Dua jam sudah mereka mendaki Gunung Halla dengan trek yang lumayan sulit, akhirnya tepat pukul 06.20 mereka sampai juga dipuncak Gunung Halla. Saat itu juga, matahari terbit menyongsong rombongan sahabat itu dengan sinarnya yang mulai menghangat kan badan.
Satu persatu dari mereka perlahan mulai meneteskan air matanya, bukan karena kesedihan, melainkan mereka terharu dengan pemandangan dari Puncak Gunung Halla. Keenam sahabat itu saling berpelukan, pandangan mereka tidak pernah bisa teralihkan sejauh mata memandang. Bagi mereka, Republik Korea adalah gambaran terindah yang pernah mereka lihat seumur hidup mereka.
"Bagus banget ya No. Kita diatas awan, aku gak tau deh kalau Negara kita bakal sekeren ini." Ucap Minjeong sambil menjabat tangan Jeno. "Thanks banget ya, kalau bukan karena rencana mu, kita semua gak akan pernah kesini No." Imbuh nya.
"Iya, keren banget. Aku jadi bangga deh sama Negara kita." Ucap Minjeong.
"Guys, terimakasih banyak kalian sudah mau ambil bagian dari perjalanan panjang ini." Ucap Jeno pada kelima sahabatnya.
Mereka lalu berpelukan kembali, mengambil foto masing-masing dan foto mereka bersama. Menikmati indahnya Republik Korea dari puncak tertingginya, yaitu Gunung Halla. Perjalanan panjang mereka terbayarkan dengan sebuah kenangan yang tak akan pernah bisa terlupakan seumur hidup mereka.
Hari itu, mereka berdiri diatas bumi tapi dekat sekali dengan langit. Dekat dengan sang pencipta. Sebuah persahabatan, Impian, cita-cita dan Cinta. Tidak ada siapapun yang bisa membuktikan seberapa besar itu semua. Tapi seperti sebuah mimpi, mereka hanya harus mempercayainya.
Perjalanan Halla itu bukan perjalanan alam, tapi perjalanan hati. Dan keindahan Gunung Halla, membuat mereka memutuskan untuk menginap semalam lagi disana.
.....
"Jeno, kalau aku nih No, naksir sama seseorang ditempat kayak gini, pasti kutembak orangnya No. Jadi kalau misal ada yang nanya, eh kamu jadian dimana? Dijalur pendakian Gunung Halla. Kerenkan." Ucap Haechan pada Jeno saat mereka tengah bersantai di hamparan ilalang yang tumbuh liar diGunung Halla.
"Ah Ngomong apaan sih." Jawab Jeno sebal.
"Udah jangan bohong sama aku. Nah tuh orangnya." Jawab Haechan sambil menunjuk kearah Minjeong yang sedang merapikan tenda mereka.
"Ah, males aku curhat sama kamu. Yadong melulu." Jawab Jeno.
"Udah ngomong aja sama dia, Minjeong juga sama kok kayak kamu Jeno."
"Susah No, soalnya udah deket banget. Sampai gak tau apa bedanya. Aku juga gak mau kehilangan temenku Chan." Jawab Jeno.
"Hhhh, katanya males curhat sama aku, Yadong mulu. Tapi dipancing dikit aja udah kemana-mana. Eh No, sebuah cinta itu harus diungkapkan No, gak ada cinta yang gak diungkapkan. Kecu.."
"Kecuali oleh orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri. Bener juga kamu Chan. Itu kata-kata siapa ya, kayak pernah denger?" Tanya Jeno.
"Puisinya si Jaemin. Hhhh, eh ngomong-ngomong Jimin nya mana ya No?" Tanya Haechan sambil melihat kesekelilingnya.
"Nah, itu." Tunjuk Jeno kearah Jimin yang sedang berjalan-jalan disekitar sana bersama Jaemin.
"Nah nah nah. Tuh liatkan. Kayaknya si Jimin udah mulai kena syair buaian al-Ajnihah al-Mutakassirah."
"Apaan tuh?" tanya Jeno.
"Itu sayap-sayap patah, Khalil Gibran."
"Oh kalau si Jaemin berarti sayap-sayap ayam ya." Celetuk Jeno.
Disela-sela obrolan canda tawa mereka tiba-tiba Minjeong datang dan duduk di tak jauh dari Jeno dan Haechan. Haechan yang penasaran dengan perasaan Minjeong pada Jeno segera mendatanginya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Hallasan (End✅)
Teen FictionIni adalah perjalanan cinta dari kelima sahabat. Cinta bertepuk sebelah tangan, Cinta dalam diam dan Cinta blak-blak an. Cast : Na Jaemin Yoo Jimin ( Lee Jimin ) Lee Jeno Kim Minjeong Lee Mark Lee Haechan Choi Jisu