Nawang seorang gadis berusia 19 tahun yang tengah bersekolah di salah satu universitas ternama di kota itu,dengan jalur Baesiswa.
Nawang juga seorang gadis yang hidup sebatang kara di sebuah kota besar karna kedua orang tua yang telah meninggalkanny...
Padahal baru up, tapi ga papa itung itung penebusan rasa bersalah karena satu bulan kaga up
Btw masih ada yang baca ga yaaa, part ini
Soalnya menurut ku alurnya sedikit ga jelas, jadi INSYAALLAH aku bakal ngelakuin revisi (pribadi) dahulu selagi menunggu kelas Online
Dikit dikit lah di revisi nya, ku post nya nanti pas udah tamat
Dan jujur niatnya, cerita ini bakal tamat di chapter 20-30 karna aku ga suka kalo kepanjangan Chapter nya.
Btw ini hari pertama kita melakukan KELAS ONLINE lagi yahhh
Ga kerasa libur kenaikan kelas telah usai
Padahal aku masih pengin rehat otak dulu
Tapi tetep aja, MUSTAHIL jadi ya terima aja
•••
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bukanya kita memang selalu di takdir kan menjadi antagonis di dalam cerita orang lain? meskipun sejatinya diri kita hanya salah satu korban yang selalu di anggap jahat karna cerita orang dengan awalan "katanya"
Makanan mereka datang, kemudian kami fokus makan. Meski di isi dengan obrolan santai dan juga perdebatan unfaedah antara Naya dan Janit.
Tanpa ku sadari ternyata KANTIN INI SUDAH DIPENUHI oleh siswa siswi lainya.
Dan aku baru menyadarinya saat.....
BRUKKKK
Seketika diri ku langsung berdiri dan memperoses apa yang sebenarnya terjadi di sini.
Ku tatap seorang gadis yang tengah terduduk di lantai dengan menunduk namun bahu bergetar itu cukup menjelaskan bahwa dirinya sedang menangis.
Namun masalahnya adalah KAN YANG NABRAK DIA, KO YANG NANGIS DIA JUGA SIH. TERUS YANG KETUMPAHAN JUGA KAN GW
Heran. Satu kata itu lah yang sedang mendekam di dalam otak ku....
Butuh waktu untuk memperoses ini semua, namun sialnya ada seorang yang dengan kurang ajarnya menamparku, di tengah tengah kebingungan yang melanda.
PLAKK
"LO APAIN LAGI RANI HAHHH!!!!!!" teriak gadis di depan ku setelah dengan lancangnya menampar ku
"Wah anjing nih orang, main nampar aja" kata janit, dan akan membalas pada gadis itu. Namun ku angkat tangan ku sebagai tanda bahwa aku saja yang mengurus nya.
Tak taukah dia, kalau saat ini dia telah membangunkan singa yang baru saja tertidur