia berusaha keras untuk tetap tenang.
”Sayang, kopi nya Mas belum kamu buatin lho. Kamu lupa ya??” Hasya terdiam. Jujur, ia merasa tidak nyaman dengan situasi ini.
”M-maaf, Mas.” Arga, pria itu tersenyum. Tak sedikitpun menunjukkan rasa kesal, dan juga amarahnya. Aira, wanita paruh baya itu lantas ikut tersenyum, melihat keharmonisan rumah tangga putranya.
”Mau aku buatin sekarang, Mas??” tanya Hasya. Arga dengan cepat mengangguk.
Keduanya kini berjalan beriringan menuju dapur. Meninggalkan Aira dan juga Luna—yang masih tampak kebingungan dengan perubahan sikap ayahnya.
Langkah Hasya terasa berat saat memasuki dapur. Arga berjalan di belakangnya, pintu dapur tertutup pelan, memutus pandangan dari Aira dan Luna.
Dalam sekejap, raut wajah Arga berubah. Senyum manis dan tangan yang tadinya merangkul pundak Hasya, kini lenyap tak berbekas. Wajahnya kembali dingin dan tegang.
Hasya segera menuju meja pantry dapur, tangannya dengan cekatan menyiapkan bubuk kopi dan air panas.
”Jangan berpikir sentuhan tadi ada artinya, Hasya! Karena sampai detik ini pun, kamu bukanlah siapa-siapa dalam hidup saya!!”
Hasya mengangguk.”Iya, Mas. Aku paham.”
_____________________________________________
Sesuai perintah ibunya, malam ini Arga tidur bersama Hasya dan juga putrinya.
Pria itu tidak membantah, ia tidak ingin sandiwaranya terbongkar hanya karena tidak menuruti perintah ibunya. Hasya, ia juga berusaha menjalankan tugasnya dengan baik sesuai skenario yang dibuat oleh suaminya.
”Bunda, Luna senang malam ini bisa tidur sama Ayah.” bisik sang anak, riang. Rona bahagia terpampang jelas di wajahnya.
”Nanti kita tidurnya saling berpelukan ya, Bunda. Seperti yang dulu pernah Kak Vira ceritakan, saat tidur bareng Ayah.” lanjut gadis kecil itu.
Hasya berusaha keras menahan air mata nya agar tidak jatuh dihadapan putrinya.
”Ayah?” panggil Luna, memekik antusias.
Arga berjalan menghampiri keduanya. Ia kemudian berbaring disamping Luna dan berusaha memasang senyum—terpaksa.
Luna menatap ayahnya dengan tatapan penuh arti.”Ayah, terimakasih udah mau tidur sama Luna dan Bunda. Luna senang, akhirnya bisa tidur sama Ayah dan juga—Bunda.” ujarnya, lalu kemudian memeluk ayahnya dengan tulus, penuh kerinduan.
”Luna janji Ayah, Luna nggak akan nakal lagi. Luna akan nurut apapun yang Ayah perintahkan.”
”Maafin Luna ya, kalo kemarin-kemarin Luna bikin Ayah marah..” lirih gadis itu, membuat Arga kian membisu dan—tak berkutik ditempatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Envy Dad! (Revisi)
ChickLitLunara Shaqueena Zahra, gadis kecil yang diacuhkan oleh ayah kandungnya karena terlahir dari rahim wanita yang dibencinya. "Bawa pergi anakmu dari hadapan saya!" "Luna juga anak kamu, Mas!" "Saya tidak pernah menginginkan kehadiran kalian berdua dal...
