"Theo itu hatinya gampang berubah, Jei. Hari kemarin dia boleh aja keliatan sayanggg banget sama lo, tapi lo harus siap kalau hari berikutnya dia terlampau biasa aja ke lo."
Jeifanya sebenarnya tau bagaimana perangai Theodoric tanpa diingatkan siapapun, tapi ia jadi penasaranㅡapa pernah anak itu bersikap terlampau biasa aja padanya?
"Ni gua tau nih, pasti akal-akalan si Mami biar kita musuhan! Jei! Sekarang bilang ke gua, lo lebih sayang gua atau si babi guling satu ini?!" Theodoric mengomel sambil menunjuk-nunjuk buntalan bernyawa berwarna putih yang saat ini tengah digendong Jeifanya.
"Stress ya lo?"
Bibir Theodoric maju lima senti, ia pun beralih menjadi duduk di samping Jeifanya dan mendusalkan wajahnya di cerukan leher gadis itu, "Gua cemburu liat lo lebih asik sama si babi guling ini ketimbang guaaa, bahkan lo aja gak nanya hari ini gua udah makan atau beluum!"
Menajiskan sekali bukaan?
Jadi mana ada manusia ini bersikap terlampau biasa pada Jeifanya? Mustahil rasanya.
"Coba tebak deh yo, siapa orang nomor satu yang pengen banget nakol pala lo sekarang ini siapa?" Jeifanya bertanya dengan ekspresi datarnya.
"Lo tebak ini dulu deh,kuda ... kuda apa yang nyenengin?" Theodoric bertanya dengan kerlingan jahilnya.
"..."
"Kudapati Jeifanya makin hari makin cantikkkk, makin gemesin, makin bahenoll~"
Ini sih bukannya terlampau biasa, tapi terlampau luar biasa! Jeifanya rasanya ingin kembali ke waktu dimana Charlettㅡkakak sepupunyaㅡmengingatkannya perihal Theodoric dan menjawab, "Yang ada si Theo makin hari makin gila kak, kadar bucinnya udah gak ketampung batas normal lagi."
"Ck, ayo serang theo!" Jeifanya mengangkat si babi guling ke udara dan mendaratkannya di wajah Theodoric.
*
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*
"Theoo! Jeii! Sinii!"
Seruan dari Mami Theodoric itu sontak membuat keduanya yang sedang bergulat di sofa ruang tengah menghentikan aksi mereka dan Theodoric berkata, "Baginda ratu sudah memanggil kita, tuan putri."
"Apasih lo..." Jeifanya terkikik geli lalu melemparkan bantal sofa ke wajah Theodoric.
Gadis itu lantas pergi duluan dengan langkah yang sedikit terburu-buru karena Theodoric mengejarnya dari belakang, "Mamiii! Anaknya ngejarr!!"
Mami rasanya sudah biasa melihat anaknya itu iseng pada Jeifanya, terlampau biasa dan seringkali dilibatkan dalam perperangan kecil yang mereka buat. Seperti sekarang ini, Jeifanya bersembunyi di belakang tubuhnya dan Theodoric yang berusaha meraihnya.