🌻 Bagian Satu - Dimensi 🌻
"Chanyeol, apa kamu yakin akan mengirim Yuan ke dimensi lain?"
"Aku tidak pernah seyakin ini, Kyungsoo."
"Tapi bagaimana ... bagaimana jika nanti Yuan jatuh ke tangan orang yang salah?"
Tubuh Kyungsoo bergetar. Mata bulatnya menatap wajah bayi laki-laki yang baru saja ia lahirkan tiga puluh menit yang lalu dengan pandangan sendu. Ia merasa tak rela apabila harus melepas buah hatinya secepat ini.
"Tenang, Kyungsoo. Aku yakin putra kita akan baik-baik saja."
"T-tapi ..."
"Sudah waktunya."
Chanyeol mengambil alih, pria itu segera meraih tubuh mungil Yuan yang masih merah dari pelukan Kyungsoo kemudian meletakkannya pada sebuah benda berbentuk kapsul bening berukuran besar yang dapat menampung tubuh bayi mereka.
Chanyeol membuka pintu portal yang menghubungkan dunianya dengan dunia lain.
"Katakan apa yang ingin kau katakan, Kyungsoo."
Dengan air mata yang berderai, Kyungsoo menyentuh kapsul yang berisi bayi laki-lakinya untuk terakhir kali.
"Tumbuhlah menjadi anak yang baik, Sayangku. Jangan nakal, siapa pun yang akan menjadi orang tua asuhmu kelak, semoga mereka bisa menerima dan memperlakukanmu seperti anak kandung mereka sendiri. Bunda sangat menyayangimu. Maaf karena bunda membiarkanmu bepergian sendirian. Selamat tinggal putraku tercinta, Park Yuan."
"Nasihat ayah sama seperti bundamu, Nak. Semoga kau bahagia di alam sama."
Sebuah cahaya terang membawa kapsul yang berisi tubuh bayi Yuan keluar dari pintu portal, penghubung antar dua dimensi yang berbeda.
"Kyungsoo!"
Gadis bertubuh mungil yang sedang menikmati waktu makan siangnya dengan khidmat itu mendadak tersedak ketika mendengar suara pintu atap yang dibanting keras. Dengan kesal ia melemparkan sepatunya ke udara hingga berakhir menimpa wajah pemuda berwajah cantik yang memiliki nama lengkap Byun Baekhyun.
"Lo mau buat gue mati konyol, hah?" sungut Kyungsoo setelah meminum air mineral dalam botol.
Baekhyun hanya terkekeh ringan sambil menampilkan wajah tak berdosa.
"Cuci tangan dulu, ih! Jorok banget," desis Kyungsoo sebal, yang disambut senyum lebar tatkala tangan Baekhyun bergerak mencomot makanan dari wadah bekal milik gadis tersebut.
"Gimana ujiannya, Lur?"
Tanpa mengindahkan tatapan galak Kyungsoo yang seakan bersiap menelannya hidup-hidup, Baekhyun mengalihkan topik pembicaraan.
"Menurut lo? Gue yang lemah dalam pelajaran berhitung bisa mendadak jadi pinter pas dihadapkan dengan soal essay yang susahnya ngalahin teori mekanika kuantum?"
Baekhyun tertawa kencang sementara Kyungsoo semakin menekuk wajahnya.
"Tapi ngomong-ngomong bukannya nyokap lu nyewa guru privat? Kenapa gak minta diajarin aja ke guru privat lu yang badannya kayak Menara Namsan itu?"
"Males ah."
"Ye! Dibilangin malah ngeyel." Baekhyun mencubit pipi Kyungsoo tanpa perasaan alias kasar.
"Sialan! Sakit, Dodol!"
Kyungsoo menendang Baekhyun sampai tubuh pemuda itu terjungkal ke belakang. Untung saja di belakangnya ada dinding pembatas, kalau tidak, mungkin tubuh Baekhyun akan berakhir menjadi gepeng setelah terjun bebas dari lantai lima.
"Anarkis banget sih, Beb! Kalau aku mati nanti kamu bakalan jadi jomblo tau," protes Baekhyun sembari memegang bokongnya yang berdenyut.
"Ye bodo amat!"
Chanyeol menghentikan laju mobilnya tepat di depan sebuah warung makan sederhana langganannya. Wajah pria itu berseri-seri penuh semangat saat kakinya melangkah memasuki warung. Suara musik klasik terdengar lembut dari semua sudut ruangan.
"Selamat siang, Nak Chanyeol. Mau pesan apa?" Seorang nenek tua menyambut kedatangan Chanyeol dengan ramah.
"Seperti biasa saja, Nek."
Tanpa mengatakan secara jelas pun neneknya sudah paham akan pesanan Chanyeol.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Chanyeol duduk di salah satu meja yang letaknya berada di pojok ruangan. Pandangannya menelusuri isi warung sampai suara dering ponselnya mengalihkan perhatian Chanyeol.
"Bukannya sekarang masih jam sekolah?" gumamnya bermonolog.
Dahi Chanyeol berkerut begitu melihat nama Kyungsoo terpampang di layar ponsel. Setelah menggeser tombol hijau, pria itu menempelkan ponselnya di telinga.
"Di manaaaa?"
"Sedang makan siang, kenapa?"
"Jemput- haish!"
Terdengar suara grasak grusuk dari arah seberang.
"Emang kamu di mana?"
"Di sekolah lah masa di makam!" sahut Kyungsoo sewot.
Chanyeol terkekeh. Terkadang kesewotan Kyungsoo dapat membuat dirinya merasa terhibur.
"Ya sudah, oke. Setelah makan siang aku jemput ke sekolah."
"Jangan lama-lama ya, urgent nih!"
"Baik, Tuan Putri."
"Hm, bye!"
Panggilan terputus. Chanyeol kembali menyimpan benda persegi panjang itu ke dalam saku mantelnya.
Oeeeek!
Mendadak Chanyeol terperanjat kaget saat mendengar suara tangisan lantang khas seorang bayi. Matanya terbelalak lebar ketika menyadari bahwa ternyata suara tangisan bayi itu berasal dari bawah meja.
"Astaga, Bayi! Hey, bayi siapa ini?"
Orang-orang disekitarnya tampak tak peduli, bahkan mungkin tak mendengar pekikan Chanyeol.
"Apakah di antara kalian merasa ada yang kehilangan bayi?"
Hening.
Tak ada satu orang pun yang menyahut pertanyaan Chanyeol.
Aneh.
Kenapa semua orang terlihat santai seakan tak mendengar kehebohannya begitu mendapati sosok bayi misterius di bawah meja?
"Nak Chanyeol, ada apa? Kenapa kamu terlihat bingung?"
Ah, kebetulan sekali!
"Nek, apa nenek tau bayi ini milik siapa? Sepertinya ada seseorang yang meninggalkan bayi ini di sini."
"Bayi? Di sini tidak ada bayi, Nak Chanyeol."
What the???
"Tapi, bayi di depanku ini..."
"Sudah, sudah, sekarang kamu nikmati saja makan siangmu."
Nenek tua itu meninggalkan Chanyeol yang masih dilanda kebingungan.
"Apa jangan-jangan bayi ini makhluk ghaib?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Sweetenest
Fanfiction[BAHASA | COMPLETED] Here's the secret to being happy. A Chansoo Fanfiction (Alternate Universe ─ GENDERSWITCH) snflwexdejane © 2021 Highest rank : #1 in chansoo [22/05/05]
