XVII

1.5K 254 31
                                        

"THEODORIC LEE BANGOOOON!!!"

Kaget. Nyawa si ubi itu rasanya seperti terkoneksi secara tiba-tiba.

Alhasil kini ia pun hanya menatap datar ke arah perempuan yang sedang membuka gorden dan menyambut matahari pagi dengan senyuman cerahnya.

"Jei monyed, tolong memanusiakan manusia dong, gak lucu kalo calon dokter kaya gua ini mati sebelum wisuda!"

Jeifanya menoleh ke arah Theodoric lalu berkacak pinggang, "Lo kalo dibangunin secara baik-baik gabakal bangun!"

Benar sih, Theodoric kalau tidur seperti mati suri.

"Ibu tiri banget lo anjir" dumel si pemuda Lee itu, ia pun kembali tidur dan menutup wajahnya dengan bantal.

"Gua lagi menyambut hari dengan baik, lo malah loyo bangettt!" Jeifanya pun kini duduk di tepi kasur lalu merapihkan selimut yang ada terlempar ke bawah.

"Hmmmmm"

"Ini lo tidur apa perang sih yo? Ancur banget kamar lo anjirrr!" Omel Jeifanya, ia pun bangun dan memunguti beberapa boneka milik Theodoric yang tercecer di lantai.

Serius deh, itu kamarnya si ubi seperti habis kena badai!

Sepuluh menit. Jeifanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sabar menunggu Theodoric bangun dan mulai beraktifitas seperti manusia normal lainnya. Mandi, sarapan, dan yahㅡ bermalas-malasan kembali.

Karena mereka berdua kini sedang menonton televisi dengan Jeifanya yang duduk dan Theodoric yang tiduran di atas pahanya.

Mereka berdua memang sudah saling confess, tapi tidak banyak yang berubah diantara keduanya. Apalagi status mereka, tidak ada berubahnya sama sekali. Sama-sama tidak jelas. Yang satu tidak mau disebut sahabat, yang satunya lagi masih saja menganggap sahabat.

Sebab kalian tau sendiri, baik Theodoric maupun Jeifanya selama ini selalu saja terjebak di hubungan yang tidak jelas. Jadi memang agak sedikit sulit untuk memperjelasnya.

"Gua pengen beli gramophone deh Jei," Ujar Theodoric, matanya menatap wajah Jeifanya dari bawahㅡyang mana sialnya, gadis itu masih saja terlihat cantik.

"Ya beli, duit lo kan banyak."

"Yeee bukan itu maksudnya, temenin gua beli lahh. Sekalian kita date gituu, mumpung hari ini lagi free juga kan?"

Jeifanya menunduk lalu berkata, "Tapi nanti beliin piringan hitamnya pink floyd sama CAS ya?"

"Iya cantik, mau apa lagi? Bilang aja ntar gua beliin." Theodoric terkekeh sambil mencolek dagu Jeifanya.

Sudah kelihatan sekali ya kalau seorang Theodoric Lee ini calon-calon Sugar Daddy? Jeifanya jadi ngeri, tapi ya enak juga sihㅡdia kan tinggal menerima saja tanpa perlu memberi apapun sebagai balasan seperti bayi-bayi gula lainnya.

Kecualikan perihal ciuman mereka kemarin, oke?

:D

"Pengen ke cafe baru ituuu, tau kan?"

"Yang deket giant?"

"Yap yappp, tapi kesananya pas malem ajaa!"

"Okee, terus?"

"Beneran boleh nih?"

"Iya jejei, dari dulu juga gua iyain mulu. Apalagi sekarang gua udah confess ke lo, makin gua iyain lah. Cepet ngomong, gausah malu-malu kecoak."

"Kucing, bukan kecoak!!"

"Iyaaaiyaaa kucingg!"

"Oke, gua lanjut yaaa?"

J. Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang