12. Istirahatnya sang pengudara

12 6 10
                                        

"Tidak semua orang mengerti cara memanusiakan manusia."

****
..........













Langkah demi langkah telah mereka jejakkan pada tebing curam itu. Menyita banyak pikiran untuk terus berpikir jernih agar tetap hidup. Tak menerima sedikit kesalahan, atau bahkan mundur perlahan. Ini tentang sebuah perjalanan yang harus dituntaskan. Demi sebuah penderitaan yang merampas banyak jiwa di sebuah sudut bumi yang haus akan kekuasaan.

Satu persatu dari mereka telah berhasil melewati jurang itu. Melompat dengan pasti dan kembali berlari lagi untuk mencari jalan keluar dari Pulau keji penuh emosi.

"Sebentar, aku rasa aku belum siap. Kau duluan," menyisakan seorang perempuan dengan tiga laki-laki yang setia menunggu giliran.

Gempa melihat Jiren sedikit gugup, maka ia memilih untuk mengabulkan permintaan Jiren.

"Tunggu, Gem. Setelah kau sampai ke sana. Bawalah anak-anak untuk berjalan terlebih dulu, aku khawatir jika Ghanser tiba-tiba datang." Aglar meminta Gempa untuk mengajak teman-temannya yang sudah ada di seberang agar berjalan lebih dulu. Agar jika tiba-tiba Ghanser datang, mereka bisa menyiasatinya dengan tidak bergerombol. Karena berbahaya jika Derios menggunakan kekuasaannya dengan semena-mena.

Perjalanan ini bertaruh nyawa, Aglar tidak ingin meleset sedikit saja hingga membuat teman-temannya celaka.

"Kau yakin?" Aglar hanya mengangguk menjawab pertanyaan Gempa.

"Aku, Jiren dan Rayn akan segera menyusul. Pergilah," kata Aglar meyakinkan. Tak berselang lama, Gempa pun melempoti jurang itu dengan mudah.

Aglar, Rayn dan Jiren melihat Gempa yang mendarat dengan selamat, begitupun dengan ekspresi lega Javas, Ettan, Prisah dan Galen yang terlebih dulu sampai. Pemuda itu nampak memberi kode pada Aglar, Rayn dan Jiren untuk mereka memulai berjalan terlebih dulu, sempat mendapat protes dari Javas, namun akhirnya ia menurut perintah Gempa untuk berjalan duluan karena ini permintaan Aglar dan segala perhitungan yang telah dipertimbangkan ujarnya.

Sontak Aglar dan Jiren membalas dengan acungan jempol, namun tidak dengan Rayn. Ia masih terdiam di sana, berdiri menunduk dengan tangan terkepal penuh keringat.

"Kau gugup?" Jiren melihat Rayn yang nampak sangat gelisah.

“Sedikit,” Rayn menengok ke arah Jiren. “Aku hanya mencoba mentralkan rasa takutku.”

Jiren mengerutkan kening. “Seorang Pilot handal sepertimu memiliki ketakutan pada ketinggian?”

“Sejujurnya, menjadi seorang Pilot adalah salah satu cara agar phobia ketinggianku dapat sembuh. Kira-kira begitulah impianku saat kecil,”

“dan sekarang kau dapat memuwujudkannya, walau lewat Ghanser.” Ucap Jiren tersenyum tipis.

Rayn tertawa kecil karena itu. “Miris bukan, aku sangat senang bisa benar-benar menjadi Pilot. Tapi disisi lain, aku harus terperangkap di markas gerbong Mafia itu.”

“Setiap kejadian pasti ada hikmahnya, begitulah kata orang-orang,” Jiren berbicara tanpa menatap Rayn. “dan bisa sampai di titik ini, kau sudah sangat hebat.” Ia lalu melirik pemuda itu yang menatapnya diam.

“Benar!” Sahut Aglar yang sedari tadi mendengarkan obrolan Jiren dan Rayn. “ Menerbangkan helikopter atau pesawat jet bukan hal yang mudah. Kau dapat melakukannya dengan baik,” sambungnya, berjalan mendekat.

“Aku jadi tak sabar untuk segera sampai ke Indonesia, bertemu keluargaku dan menceritakan pada mereka kalau aku telah berhasil menjadi pilot.” Ujar Rayn tersenyum lebar membayangkan hal itu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 22, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SIONTERCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang