Sebutanya Chocolet, Chocolate Pelet kepanjangannya. Katanya bisa bikin orang yang makan coklat itu jadi suka sama kita. Makanya, Fifi rela beli coklat yang harganya selangit itu di internet untuk dia berikan pada Wahyu saat hari Valentine. Berharap...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Belum masuk sepenuhnya ke dalam kelas. Tio sudah dihadang oleh Acha. Gadis itu menghalangi jalannnya, ketika memlilih jalan ke kiri. Dia di cegat, begitu juga ke kanan. Bahkan kedua tangan gadis itu sengaja diangkat, diregangkan agar dia tidak kabur. Kesal karena perilakunya yang menyebalkan. Tio akhirnya emosi. "Ngapain sih lo?"
"Santai, Fi! Elah, sensi amat," katanya begitu. Tio di dalam mengerutu. Mau apa lagi gadis ini padanya? Belum cukup dia menyulitkan dirinya dengan semua lendotan itu. Sekarang mulai menghalangi jalannya. Perlu tahu saja, dia sudah tidak tahan dengan semua hal yang menimpanya. Dia ingin cepat-cepat kembali ke tubuhnya. "Gue mau nanya dong,"
"Apa! Cepetan!" desak Tio tidak sabar.
"Lo ngomongin apa sih sama si Tio?" tanyanya penasaran. "Tumben banget lo ngobrol sama dia. Udah dua kali loh, ini!"
Pupil mata Tio melirik ke samping, lalu berkeliaran kemana-mana. "Eng! Nggak penting, kok!"
"Lo nggak berniat ngerebut Tio dari gue gara-gara lo di tolak mulu sama Wahyu, kan, Fi?" tukas Acha. Tio membulatkan matanya, terkejut bukan main. Oh ayolah, merebut Tio? Apa perlu dia memberi tahu pada gadis ini jika dia ini adalah Tio? Kenapa Acha selalu aja mengatakan hal-hal bodoh padanya? Ini benar-benar menyebalkan. Dia juga tiba-tiba mencengkram kedua pundaknya. Menguncang-guncang tubuhnya kencang sekali. "Jawab, Fi! Lo nggak gitu, kan!! Ya allah! Jangan jadi penikung! Gue tahu lo sahabat gue, tapi jangan Tio gue mohon,"
Guncangannya benar-benar seperti blender. Perutnya jadi mual. Juga pusing di kepala. "Iya! Nggak--huuugh---serius,"
"Bener!" katanya memastikan. Guncangannya berhenti. Dia melepaskan kedua tangannya.
"I-ya! Aduh, pusing!"
"Pokoknya lo awasnya! Gue liatin perilaku lo sama Tio. Kalau ada hal-hal yang menjerumus ke sesuatu hal seperti hubungan kalian makin deket dan mesra! Gue bakalan labrak kalian berdua!" ancam Acha sembari menujuk dengan jari telunjuk dan tengahnya mengarah langsung pada kedua mata Tio. Mendapatkan hal itu tentu saja Tio bergedik takut. Mundur takut matanya tercolok. "Gue tuh suka sama Tio dari kelas satu! Lokan tahu gue suka sama dia pada pandangan pertama. Artinya gue tuh suka banget sama dia,"
Tio tersentak, salah satu alisnya bangkit karena mendengar hal itu. "Lo suka sama Tio pada pandangan pertama?"
"Iya, waktu itu gue lagi di rumah si Rakha. Itu juga pas gue baru masuk jadi anak baru. Pas itu tiba-tiba ada yang dateng. Gue yang nyambut dan itu Tio. Gue di situ kek apa ya. Terhipnotis gitu. Rasanya gue ngeliat seorang malaikat yang turun dari langit. Selama ini gue belum pernah begitu. Jantung gue deg-degan, trus mata gue nggak bisa lepas buat nggak ngeliat dia." ungkapnya. Senyuman muncul di bibirnya. "Bisa dibilang, gue udah jatuh cinta pada pandangan pertama sama Tio. Dan semakin suka setiap harinya,"
Lagi-lagi Tio membungkam. Mengetahui benenarannya membuat hatinya sedikit tersentil. Sempat bingung dengan alasan gadis itu menyukainya sampai seperti ini hanya karena dia bertamu ke rumah Rakha. Ya, jujur saja. Saat itu dia sama sekali tidak merasakan apapun pada Acha. Tujuannya hanya bertemu dengan Rakha. Dia yang membuka pintu hanya dia anggap sebagai kewajibannya. Dia tamu. Tapi entah kenapa kalimat Fifi beberapa menit lalu tiba-tiba saja melintas. Rasanya seperti menampar dirinya begitu keras.
"Lo suka sama Acha?"
"Lo sama Wahyu suka sama gue sama Acha. Selama dua tahun gue sama Acha suka sama kalian berdua. Gue nggak paham kenapa lo berdua menghindari kita. Dengan jelas! Nggak ada alasan yang pantes. Nggak ada alasan yang gue sama Acha dapet. Pasti ada alasan di balik ini semua yang harus gue sama Acha harus tahu!"
Dia tidak mau berbohong. Tapi hatinya sekarang rasanya tidak nyaman.
Acha mengerutkan dahinya. Menatap Fifi aneh. "Bukannya lo udah tahu soal ini, Fi? Lo lupa?"
Tio tersadar. Berubah gelisah. "Eh? Eng---"
"Lo makin mencurigakan," cibir Acha.
"Gue---"
Saat mereka bicara di ambang pintu. Dari dalam, dua siswa yang sedang kejar-kejaran berlari ke arah mereka. Tio melihat itu, dan merasa sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Seperti cenayang. Apa yang terjadi selanjutnya persis seperti yang dia kira. Salah satu siswa mendorong Acha. Berlari keluar kelas begitu saja. Gadis itu oleng. Dengan gerakan lambat. Tio bisa lihat gadis itu tentu mengarah padanya. Dia jatuh ke arahnya.
Dan dengan sigap Tio menangkap tubuhnya. Menahannya dengan kedua tangannya. Persis seperti seorang pangeran yang menangkap seorang putri. Mereka saling menatap. Sama-sama membulatkan mata karena terkejut. Jantung Tio berdetak kencang, baru pertama kali dia melihat mata coklat itu begitu dekat. Alis yang hitam rapih, hidungnya juga bibir itu. Sepersekian detik itu. Dia bisa mengingat semua sisi wajah dari Acha. Setiap kedipan yang Tio buat. Sebanyak itulah rasa terpesonanya muncul.
Acha menaikan salah satu tangannya. Sengaja dia kaitkan di leher Tio. "Fifi! Lo menyelamatkan hidup gue! Lo mau nggak nikah sama gue,"
"Apa?!" Pekik Tio. Dia langsung melepaskan kedua tangannya. Membiarkan gadis itu tersungkur di bawah. Tanpa Acha tahu, pipi Tio memerah. Menghindari kontak mata. "Ngelantur aja kalau ngomong lo,"
Acha meringkis, bangun sembari mengusap pantatnya. "Aduh kejam banget lo, Fi! Sakit tahu, pantat gue,"
"Biarin aja!" balas Tio ketus. Dia melewati Acha, mendorong gadis itu dari jalannya. "Minggir lo!"
Acha tertawa geli. Mengikuti Tio di belakang sampai ke meja mereka. "Ahaha! Ciee malu! Lo pangeran gue, Fi! Lo menyelamatkan hidup gue barusan! Tolong lamar aku pangeran!"