YOU NEVER KNOW-2

163 50 14
                                        

Selamat malam semuanyaa^^ selamat membacaa


=====

Minggu pagiku berubah, ternyata perubahannya karena pertemuan kita- Nora

Nora

Minggu pagi adalah hari yang tepat untuk bermalas-malasan. Terlebih jika kita hanya hidup seorang diri, dan itulah yang aku rasakan saat ini. Bagiku minggu pagi adalah waktunya bagiku untuk bermalas-malasan, menikmati hari setelah 6 hari penuh aku disibukkan dengan pernak-pernik pekerjaan yang memabukkan.

Namun, rasa lapar yang kurasa mengubur rasaku untuk ingin berbaring diatas tempat tidur seharian. Aku bangkit dan bergegas mengambil hoodie-ku, keluar dan bergegas menuju tokonya Mbak Dania yang sangat dekat dari plat tempat tinggalku ini.

"Yang itu ya mbak satu." / "Dania, aku mau cokkies yang itu."

Aku terkejut karena aku menunjuk kue yang sama dengan yang oranglain tunjuk. Tapi, Wow he looks so cute. Em, maksudku. Lihatlah bagaimana tubuh kekarnya dan bagaimana ia menunjuk cokkies lucu itu? Sunguh? Oke Nora, Don't judge a book by it's cover.

"Tapi cokkies yang ini hanya tinggal satu" Perkataan Mbak Dania mengembalikanku dari pemikiranku sendiri.

"Em, maaf nona. Tapi boleh cokkies ini biar saya yang ambil? Anda boleh beli yang lainnya biar saya yang bayar. Soalnya cokkies ini cokkies kesukaan anak saya." Oke pemikiranku salah. Cokkies itu ternyata untuk anaknya, a good daddy. Isterinya pasti beruntung.

"Ah, iya Mas. silahkan." Aku mempersilahkannya mengambil cokkies itu untuk anaknya.

"Terimakasih."

Aku lalu memilih beberapa potong roti untuk ku bawa pulang dan sampai dikasirnya Mbak Dania, saat aku ingin membayar pria tadi sudah pergi.

"Mbak, in-"

"Gausah dibayar Ra. Belanjaan kamu sudah dibayar tadi sama Gerald. Bahkan kalau kamu mau ambil beberapa lagi juga masih bisa."

"Serius Mbak?" Mbak Dania hanya mengangguk. "Tapi, kenapa bisa dibayarin begini mbak?"

"Soalnya kamu tadi itu sudah mau mengalah untuk memberikan cokkies itu untuk anaknya Ra."

"Yaudah deh, kalau udah dibayarin gini mana bisa nolak aku tuh. Apalagi bisa ambil beberapa roti gratis dari toko mbak."

"Kamu kalau soal rerotian di toko mbak emang gak bisa nolak ya Ra." Aku sontak langsung tertawa mendengar candaan Mbak Dania. Setelahnya aku membuka sebungkus roti dan segera melahapnya, untuk memberi asupan pada perut dan para cacing diperut.

"Ra, Gerald ganteng kan?" Aku langsung tersedak mendengar ucapan Mbak Dania begitu tiba-tiba. "Ganteng sih mbak, tapi bukannya suami orang ya? Gak lagi deh aku Mbak main-main sama suami orang."

"Gerald masih duda kok Ra. Belum nikah lagi dia tuh, kamu mau gak mbak kenalin sama dia? Ya mana tau ternyata kamu jodohnya diakan. Dan yang penting biar kamu cepet move on Ra."

"Apa sih mbak. Aku udah move on loh." Aku berpura-pura memajukan sedikit bibirku untuk menampilkan kesan merajuk padanya. "Bagus dong, kalau kamu beneran sudah move on. Kalau gitu mau ya kamu mbak kenalin sama Gerald. Dia baik loh Ra, lihat aja buktinya dia bayarin kamu segini banyak hanya karena sepotong cokkies."

"Emang mbak yakin banget dia duda? Kalau ternyata masih sama isterinya gimana? Aku beneran gamau mbak berurusan dengan hal begituan lagi." Kalau bisa dibilang, aku cukup trauma dalam menjalin hubungan yang seperti itu. Kan iya banget kalau semisal aku terjerumus dilubang yang sama untuk kedua kalinya.

YOU NEVER KNOWTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang