Bolehlah aku berucap pada kematian?
Berucap sebuah permintaan untuk membawaku meski aku masih takut padanya?
Agar dirimu yang di sana tidak perlu membaca keluhan gelap ini, agar dirimu yang di sana terbebas dari segalanya.
Hanya diam menanti akhir.
Tidak lagi berjuang dalam genangan omongan.
Tidak akan ada lagi warna pekat yang menyelimutimu.
Bukankah itu pilihan bagus?
Membiarkan tulisan ini berdebu tak tersentuh dan kita berdua tertawa di sana, membuang semua mimpi yang pernah kita bangun.
Kita berdua tahu bagaimana jahilnya Tuhan dalam permainannya bersama kita, garis takdir yang kita impikan terpotong oleh-Nya.
Bahkan aku tidak yakin dirimu yang berada jauh di sepuluh tahun mendatang akan merasakan hirupan nuansa musim semi.
Mungkin saja dirimu masih tetap hidup dalam genangan hancur penuh celah rusak.
Dengan kehancuran beribu penyesalan, bukankah lebih baik membuang semuanya dan ikut bersama kematian?
Aku hancur.
Dirimu yang di sini memikirkan sebuah kematian, namun tetap saja kematian itu menakutkan.
Aku ragu pada dirimu tapi semoga kau benar-benar berhasil dalam mimpimu jika aku tidak mengakhiri untai takdir ini hari ini.
Aku akhiri saja ya?
Arai
28.08.21
KAMU SEDANG MEMBACA
antah berantah
Fanfictionuntuk diriku di masa depan, dari diriku di masa lalu. ©kuwoov 8月7日
