Alarm jam di hp seorang laki-laki yang tengah tertidur itu terus berbunyi, namun sang pemilik tak kunjung bangun.
Alarm beberapa kali pun berdering, namun lelaki itu masih dengan posisi yang sama, enggan bangun. Alarm mati hanya bermodal tangan yang ia raba di area Kasur untuk mematikan bunyi bising yang masih ia anggap mengganggu tidurnya.
Hingga membuat pria tua yang memasuki kepala 6 itu masuk ke dalam kamar Rey-cucunya, penampakan kamarnya saat inisangat berantakan, sebab cucu bungsunya ini memang malas untuk menata kamarnya yang semalam ia buat untuk bermain musik, dan pergi keluar rumah dengan kondisi barang berserakan.
"YA AMPUN. JADI ANAK LANANG KOK KERJAANNYA TIDUR MULU! AYO BANGUN UDAH SIANG, MAU TERLAMBAT KE SEKOLAH KAMU?!" nada pria tua itu sedikit meninggi untuk bisa membangunkan cucunya.
"Hmm, jam berapa sih?" tanya Reynald dengan keadaan mata masih tertutup rapat.
"Jam setengah tuju," Sang kakek pun menarik paksa selimut yang dipakainya kemudian memukul kaki sang cucu-gemas, agar ia segera bangun juga. "Akh aduh iya iya kek, Rey bangun nih," ringis Rey mengusap kakinya, sakit.
Ia menengok alarm di hpnya dan naasnya memang sudah terlambat, sisa 15 menit menuju sekolahnya dari sekarang.
"ASTAGA! UDAH JAM SETENGAH TUJUH, KENAPA KAKEK GAK BANGUNIN?" heboh Reynald sampai loncat dari kasurnya lari ke arah kamar mandi.
"Tadi udah dibangunin masih aja susah, gimana sih kamu? Udah dibilangin jam setengah tujuh masih aja belum bangun," cerocos kakeknya itu, dikira cucunya itu tidak mendengar apa yang dikatakan tadi, bahwa ia sudah terlambat berangkat ke sekolah.
"Dasar anak lanang, alarm ke seribu kali masih ngorok aja," tukas kakek menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah laku cucunya itu, kemudian melanjutkan aktivitas berikutnya setelah kamar Rey terlihat rapi lagi. Sebab, Reynald pasti tidak sempat membereskan kamarnya hingga pulang sekolah atau bahkan seharian dibiarkan berantakan.
Dengan jurus kilat andalan Reynald, berlari keluar dari kamarnya. Kurang 10 menit lagi ia harus sampai ke sekolah. Baju yang ia keluarkan, dasi di ikat sembarangan di lehernya. Rambutnya yang sedikit berantakan, walaupun begitu ketampanan seorang Reynald masih hinggap di dirinya. Hingga ia melewatkan jadwal sarapan dirumah, lalu ia memutuskan untuk sarapan saja nanti di kantin sekolah bersama teman-temannya.
Tak lama kemudian ia menuju teras dimana sepeda motornya berada, suara deruman motornya menggema di depan rumah dan dengan gaya racingnya ia lajukan sepedanya keramaian jalanan ibukota di pagi hari.
***
"Al, upacara udah mau mulai nih. Kita balik ke dalam aja yok!" ajak seseorang yang diketahui teman se organisasinya, wakil ketua osis SMA Gelora Bangsa warna bola mata yang coklat terang, warna rambut kecokelatan, warna kulitnya seperti susu dan parasnya hampir seperti oppa-oppa korea.
"Lo, balik dulu deh, gue masih ngawasin anak-anak yang terlambat." Ucap Alya kepada Denish – wakil ketua osis di sekolah Gelora Bangsa, wakil ketua dari geng Aster juga.
"Kan ada guru ketertiban, udah ditangani sama beliau," kata Denish sembari menatap Alya dari samping, yang di tatap masih melihat anak-anak yang mulai berdatangan ada yang berlari karena terlambat ada juga yang berjalan dengan santai.
"Gapapa deh, lo duluan aja, habis ini ke lapangan kok, gue mau bantu beliau sekalian, sama gue mau kasih hukuman sama anak yang udah langganan di buku hukuman," terang Alya meyakinkan Denish.
"Yaudah deh, gue masuk dulu ya," kemudian lelaki itu berjalan masuk ke arah lapangan yang kini ramai oleh anak-anak yang hendak melaksanakan upacara di hari senin biasanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alya Mission
Teen FictionAlya Faresha Alexander. Perempuan yang kerap disapa Alya seorang Ketua Osis SMA Gelora Bangsa, memiliki misi untuk membongkar kejahatan orang-orang yang terlibat di perusahaan milik keluarga Alexander dan berusaha sembuh dari amnesia jangka pendek y...
