Bab 1: Kilas Balik Peristiwa

5 3 1
                                        

Kilas Balik Peristiwa

Bandung 1999

Malam itu,entah kenapa burung gagak berkeliaran. Berkoar mengerikan dan saling bersahutan. Setiap jejak langkahnya seolah diintai oleh puluhan pasang mata. Mengekor setiap jarak yang ia bentangkan bersama udara. Ia tahu, dari jarak sedekat ini,ia bisa mencium aroma kematian. Namun ia tetap acuh, memacu langkahnya cepat menyusuri tepi jalan.

Berjalan gontai menyusuri jalan yang tampak sepi. Deru napas yang memburu serta detak yang kunjung menemui ketenangan, menjadi temannya kala sepi semakin menikam. Semakin lama, sesak itu seolah mengikat dadanya. Semakin erat, seolah sulit dilepaskan.

Ragaftal Panthera Tigris. Panggil saja Agaf. Lelaki berbaju gelap itu sudah berjalan hampir 3 jam tanpa tujuan. Namun, sampai detik ini apa yang ia cari tak kunjung ia temukan. Netranya berpendar gelisah. Kembali berlari ketika pikiran buruk kembali menjadi momok yang paling menakutkan untuknya.

"Gadisku, pasti akan baik-baik saja."

Namun, ketika netra redupnya menatap sebuah kafe mungil, disaat itulah amarahnya seolah meledak. Melangkahkan kakinya dengan langkah tergesa memasuki area kafe.

"Ca, apa yang kamu lakuin?!"

"Ag-agaf?"

Lelaki itu tersenyum miring. Menghempaskan salah satu kursi yang memang berada di dekatnya. Membuat pengunjung kafe terlonjak kaget termasuk Caca dan lelaki yang mengaku sahabat dekat Agaf.

"Ini tempat kamu lari?"

Cewek berbalut dress merah muda itu menggeleng kuat. Membalikkan badannya guna melihat wajah sang kekasih yang tepat berada di belakangnya.

"Ag-agaf, aku bisa jelasin."

"Ga, Caca nggak-"

"Diem, Ri! Aku lagi ngomong sama Caca!"

Tatapannya beralih menatap sang kekasih yang menangis tersedu entah sebab apa. Disini, seharusnya ia yang kecewa, seharusnya ia yang terluka.

"Jelasin Ca! Mamah kamu telepon aku, katanya kamu kabur dari rumah. Seandainya kamu punya masalah, kamu punya aku. Kamu bisa cerita semuanya. Nggak dengan kabur kayak gini, Ca!"

"A-aku...."

"Ca!"

"AKU CAPEK AGAF!!Aku capek!"

"Kamu masih punya aku, Ca. Kalo kamu ada masalah, kamu bisa cerita ke aku."

Gadis itu tersenyum remeh menatap Agaf. Namun, air mata itu tak kunjung surut mengalir.

"Aku capek, aku capek bukan sama Mamah, atau sama Ayah. Aku capek sama kamu Agaf. Kamu nggak bisa ngertiin aku, kamu selalu nggak punya waktu buat aku. Seandainya kamu sayang aku, stop dengan pikiran konyol kamu, Agaf. Aku malu, aku malu punya cowok sakit mental kayak kamu!"

"Ca...." Cowok disamping gadis itu berusaha untuk menyadarkan Caca. Tidak, bukan ini yang Caca katakan sebelum Agaf datang.

Agaf tersenyum pedih. Seharusnya Agaf tak kecewa, seharusnya Agaf sudah terbiasa. Tapi, tetap sakit rasanya. Entah kenapa.

"Terus, apa mau kamu Ca?" Agaf merendahkan suaranya. Tak lagi terdengar lantang sebelum gadisnya mengatakan alasan dibalik pelariannya dari rumah.

"Aku mau kamu milih, pilih aku, atau khayalan nggak jelas kamu. Kalo kamu sayang aku, kamu harus berhenti, Agaf. Kalo kamu nggak bisa, kita berhenti disini aja, aku capek."

Agaf termenung sebentar. Lantas ia menggeleng. Menatap gadisnya dengan wajah memelas. "Maaf,Ca, aku nggak bisa."

"Aku udah duga, itu pasti jawabannya. Ri, anterin aku pulang." Caca berlari begitu saja keluar dari kafe. Mau tak mau, Rian-sahabat Agaf segera menyusul Caca. Meninggalkan Agaf dengan tatapan permintaan maaf.

GwishinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang