BAB 14
♡♡♡
Nyatanya, kebahagiaan atau kesenangan berlebih memang tidak bertahan lama. Hanya sesaat. Terlalu singkat untuk disebut kemenangan. Begitulah yang Binar rasakan sekarang.
Baru tak kurang dua menit yang lalu ia merasa berhasil mengalahkan Agra, kepanikan langsung menyerang saat Emily, salah satu sahabat suaminya bertanya spontan, “Lo tinggal di apartemen sekarang ya, Gra?”
Agra yang semula hendak kembali meraih stik kentang di piring pesanannya menghentikan gerak tangan di udara. Ia melirik ke samping, Pada Emily yang dengan santai mengunyah camilan seolah pertanyaan barusan seringan topik cuaca, tanpa tahu tema tentang apa pun yang berhubungan dengan apartemen atau tinggal bersama merupakan salah satu hal paling sensitif bagi sang lawan bicara saat ini.
Mendengar pertanyaan barusan, sisa-sisa senyum Binar langsung menghilang. Ia melirik tempat Agra dengan hati-hati. Sesuai dugaan, punggung lelaki itu menegang. Jangankan Agra, bulu kuduk Binar pun kini meremang.
“Dari mana lo tahu?” tanya si pemilik suara berat itu, lantas melanjutkan gerak tangannya, kembali mengambil camilan dan mulai memakan perlahan dengan eskpresi yang tampak waspada, sedikit gagal menyembunyikan perasaannya. Atau benar-benar gagal. Garis bibirnya yang kaku nyaris menunjukkan ketidaknyamanannya akan pembicaraan ini. Hanya saja, Emily memang bukan termasuk manusia dengan tingkat kepekaan tinggi. Beruntung Nara dan Bagas terlalu fokus pada makanan mereka hingga tak terlalu memperhatikan rupa Agra saat itu.
“Gue kemarin nggak sengaja liat mobil lo masuk area apartemen di daerah Sudirman.”
Apa ini saat yang tepat untuk Binar mengatakan mampus pada diri sendiri? Aish ... Emily bahkan tahu lokasi mereka!
“Lo beneran pindah, Gra?” tanya Bagas ikut menimpali, masih sambil mengunyah.
Sejenak, Agra kebingungan mencari jawaban. Berbohong pun rasanya akan percuma. Tiga sahabatnya sesekali mampir ke rumah untuk mendiskusikan tugas. Bagas bahkan punya kontak Aira untuk ditanya-tanya. Aira, yang tak pernah mau diajak berkompromi dalam suatu kebohongan. Ah, kombinasi yang sangat sempurna.
Menelan hasil kunyahan yang masih belum cukup halus dalam mulut, Agra tak punya pilihan yang lebih baik selain mengangguk enggan. Kendati merasa punggungnya panas lantaran pelototan seseorang, ia menolak menoleh, karena tahu pelakunya adalah Binar yang pasti saat ini ingi melemparkannya ke antariksa lantaran membenarkan pertanyaan Emily.
“Kenapa pindah?” kali ini Nara yang buka suara. Gadis yang duduk di seberang meja itu menyeruput sisa minumannya.
Agra berusaha tersenyum sedikit meski gagal. Bagaimana ia bisa tersenyum di saat seperti ini? Agra mewanti-wanti Binar agar menyembunyikan pernikahan mereka, tapi teman-temannya justru tahu tempat tinggalnya sekarang. Mendadak, Agra punya firasat buruk akan hal ini. “Gue cuma mau nyoba mandiri.”
“Mandiri nggak harus pisah sama ortu kali, Gra. Lagian, masih sekota juga.”
“Tapi Bagus, sih,” tandas Bagas dengan cengiran nakalnya yang konyol. “Kita bia sering-sering mampir!”
Sekali lagi, terdengar bunyi terbatuk-batuk. Kali ini bukan salah satu dari personel Agra, melainkan meja sebelah. Tidak, tidak. Binar tidak tersedak, Agra tahu. Si keras kepala yang tak terduga itu hanya sedang berpura-pura, barangkali sirine peringatan tanda bahaya bagi Agra .
Salahkan Binar dan segala kekacauan yang diperbuatnya. Salahkan Binar karena sudah membuat Agra dongkol barusan. Salahkan Binar karena kini ia ingin balas dendam dengan membuat gadis itu tak nyaman.
Pokoknya salahkan Binar, sebab kini Agra ... mengangguk kecil mengiyakan yang benar-benar langsung disambut bunyi tersedak. Entah tersedak minuman atau ludah sendiri. Yang pasti, Agra merasa sedikit puas karena telah berhasil meraih skor sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lukaku Belum Seberapa
Roman d'amourCerita ini hanya fiktif. Bacalah saat benar-benar luang. Ambil baiknya, buang bagian buruknya. °°° Satu-satunya cara agar tidak terluka dalam sebuah hubungan adalah ... jangan jatuh cinta. Itu merupakan prinsip konyol Binar yang terjebak perjodohan...
