Maka hari-hari berikutnya aku terus menunggu seperti seorang istri yang menanti kepulangan suami. Aku mulai hafal seluruh kalimat dalam isi surat Jimin padaku.
Naraku.
Kim Taehyung.
Dia akan pulang di bulan Juni.
Selembar kertas itu menggantung manja di dinding kamarku, tepat di sebelah cermin seperti seorang pelajar yang sedang menghafal rumus matematika. Atau pada hari-hari tertentu, surat itu menjelma menjadi pusaka ajaib yang bercahaya ketika petir menyambar dengan ganasnya.
Meski begitu, aku tak meninggalkan kebiasaanku menaiki bukit, sembari membawa beberapa buku dan novel yang kumasukkan dalam tas, juga beberapa onigiri buatan sendiri. Di atas sana, kau bisa membayangkan pemandangan terbagus apapun yang pernah kau temui, tetapi kujamin tak ada satupun darinya yang bisa menandingi keindahan bukit dengan pemandangan lembah yang indah ini. Udara sejuknya mampu menghapus segala rasa gundah yang ada. Apapun yang sedang kau pikirkan, yang bisa terlintas di benak hanyalah rasa syukur dan euforia berlebih yang menikuk tajam dalam palung rasa kekaguman yang paling khusyuk.
Aku terduduk tepat di atas kursi kayu yang hampir lapuk oleh cuaca, tepat menghadap lembah indah yang membentang membelakangi desa. Aku tak pernah protes perihal cuaca di Busan, mau musim semi, gugur panas maupun musim salju, semua nya sama, aku hanya bisa menunggu selama itu. Bahkan untuk hari kelabu ini, aku tersenyum secerah matahari bersinar.
Tahun 1998. Yang terlintas dalam pikiranku hanyalah wajah orang-orang yang berubah menjadi kabur karena penuhnya air mata yang membanjiri netraku. Mereka berlalu lalang tak memperdulikan sesosok anak kecil yang raungan tangisnya menjadi-jadi. Mungkin hari itu adalah hari terburuk sekaligus terberuntung untukku.
Ibu meninggalkanku sendirian, tanpa makan, minum bahkan boneka beruang cantik yang kerap kali anak-anak lain punya. Di pinggir jalan asing yang tak pernah kukunjungi sebelumnya, seorang anak kecil seumuranku menyapa dalam intonasi super rendah sehingga yang bisa kutangkap hanyalah dengungan air hujan.
"Kenapa nangis? " Si kecil bermata sipit kembali menanyakan hal yang sama padaku. Sejenak diam, mengamati dari atas hingga bawah, seolah menilai apakah bocah cilik itu orang jahat atau bukan, lalu karena wajah polosnya tak menunjukkan tanda-tanda dosa, aku menjawab, "aku mau pulang."
Jimin kecil diam, nampak mencoba berpikir kemudian seorang dewasa mengambil alih pembicaraan kami berdua. "Jimin ayo pulang."
"Dia juga mau pulang, Ma." Lengan mungil itu meraih ujung baju sang ibu tanpa mengalihkan pandangannya padaku. "Ayo bawa dia pulang, Eomma." Katanya lagi yang kini membuat sang ibu mendadak melototkan matanya. Tidak mungkin dia akan membawa beban keluarga yang hanya bisa menghabiskan stok nasi saja.
Tetapi si Aku kecil hanya menatap penuh harap pada sang ibu tanpa memikirkan hal rumit apapun. Setidaknya membantuku menemukan orangtuaku akan sedikit mengurangi kecemasan berlebihanku. Tetapi harapanku pupus bersama dengan kemarahan ibu Jimin yang keluar dari pusat informasi setempat. Pada akhirnya Jimin dan keluarganya membawaku pulang dengan penuh duka seolah aku pembawa sial.
Hwangholhaetdeon gieok soge
Na hollo chumeul chwodo biga naerijana
I angaega geotil ttaejjeum
Jeojeun ballo dallyeogal ge
Geuttae nal jabajwo~Suara merdu itu mengalun indah dalam pendengaranku. Ketika membuka mata, tahu-tahu sesosok makhluk tampan telah berada di sampingku dengan memangku sebuah kanvas lengkap dengan cat dan kuasnya. Ia tersenyum seperti tak ada hal aneh yang terjadi diantara kami sementara aku mengernyitkan dahi. "Kau siapa? "
"Jeon Jungkook. Aku tinggal di rumah berwarna putih pucat di sana." Katanya sambil menunjuk kearah ratusan rumah yang membentang di lembah desa yang mana tak satupun bisa kupahami rumah mana yang telah Ia tunjuk.
"Hah? Aku tidak pernah melihatmu. Kau pasti hantu?" Atau mungkin bentuk lain dari akibat schizophrenia paranoid yang mungkin saja kuidap. Kira-kira begitu namanya dalam buku yang kubaca dari ruang belajar Jimin.
"Hantu? Kalau begitu aku hantu paling tampan di dunia dong. Hahahaha." Pemuda itu kembali menyuarakan tawanya yang bahkan nikmat di dengarkan.
"Serius aku tidak pernah tau kau."
"Sekarang jadi tahu kan? Ngomong-ngomong sedang apa? Aku baru tau kalau ada orang selain aku yang suka kemari."
"Harusnya aku yang bilang begitu. Kau sendiri mau apa datang kemari sambil membawa alat lukis."
"Apa itu harus kujawab? Kupikir anak kecil pun tahu apa yang kulakukan dengan sebuah kanvas dan cat." Ia mengatakan hal itu dengan senyum tetap mengembang di pipi. Kemudian konversi itu berlanjut hingga senja hampir tenggelam.
Lukisan yang Ia buat sangatlah bagus, otak tumpulku tak bisa mendeskripsikan makna apa yang tersirat dalam lukisannya, tetapi yang Ia lukis bukanlah lembah indah yang membentang di depan kami melainkan seorang anak kecil yang manis, cantik. Tetapi aku segera mengernyitkan dahi begitu melihat keseluruhan lukisannya yang aneh. Gadis itu telanjang dibawah sinar rembulan.
"Cantik kan? " Aku mengangguk canggung. "Siapa dia? ". Jawaban selanjutnya yang terlontar dari mulut manis pria itu semakin membuat bulu kudukku merinding. "Dia adikku."

KAMU SEDANG MEMBACA
INSANE
FanfictionHanya sekumpulan orang sakit jiwa yang kebetulan saling jatuh cinta. Jangan dibaca, nanti kau terluka.