Bab 01 ; Jangan Diliat!

41 23 15
                                    

HAPPY READING📖
____________________

Ditengah kerumunan murid yang berlalu-lalang. Seorang gadis ber hoodie hitam dengan tudung yang menutupi kepalanya tengah berjalan cepat dengan kepala yang menunduk. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku hoodie yang ia kenakan.

Tidak ada yang menyadari pergerakan aneh dari gadis itu, kecuali empat laki-laki yang sedari tadi mengamati gadis itu dari jauh.

"Tuh cewek siapa? Kok aneh bet yak?" Tanya Alan yang memang sangat penasaran dengan gadis itu.

"Mata-mata dari sekolah sebelah kali!" Sahut Alka.

"Dia bukan mata-mata," Ujar Tama dengan mata yang tak lepas dari gadis misterius itu.

Nathan menatap heran pada Tama. Kenapa Tama bisa berpikir seperti itu? Apa gadis itu ada hubungannya dengan Tama?

"Kok lo yakin banget, Tam? Apa jangan-jangan—"

"Gak usah mikir macem-macem, gue gak ada hubungannya dengan tu cewek!"

"Trus kenapa lo mikir kek tadi?" Kini giliran Alan yang bertanya.

"Lo liat aja dari posturnya, gak ada kemungkinan kalau dia itu mata-mata. Lo dari tadi juga liat 'kan kalau dia nunduk terus? Mungkin karena dia baru masuk trus belum beradaptasi dengan lingkungan sekolah." Jawab Tama dengan tenang. Walaupun dalam hati dia merutuki gadis itu karena terlalu menonjol diantara kerumunan.

❃❃❃

"Diam semuanya! Dan tolong perhatikan kedepan!" Titah Guru yang baru saja masuk.

Guru itu tidak sendirian, ada gadis imut di belakangnya yang memakai seragam sama seperti murid yang ada didalam kelas.

"Hari ini kita kedatangan murid baru, bapak harap kalian bisa berteman baik dengan dia."

"Sena, ayo perkenalkan diri kamu"

Gadis itu pun tersenyum lebar, "Hai semua! Nama aku Senata Gabriella, panggil Sena aja. Aku pindahan dari Bandung. Semoga bisa berteman baik!" Gadis itu tersenyum lebar.

Setelah perkenalan dirinya yang cukup ceria, para murid laki-laki bersorak-sorai menyambut kedatangan siswi baru dikelas mereka. Lain halnya dengan murid perempuan, mereka terbagi menjadi beberapa. Ada yang tidak suka, ada yang suka, dan ada yang netral saja.

"Sudah-sudah! Sena silahkan duduk di kursi kosong dibelakang sana, ya? Kebetulan tempat disana tidak ditempati siapapun." Tunjuk guru itu pada meja kosong yang berada di pojok sebelah kanan, tepat disamping jendela.

Sena tersenyum, lagi. "Gapapa, pak,"

****

Jam istirahat telah tiba. Sena memasukkan beberapa bukunya kedalam laci meja.

"Sen, ke kantin yok! Gue udah laper nih, anak gue udah demo minta makan." Kata Alya sambil mengusap perutnya yang rata.

Sena terkekeh geli, "ulululu... Ayok sayang ikut aunty, makan sepuasnya yah dikantin. Nanti yang bayarin—"

"Yang bayarin elo!"

"Eh, aku kan belum selesai ngomong. Nanti yang bayarin papanya donk,"

"Lo kata gue hamil apa! Suami gak punya, pacar gak punya, malah hamil dih najisin! Gue masih suci sesuci darah Nayla."

SENATATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang