Raine Zevannya, penulis fiksi remaja dengan nama pena @tulisansemesta tidak pernah berharap apa yang ia tulis menjadi sebuah kenyataan. Hidupnya sudah menyedihkan sedari kecil bak Cinderella, memiliki ibu tiri kejam yang tega meninggalkannya dengan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bab Satu — Falling In Love With Someone You Can Never Be With
----
Matematika di jam pelajaran pertama di hari senin seperti paket komplit untuk mengumpat dengan keras dalam hati. Apalagi bila ada ulangan mendadak. Rasanya seperti ingin mengubur diri hidup-hidup. Mungkin akan bersyukur jika bisa mengerjakan tanpa mengeluh, atau paling tidak mendapatkan jawaban gratis dari teman yang dianggap pintar.
Itu kalau dapat, kalau tidak? Ya, pasrah.
Hal-hal yang paling sering dilakukan saat ulangan berlangsung juga sangat repetitif bagi sebagian murid. Tengok kanan-kiri, bersiul pelan seraya memberi sandi tangan, kode-kodean jawaban, dan meraba kolong meja berharap bisa melihat contoh rumus. Itu juga kalau sempat, karena biasanya terlalu sibuk melihat rentetan angka dan baru mengerjakan beberapa soal yang mudah, guru di depan sudah berteriak minta lembar jawaban untuk segera dikumpul.
Bisa ditebak apa kelanjutannya? Ya, remedial. Dengan berpuluh-puluh butir soal yang beranak-pinak. Yang terlihat sepuluh butir soal, tapi yang dikerjakan bisa sampai dua puluh lima soal. Terkadang remedial pun terlihat menakutkan karena bisa dipastikan tidak bisa mencontek karena berkurangnya teman yang pintar untuk dimintai jawaban gratis.
Hal tersebut juga dilakukan oleh perempuan dengan rambut bergelombang dan berwarna cokelat. Rambut lurus dan hitam legamnya telah diubah kemarin sore. Perempuan dengan label nama Raine Zevannya di seragamnya tersebut memutuskan untuk mengubah penampilan rambutnya. Meski berakhir dengan ditegur oleh guru BK tadi pagi ketika nggak sengaja berpapasan di koridor bawah, Raine sama sekali nggak menyesal atas keputusannya tersebut.
Bu Novita melewati meja Raine yang tengah menelungkupkan kepalanya dengan berbantalkan lengan kanan dan dengan begitu saja menarik lembar jawaban yang terletak di atas meja. Raine nggak bereaksi, seolah membiarkan kertas yang seratus persen hanya berisi soal tanpa adanya jawaban bertuliskan tangannya. Raine pasrah begitu saja karena memang nggak ada lagi yang bisa dilakukan, mencontek pun nggak ada gunanya jika itu mata pelajarannya bu Novita. Akan sia-sia jika ulangan dengan Bu Novita, jangankan mencontek, bernapas saja akan akan susah kalau kata Juleha—perempuan berkulit eksotis dari Ambon meskipun dari namanya orang akan mengira jika Juleha berdarah asli Betawi.
Lalu setelah bu Novita selesai menarik paksa semua lembar jawaban anak-anak dan pergi dari kelas dengan tumpukan buku yang baru saja dibawa oleh Fajar si ketua kelas, laki-laki berambut cepak pun duduk di sebelah Raine dan sibuk mengeluh.
"Anjirlah! Kenapa juga kita dipindahin kalau otak kita berdua sama-sama nggak mumpuni, Ren."
"Biar kita nggak buat keributan kali, Gem," sahut Raine sekenanya. Meski sebetulnya Raine juga bingung faedah apa yang didapatkan oleh bu Novita dengan memindahkan posisi duduk Gema dengan dirinya, padahal keduanya sama-sama nggak memiliki kadar kecerdasan diatas rata-rata.