2

532 84 4
                                    

Sang Mi tak pernah tahu, sejak kapan bau darah dan aroma laut menjadi kenangan paling 'indah' yang pernah singgah di hidupnya.

Ia jadi tak suka cahaya matahari, bukan karena ia benci pada terang.

Im Sang Mi hanya tak suka terlihat. Jika bisa diibaratkan, ia adalah gadis penghuni bawah tanah. Mungkin di kehidupan masa lampau, ia jelmaan cacing atau humus sekalian?

Siapa yang peduli. Yang pasti jika disuruh memilih akan menjadi apa di kehidupan selanjutnya, seorang Im Sang Mi akan dengan lantang menjawab, "Akar pohon!"

Terik matahari sore di bulan Juni ini masih begitu menyengat saat Tae Young, tepatnya – Jang Tae Young berlari menghampirinya.

Oh, tunggu!

Bukan menghampirinya namun menghampiri kursi kosong di sisi Sang Mi. Mereka bak dua orang asing yang menghabiskan waktu bersama seperti sepasang sepatu yang ditakdirkan untuk berjalan beriringan tapi jauh dari kata 'hai' atau 'apa kabar'.

Pemuda itu, si tampan berambut hitam dengan memar di pelipis kirinya mengaduh.

Bukan dengan niat mencari perhatian si gadis bermata legam. Ia hanya tak terlalu peduli pada sekitar serta tak kuat lagi menahan nyeri di sekujur tubuhnya.

Ya, apa yang perlu seorang Jang Tae Young jelaskan pada alam mau pun pandangan aneh orang-orang?

Pemuda berusia 18 tahun itu tak ingin terlalu terbebani oleh rasa belas kasihan, sampai – Sang Mi datang mendekatinya dan mengulurkan sekaleng softdrink beraroma lemon dengan kikuk.

"Usap memarmu dengan minuman dingin ini! Rasanya akan jauh lebih baik." Sang Mi memberikan bekal musim panasnya.

Tae Young terpaku, tak tahu untuk mengatakan apa kecuali "Ah, ya...."

Terima kasih?

Hal seperti itu belum muncul dalam kamus hidupnya. Belum tertulis disana. Dan ngomong-ngomong soal softdrink itu, bagi Tae Young, itu adalah hadiah pertama yang ia terima selama 18 tahun napasnya menyemai ke udara.

:::

Tae Young berlari lagi, bagai kawanan bangau yang terarah dan pasti kemana tujuannya.

Pemuda yang kini bersurai cokelat gelap itu menarik tungkainya ke sisi si gadis berkuku lentik dengan lipstik merah dari toko Kim Ahjussi di belakang pasar.

Nyaris 300 hari ia mengenalnya dan kini, tak ada kata 'kikuk' lagi. Sepasang anak manusia itu memoles senyum bersama-sama. Sekoyong-koyongnya meleburkan diri dalam romansa sore yang pulas didekap hujan akhir Oktober ini.

Masa akhir sekolah akan tiba, pesta kelulusan akan dirangkai dengan begitu meriah.

Sang Mi, gadis yang sekarang telah resmi bertittle 'Kekasih Jang Tae Young' itu melemparkan pandangannya ke atas gugusan awan yang terarak pelan melewati kepalanya.

"Oppa, aku masih punya setahun lagi di sekolah sialan ini sementara lusa kau akan lulus. Aku iri."

Tae Young membawa tubuhnya lebih dekat, kemudian tangannya yang selalu terasa hangat itu meremas jemari Sang Mi yang selalu terasa dingin. Manik mata keduanya bersirobok.

"Sang Mi ah, kau ingat bukan bahwa cinta itu soal berbagi? Aku akan membagi waktuku setiap sore seperti ini untukmu. Jadi, jangan merasa kesepian!" Tae Young tersenyum, mengangkat jari kelingkingnya.

"Janji!" Ia menambahkan.

Angin berhembus sejuk, menerbangkan beberapa dedaunan kering di lapangan sekolah yang selalu sepi jika sore tiba.

Crazy, Dangerous LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang