"Manusia itu egois, bisa menikmati keindahan parasnya saja sudah beruntung, tetapi ia masih saja berharap dapat memilikinya"
|Adhan|
Pagi yang begitu damai tentram dan bahagia, nyaris sempura, hingga manusia berjiwa setan bernama Alfaaro Pradhan Saputra muncul, membawa badai dalam wujud senyum tengilnya.
"Gue nggak mau kasih jawaban sama lu," tegas Ainna bulat dan taat pendirian.
"Please lah, cuman sekarang aja, besok nggak lagi," ucap Adhan memohon dengan wajah yang telah disetting agar Ainna luluh dengan ucapannya.
Ainna memutar matanya malas, dia sudah hafal dengan janji anak itu, bukan janji setia untuk hidup bersama selamanya. Tetapi janji agar tidak meminta jawaban tugas.
Jujur saja, jika Adhan bilang "Aku janji setia untuk hidup bersama selamanya."
Ainna akan tidak sengan untuk melempar Adhan dari lantai atas gedung sekolah tanpa berpikir waktu yang lama.
Jika anda berpikir Ainna akan tidak sengan untuk tersipu malu, ia memang tersipu malu, tetapi Ainna definisi mementingkan gengsi, jadilah Ainna yang selalu tertutup jika sedang salting.
"Lo bilang jinji dih bisik ngik minti ligi."
"Gue nggak percaya, pembicaraan lo semuanya hanya omong kosong belaka."
"Eng--"
"Mau bilang enggak?" potong Ainna.
"Katanya, janji nggak begadang."
"Janji setiap hari makan minimal 2 kali."
"Terus, janji enggak bikin masalah sama kakak kelas."
"Terus, katanya janji enggak mau MANCING EMOSI GUE?" Ainna berucap dengan menekan kata di kalimat terakhir, karena yang paling sering ia ingkari hanya itu.
Adhan menelan ludahnya dengan susah payah, sepertinya dia tidak selamat untuk hari ini. Jika dia mengadu ke Bundanya bukan dia yang di bela tetapi malah mendukung Ainna.
Kadang dia bertanya sebenarnya dia anak Bunda Deeva atau bukan, dan disaat Adhan pergi kerumah Ainna yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumahnya, dia akan disambut layaknya sang raja oleh Tante Kila, atau bisa dipanggil Bunda Kila.
"Baru PMS ya Ai?" tanya Adhan.
"Ngalihin topik?" tanya balik Ainna dengan wajah yang siap menerkam mangsanya.
"Berarti baru laper," guman Adhan pelan.
"Iya laper mau makan lo mentah-mentah," geram Ainna.
Qei yang baru masuk kelas hanya bisa menggeleng melihat dua manusia yang lagi-lagi ribut sejak pagi.
Qei hanya penasaran "Apakah dua anak itu tidak bosen dengan pertengkaran ini?"
Yaa sepertinya tidak akan bosan karena kehidupan sudah seperti layaknya Tom end Jerry. Setiap hari ribut dan keesokan harinya ribut kembali.
"Ai jan marah-marah mulu, gue takut lo khilaf malah suka sama Adhan kan lo yang repot," ucap Qei sambil berjalan menuju bangku yang letaknya dibelakang bangku Ainna.
"Yaa pesona saya kan sangat menakjubkan." sombong Adhan sambil bergaya layaknya model, sepertinya situasi sekarang sudah berbaik hati sama Adhan.
"Gue suka sama lo? mimpi kali!" jawab Ainna sambil mendorong badan Adhan agar menjauh dari bangkunya dengan wajah sinis andalannya.
Ah, andai saja semudah itu, tak menyukainya. Sayangnya, ada perasaan yang bahkan Ainna sendiri tidak sadar kapan mulai tumbuh.
*****
"Huft akhirnya jadi juga," ucap Ainna memandang sebuah tumpukkan stik es krim yang ditumpuk bagaikan menara tinggi yang menjulang.
Bukan tugas, sebenarnya. Saat mencari uang di dalam tas, Ainna menemukan sisa stik es krim bekas proyek membuat rumah. Daripada menganggur, ia menyusunnya menjadi menara kecil.
"Em... seharusnya tadi gue rekatin pakai lem biar nggak roboh."
"Eh kan roboh."
"Eeh... ADHAN TANGGUNG JAWAB!" teriak Ainna mendapati bahwa menara yang ia buat dengan jerih payah dirobohkan begitu saja tanpa rasa bersalah.
"Gue nggak hamilin lo."
"MATA LO HAMILIN, beresin stik es krim yang lo serakin astagfirullah," ucap Ainna dengan sangat tidak sabar tentunya. Yakali sabar ngedepin Adhan yang hobinya bikin anak orang darah tinggi.
"Ogaah."
Ok sekarang Ainna sudah diambang batas kesabaran. Ainna memungut stik eskrim satu persatu, jika menuggu Adhan untuk memungutnya sepertinya itu membutuhkan beberapa abad agar Adhan melakukannya.
"Ai tugas bahasa dah ngerjain?" tanya Qei.
"Emang ada?" tanya balik Ainna, masih dengan kegiatan yang sama fokus memungut stik eskrim yang berserakan.
"Keknya sih ada, gue tanya lo buat mastiin."
"Coba itu cari di buku tugas ada nggak."
Qei pun segera mengambil buku tugas Ainna dan segara mencari tugas bahasa.
"Nggak ada Ai," ucap Qei sambil mengembalikan buku ke tempat semula.
"Berarti emang nggak ada, eh Qei lihat itu curut nggak?" tanya Ainna sambil celingukan mencari keberadaan Adhan.
"Di kantin keknya," jawab Qei.
"Ok makasih." respon Ainna, dan segera pergi menuju ke kantin.
Disepanjang koridor banyak yang menyapa Ainna dari adek kelas, satu angkatan dan kakak kelas.
Memang Ainna ramah kesiapa saja, kecuali sama Adhan, di sekolah dia tidak punya musuh. Walau ada pengecualian jika ada manusia yang memiliki sifat semena-mena dan sok berkuasa, baru dia akan mengecap manusia tersebut itu menjadi musuhnya.
"Eh Ainna cari Adhan kan?" tanya Agha.
"Mana anaknya?"
"Itu baru pesen Mie ayam." tunjuk Agha.
"Ok siip makasii informasinya."
Beberapa menit kemudian, koridor sekolah mulai dipenuhi siswa yang hendak menuju kantin. Suara obrolan bercampur tawa memenuhi setiap sudut sekolah.
Ainna mempercepat langkahnya. Hari ini dendamnya kepada Adhan masih belum selesai. Walau, dendam untuk Adhan kemungkinan tak akan selesai.
"Mbok pesen mie ayam 1" ucap Ainna sambil berdiri di samping gerobak, dengan sesekali melirik Adhan dengan pura-pura tidak mengenalinya.
"Napa lo lihat-lihat?" sinis Ainna, sambil mengibaskan Rambutnya bak seorang putri.
"Ih... pede kali, gue lihat mbok ijem buat mie ayamnya, yakali lihat lo. Dih... najis."
"Halah alesan. Baru sadar ya lo kalau gue cantik bagaikan bunga mawar yang mekarr."
"Halah, mawar-mawar apaan? Bunga bangkai yang ada," jawab Adhan tanpa ragu.
"Lo tu yang bunga bangkai," kesal Ainna mendengar jawaban Adhan yang sedikit menyentil ego miliknya.
Mbok Ijem hanya dapat tersenyum tipis. Mendengar mereka berdua berdebat sudah menjadi rutinitasnya.
"Neng, ini mie ayamnya," ucap Mbok ijem sambil menyodorkan mangkuk bergambar ayam jago.
"Makasi mbok, uangnya nanti mbok sambil balikin mangkoknya," ucap Ainna pergi meniggalkan tempat Mbok Ijem berjualan.
"Jangan percaya mbok, itu anak suka ngibul," ucap Adhan sambil menunjuk Ainna yang sudah berjalan menuju kemeja kantin.
"Gue masih denger, gue kira gue nggak denger," ketus Ainna.
Mbok ijem hanya melihat interaksi adu mulut antara Ainna dengan Adhan tanpa ikut campur di dalamnya, ya mbok Ijem sudah sangat tahan dengan kelakuan dua manusia itu yang selalu debat di mana saja.
"Bentar, gue punya firasat nggak enak deh."
"Biarlah cuman firasat juga."
Alina 🦁
07-Feb-2022
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
Zone? 🔚 [Proses Revisi]
RomansaKisah yang selalu diperumit oleh dua sejoli, antara Alainna Hana Angelica dan Alfaaro Pradhan Saputra. Friendzone Enemyzone Neighborzone Lengkap sudah gelar yang dua sejoli itu dapatkan. ================================= "Jika ada yang lebih darim...
![Zone? 🔚 [Proses Revisi]](https://img.wattpad.com/cover/294626396-64-k715654.jpg)